Kutacane, TeropongBarat.com — Masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara diguncang oleh tragedi berdarah yang terjadi di Desa Uning Segugur, Kecamatan Babul Rahmah, pada Senin (16/6/2025) sekitar pukul 14.00 WIB. Seorang pria berinisial AP (35), yang diduga mengalami gangguan kejiwaan, melakukan pembacokan brutal terhadap warga, menyebabkan lima orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka serius.
Peristiwa tragis itu sontak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Menurut informasi dari pihak berwenang, pelaku datang secara tiba-tiba ke permukiman warga sambil membawa sebilah parang. Tanpa alasan yang jelas, pelaku langsung menyerang warga yang ditemuinya, termasuk anak-anak dan lansia, hingga menyebabkan korban berjatuhan bersimbah darah di lokasi kejadian.
Berdasarkan data sementara yang diperoleh dari kepolisian dan pihak rumah sakit, korban tewas terdiri dari Nayan (50), Elvi (16), Laura (13), Fajri (2), dan Dayat (26), seluruhnya warga Desa Uning Segugur. Sementara dua korban luka yang kini dirawat intensif di RSUD H. Sahudin Kutacane adalah Matiah (51) dan satu korban lainnya yang belum disebutkan namanya secara resmi oleh pihak kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tragedi berdarah tersebut langsung direspons cepat oleh Bupati Aceh Tenggara H. M. Salim Fakhry, yang didampingi Kapolres Aceh Tenggara dan Dandim setempat. Ketiganya langsung mengunjungi lokasi kejadian dan rumah para korban. Mereka juga menjenguk korban selamat yang sedang dirawat di rumah sakit. Bupati menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas peristiwa ini, sekaligus menyerukan kepada seluruh warga agar tetap tenang dan tidak melakukan tindakan balasan.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami sangat berduka atas peristiwa yang menghilangkan lima nyawa warga kita. Kami minta masyarakat tetap waspada, dan percayakan kepada pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku,” ujar Salim Fakhry kepada wartawan di lokasi kejadian.
Hingga berita ini diturunkan, pelaku AP masih dalam pengejaran pihak kepolisian. Berdasarkan keterangan warga, pelaku sempat terlihat melarikan diri ke arah perkebunan di kawasan perbukitan sekitar desa setelah melakukan aksinya. Kapolres Aceh Tenggara telah menerjunkan personel gabungan dari Polres, Polsek, dan dibantu TNI serta masyarakat untuk menyisir wilayah tersebut. Namun, karena medan yang cukup sulit dan tertutup hutan, pencarian masih berlangsung hingga malam hari.
Pelaku dikenal sebagai warga Desa Alur Langsat, Kecamatan Tanoh Alas, dan menurut beberapa saksi mata memang pernah menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan. Namun demikian, motif pasti masih didalami oleh penyidik.
Pasca kejadian, warga Desa Uning Segugur dilanda trauma mendalam. Suasana desa berubah mencekam. Beberapa warga bahkan memilih mengungsi ke rumah kerabat di desa tetangga karena takut pelaku kembali datang. “Ini kejadian luar biasa. Kami tidak menyangka ada orang yang bisa berbuat sekejam itu, apalagi sampai membunuh anak-anak,” ujar Maimunah, seorang ibu rumah tangga yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian.
Warga berharap pelaku segera ditangkap agar rasa aman bisa kembali pulih. Beberapa keluarga korban juga menyatakan akan melaporkan kejadian ini secara hukum agar ada proses pidana yang jelas.
Kejadian ini juga memunculkan desakan kepada Pemkab Aceh Tenggara untuk melakukan pendataan dan penanganan serius terhadap warga yang mengalami gangguan kejiwaan (ODGJ). Beberapa aktivis sosial menyebut bahwa keberadaan ODGJ yang tidak ditangani bisa menjadi bom waktu bagi masyarakat.
“Tragedi ini adalah alarm keras bahwa pemerintah harus turun tangan. Jangan biarkan ODGJ berkeliaran tanpa pengawasan,” ujar Zulfikar, pegiat sosial Aceh Tenggara.
Peristiwa di Desa Uning Segugur ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga peringatan serius bagi semua pihak. Stabilitas dan keamanan warga desa sangat rentan jika tidak ada sistem perlindungan sosial yang kuat. Bupati, Kapolres, dan TNI telah menunjukkan respons cepat. Kini publik menanti satu hal: pelaku segera ditangkap, dan keadilan ditegakkan.
(Sadikin)