Oleh .M Alfi Syahrin Ketua HMI Cabang Langkat Periode 2025-2026
LANGKAT,Teropong Barat.com | Tujuh puluh sembilan tahun lalu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir dari kegelisahan intelektual dan tanggung jawab keumatan. Ia tidak sekadar hadir sebagai organisasi mahasiswa, tetapi sebagai gerakan moral, gerakan pemikiran, dan gerakan perjuangan yang berpijak pada nilai keislaman dan keindonesiaan. Di usia yang ke-79 ini, HMI kembali dihadapkan pada pertanyaan penting: masihkah kita setia pada cita-cita awal perjuangan?
Milad ke-79 bukan hanya momentum seremoni. Ini adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah—melihat sejauh mana HMI tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. Dunia berubah cepat. Disrupsi teknologi, krisis moral, ketimpangan sosial, hingga tantangan kebangsaan menuntut kader HMI untuk tidak sekadar hadir, tetapi menjadi pelopor solusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
HMI sejak awal berdiri memegang dua komitmen besar: keislaman dan keindonesiaan. Nilai keislaman membentuk karakter kader yang berakhlak, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial. Sementara nilai keindonesiaan menegaskan bahwa kader HMI harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kemajuan bangsa. Kombinasi dua nilai inilah yang menjadikan HMI tetap kokoh melintasi berbagai zaman dan dinamika politik nasional.
Sebagai organisasi kader, kekuatan utama HMI terletak pada kualitas manusianya. Tantangan hari ini bukan hanya tentang seberapa banyak kader yang direkrut, tetapi seberapa kuat karakter, kapasitas intelektual, dan sensitivitas sosial yang dibangun.
Kader HMI harus menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Ini bukan sekadar slogan, tetapi arah perjuangan yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Milad ke-79 ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan HMI tidak pernah mudah. Sejarah mencatat, HMI pernah menghadapi tekanan, pembubaran, hingga upaya pelemahan. Namun, HMI tetap bertahan karena fondasinya adalah nilai dan kaderisasi. Maka tugas kita hari ini adalah memastikan kaderisasi tetap menjadi jantung organisasi—bukan sekadar formalitas, tetapi proses pembentukan pemimpin masa depan umat dan bangsa.
Kita juga harus menyadari bahwa tantangan kader HMI ke depan semakin kompleks. Era digital membawa peluang sekaligus ancaman. Arus informasi yang deras dapat mencerdaskan, tetapi juga menyesatkan. Di sinilah kader HMI harus tampil sebagai agen literasi, penyebar narasi kebaikan, dan penjaga akal sehat publik. Media sosial harus menjadi ruang dakwah intelektual, bukan arena konflik tanpa arah.
Milad ini mengajak kita untuk kembali menyalakan api perjuangan. Jangan sampai kader HMI kehilangan ruh perjuangan karena pragmatisme sesaat. Jabatan, kekuasaan, dan popularitas bukan tujuan akhir. Semua itu hanyalah alat untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas, HMI harus tetap menjadi rumah perjuangan diusianya yang tak lagi muda.
Akhirnya, di usia ke-79 ini, mari kita teguhkan kembali komitmen: menjaga nilai, menguatkan kaderisasi, dan memperluas pengabdian. HMI harus terus relevan, adaptif, dan progresif tanpa kehilangan jati dirinya. Dari Langkat, kita kirimkan pesan bahwa kader HMI siap menjadi bagian dari solusi, bukan penonton sejarah.
Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam ke-79.
Yakin Usaha Sampai.

















































