Kutacane ,Teropong Barat — Proyek revitalisasi SD Negeri Lawe Bekung, Kecamatan Lawe Bekung, Kabupaten Aceh Tenggara senilai Rp411 juta disorot publik setelah beredar laporan media yang menyebut para pekerja di proyek tersebut tidak menggunakan alat pelindung diri (APD). Isu ini menjadi viral setelah diangkat oleh sejumlah media online dan menyebar luas di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SDN Lawe Bekung, Jus — selaku penanggung jawab kegiatan — memberikan klarifikasinya kepada wartawan, Minggu (28/9/2025). Ia membantah tudingan bahwa proyek dikerjakan tanpa perlengkapan keselamatan. Menurutnya, seluruh APD seperti helm, rompi, dan sepatu safety telah disediakan di lokasi, namun para pekerja enggan menggunakannya karena tidak terbiasa.
“Perlengkapan keselamatan lengkap tersedia. Tapi memang para pekerja merasa risih. Mereka tidak terbiasa pakai sepatu proyek, bahkan ada yang mengaku takut justru jatuh saat dipakai,” kata Jus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, foto-foto keberadaan APD di lokasi proyek juga dapat ditunjukkan sebagai bukti bahwa pihak sekolah tidak lalai dalam aspek keselamatan kerja.
Laporan media sebelumnya menyebut bahwa tidak digunakannya APD oleh para pekerja menjadi perhatian, mengingat hal tersebut menyalahi standar pelaksanaan proyek pemerintah, terlebih yang bersumber dari dana pusat. Sorotan itu juga dituding digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk membentuk opini publik secara sepihak.
Direktur LSM Green Mountain Aceh Tenggara, Sadikin SH menanggapi isu ini dengan meminta seluruh pihak, terutama media, untuk menjaga prinsip keberimbangan dalam menyampaikan informasi kepada publik. Ia mengingatkan agar jurnalis tetap mengedepankan etika profesi dalam menjalankan fungsi sosial kontrol.
“Pers itu bukan hakim, jaksa, atau polisi. Pers harus menjunjung prinsip cover both sides dan tidak emosional dalam menyampaikan berita. Cek dan ricek itu kunci,” ujarnya.
Sadikin juga menyoroti fenomena meningkatnya jumlah jurnalis dari kalangan LSM di Aceh Tenggara. Menurutnya, ada baiknya semua pihak memahami kembali ruang kerja masing-masing, agar fungsi sosial kontrol tidak disalahgunakan.
Sementara itu, Kepala SDN Lawe Bekung menjelaskan bahwa revitalisasi sekolah yang sedang dilaksanakan merupakan bagian dari lima proyek serupa yang dikerjakan langsung oleh kepala sekolah secara swakelola dengan anggaran dari pemerintah pusat. Ia menyebut bahwa hingga kini pendanaan proyek belum sepenuhnya cair, meski progres pekerjaan telah mencapai sekitar 75 persen.
“Sejak tahap awal, kami menggunakan dana pribadi. Proyek ini masih ditangani dengan modal pinjaman untuk biaya administrasi dan pelaksanaan awal. Sampai sekarang dana dari pusat belum kami terima, tapi proyek sudah kami kerjakan semaksimal mungkin,” ujarnya dengan nada sedih.
Selain soal teknis proyek, Jus juga menyinggung adanya tekanan dari sejumlah oknum wartawan yang meminta sejumlah uang dalam bentuk ‘tali asih’. Ia mengaku telah mengeluarkan dana pribadi hingga Rp800.000 untuk menjaga hubungan baik dengan para jurnalis di lapangan.
“Beberapa orang minta Rp100 ribuan, saya berikan semampu saya. Tapi kemudian ada yang minta sampai Rp5 juta. Bagaimana saya bisa kasih? Waktu itu uang di tangan saya cuma Rp2 ribu, habis dipakai beli kopi buat tukang,” katanya.
Jus mengatakan bahwa jika masih dalam batas kemampuan, ia bersedia memberikan bantuan secara pribadi, meski dana tersebut bukan bagian dari anggaran proyek. Namun jika tuntutan sudah tak wajar, ia memilih untuk menolak karena harus mengutamakan kelangsungan pekerjaan.
“Saya bukan tidak mau bantu, tapi uang yang ada kami prioritaskan untuk kelangsungan pekerjaan. Kalau proyek ini gagal selesai, anak-anak sekolah juga yang nanti kena dampaknya,” imbuhnya.
Jus berharap seluruh pihak dapat duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin. Ia meyakini bahwa kesalahan persepsi bisa diklarifikasi, apalagi proyek ini bertujuan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan di daerahnya yang tergolong tertinggal.
“Kami hanya ingin sekolah ini lebih layak. Semoga tidak ada lagi isu-isu yang justru menyudutkan niat baik kami sebagai kepala sekolah,” tutupnya. (*)






















