Minggu, 7 Desember 2025. Sekolah Adat Koto Payung Semurup Tinggi kembali melakukan napak tilas sejarah, kali ini mengunjungi Komplek Makam Raja-Raja Inderapura yang diyakini memiliki hubungan kuat dengan Kerinci, khususnya Tanah Samurut melalui figur Kyai Depati Raja Simpan Bumi dan Leluhur lainnya di Tanah Semurut yang memiliki Hubungan dengan Inderapura Seperti Gelar Sigumi Putih Tanah Napuro, Depati Semurup Putih (Tanah Napuro) dan Leluhur lainnya. Kunjungan ini menjadi momen penting untuk menggali kembali nilai-nilai budaya, sejarah, serta jejak penyebaran Islam di wilayah Inderapura dan Kerinci.
Rombongan berangkat setelah sebelumnya menziarahi Rumah Gadang Mande Rubiah di Lunang. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju makam Tuanku Berdarah Putih Inderapura. Namun karena kondisi jalan yang licin dan jembatan yang sulit dilalui akibat hujan, rombongan memilih mengalihkan rute dengan menziarahi Makam Komplek Raja-Raja Inderapura dan punggawa-punggawa kerajaan Inderapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam suasana hening, rombongan menelusuri satu per satu pusara leluhur tersebut. Kompleks makam yang terletak di Kecamatan Pancung Soal, Pesisir Selatan, ini merupakan salah satu situs penting penyebaran awal Islam di pesisir Sumatera. Nisan-nisannya bercorak Islam tipe Aceh, ciri khas makam-makam bangsawan pesisir pada masa kejayaan Kerajaan Inderapura. Situs ini kini dikelola oleh Kaum Rangkayo Rajo Melayu dan menjadi lokasi ziarah serta pusat warisan budaya yang terus dijaga dengan baik.
Jejak Kerajaan Inderapura dan Kedekatannya dengan Kerinci
Kerajaan Inderapura diyakini berdiri sejak abad ke-9 M oleh Raja Muhammadsyah. Hingga abad ke-15 M, wilayah ini masih berstatus kerajaan sebelum kemudian berubah menjadi Kesultanan Indrapura pada abad ke-16 M, seiring kuatnya pengaruh Islam. Pada masa itu pula pusat pemerintahan dipindahkan dari Teluk Air Manis ke Muara Betung, dan nama Jayapura diganti menjadi Inderapura (Voorhoeve, 1942)
Hubungan Inderapura dan Kerinci telah tercatat dalam berbagai naskah kuno di Alam Kerinci. Salah satunya adalah Naskah Semurup, Surat dari Kesultanan Indrapura yang ditujukan kepada Raja Kiai Depati Simpan Bumi. 183. Surat bertulisan Melayu pada kertas. Lihat gambar No. 49
Kauluhu lhakk ta’ala
Alamat surat titah daripada Yang dipertuan Seri Sultan dalam Inderapura serta menteri yang dua puluh, barang disampaikan Allah subhanahu wata’ala kiranya kepada Depati yang batiga lawan pemangku dengan penggawa serta menteri yang selapan dalam tanah kurinci dalam negeri Semurut.
sebuah surat resmi berbahasa Melayu yang memuat hubungan dagang, politik, serta arahan langsung dari Yang Dipertuan Inderapura kepada para Depati di Semurut dan Kerinci. Surat tersebut menggambarkan dinamika hubungan erat antara kedua wilayah, termasuk perdagangan komoditas seperti emas, lilin, gading gajah, tali Kerinci, hingga kain-kain halus.
Selain itu, Naskah Mendapo Kemantan memuat kisah besar tentang sumpah setia antara Yang Dipertuan Berdarah Putih Inderapura dengan para pemimpin Kerinci: Raja Muda, Depati Rantau Telang, serta Pangeran Kebaru di Bukit. Sumpah tersebut dilakukan di Bukit Peninjau Laut, setelah Raja Berkilat—utusan Kerinci—membuka jalan dari Kerinci hingga ke Jayapura. Sumpah setia itu melahirkan hubungan persaudaraan dan politik yang sangat kuat antara kedua wilayah, menjadikan Kerinci sebagai tanah pertemuan raja antara Sultan Jambi dan Sultan Inderapura.
Dalam sumpah itu pula ditinggalkan beberapa pusaka penting di Kerinci, seperti rambut Yang Dipertuan Berdarah Putih, keris Malila Panikam Batu, dan mangkuk pengarang setio—sebagai tanda ikatan abadi antara Kerinci dan Inderapura.
Menghidupkan Kembali Nilai Sejarah dan Pendidikan Adat
Melalui napak tilas ini, Sekolah Adat Koto Payung Semurup Tinggi menegaskan pentingnya memahami kembali hubungan historis antara Kerinci dan Inderapura sebagai bahan pembelajaran bagi generasi penerus. Jejak perdagangan, diplomasi, penyebaran Islam, hingga sumpah setia dua kerajaan menjadi bukti bahwa Kerinci dan Inderapura memiliki keterikatan sejarah yang dalam dan berlapis.
Perwakilan sekolah adat menyampaikan bahwa situs-situs seperti makam raja, rumah adat, dan naskah kuno bukan hanya simbol masa lalu—melainkan sarana penting untuk pendidikan adat, wisata sejarah, serta penguatan identitas masyarakat.
Napak tilas ini diharapkan mampu membuka kembali kesadaran kolektif tentang sejarah panjang Kerinci dan Inderapura, serta menjadi pijakan untuk melestarikan warisan leluhur yang penuh nilai dan makna. Sekolah Adat Koto Payung Semurup Tinggi akan terus menjadikan kegiatan semacam ini bagian dari untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda secara langsung dari jejak-jejak peninggalannya.



















































