
Oponi-Teropongbarat.com||Sebagai seorang akademisi di bidang ilmu pemerintahan, saya sering merenungkan bagaimana sebuah negara mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya terkait isu lingkungan. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika sosial, ada satu persoalan yang tidak pernah selesai dibahas dan justru semakin mendesak yaitu soal sampah plastik. Persoalan ini bersifat terus-menerus, lintas generasi, dan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ekologis maupun kesehatan manusia. Hal ini terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi juga menjadi ancaman seluruh dunia mengingat sampah yang berasal dari plastik memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa melebur. Plastik yang kita gunakan hari ini mungkin memberi kenyamanan sesaat, tetapi dampaknya terhadap bumi bertahan puluhan hingga ratusan tahun.
Indonesia sendiri termasuk salah satu negara dengan jumlah sampah plastik terbesar dunia. Sementara kemampuan pengelolaannya masih terbatas, pola konsumsi kita terus bergerak menuju instan, cepat, dan praktis. Setiap hari, plastik sekali pakai diambil untuk digunakan sebentar lalu dibuang. Padahal plastik tersebut tidak pernah benar-benar hilang. Ia terbawa angin, terseret air, masuk ke sungai, bermuara ke laut, dan akhirnya kembali ke tubuh kita sebagai mikroplastik. Persoalan ini bukan lagi sekadar isu kebersihan, tetapi sudah menjadi isu kesehatan publik yang membutuhkan perhatian serius.
Namun perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau intervensi struktural. Banyak perubahan justru dimulai dari tindakan kecil yang bisa dilakukan setiap orang. Membawa tumblr saat bekerja atau mengajar, misalnya, mampu mengurangi satu gelas plastik setiap harinya. Jika kebiasaan ini dilakukan oleh jutaan orang, jumlah sampah yang terhindarkan akan sangat besar. Begitu juga dengan membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja. Satu tas kain dapat menggantikan ratusan kantong plastik setahun, melatih kesadaran kita untuk menjadi konsumen yang lebih bertanggung jawab. Bahkan dalam pilihan gaya hidup, kita bisa memilih produk seperti pakaian, sepatu, dan perlengkapan lain yang terbuat dari bahan ramah lingkungan atau hasil daur ulang. Seleksi kecil ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membantu mengurangi tekanan terhadap industri fast fashion yang dikenal sebagai penyumbang limbah besar di dunia.
Jika ditinjau dari perspektif pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), langkah kecil yang tampak sederhana ini sesungguhnya berkontribusi pada pencapaian tujuan global. SDGs tidak hanya menargetkan negara dan lembaga, tetapi juga mengajak setiap individu sebagai bagian dari warga global untuk terlibat. Pengurangan penggunaan plastik adalah bagian dari Tujuan 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, Tujuan 13 tentang aksi terhadap perubahan iklim, serta berkaitan erat dengan Tujuan 14 dan 15 yang menyoroti pentingnya menjaga ekosistem laut dan darat. Dengan kata lain, tindakan kecil yang kita lakukan setiap hari sebenarnya adalah bentuk partisipasi nyata dalam upaya menjaga keberlanjutan bumi.
Namun inti dari semua ini adalah kesadaran. Kesadaran menjadi modal sosial yang sangat penting. Pemerintah dapat membuat regulasi, menjalankan kampanye, dan menyediakan fasilitas, tetapi tanpa kesadaran individu, perubahan perilaku akan berjalan lambat. Dalam konteks komunikasi pemerintahan yang saya ajarkan, pembentukan perilaku masyarakat tidak bisa hanya dilakukan melalui pendekatan instruktif, tetapi perlu menghadirkan narasi, edukasi, dan keteladanan. Sebagai dosen, kita tidak hanya menyampaikan teori di kelas, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menanamkan nilai dan memperlihatkan praktik baik melalui tindakan kita sendiri. Membawa tumblr, memilih tidak mengambil kantong plastik, atau mengenakan produk ramah lingkungan adalah bentuk kecil dari keteladanan itu.
Kesadaran lingkungan memang tidak muncul seketika. Ia tumbuh pelan-pelan melalui informasi yang benar, kebiasaan yang dibangun, dan pilihan yang dilakukan secara konsisten. Namun justru tindakan kecil itulah yang kemudian menggerakkan perubahan besar dalam jangka panjang. Bumi tidak meminta kita melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi meminta kita melakukan sesuatu yang sederhana, berkelanjutan, dan penuh kepedulian. Sampah akan selalu menjadi persoalan yang tidak pernah tuntas jika kita tidak mengubah cara hidup. Karena itu, penting untuk memulai dari diri sendiri, dari hal yang paling mudah, dari satu tas belanja yang kita bawa hari ini, dari satu keputusan kecil untuk tidak menggunakan plastik ketika tidak diperlukan.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan sekadar tugas pemerintah atau lembaga internasional, melainkan tanggung jawab bersama. Dan masa depan bumi sesungguhnya sedang ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang kita buat hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT






















