BANTAENG TEROPONG BARAT.CO, – Reuni akbar telah selesai, namun suasana batiniah setiap angkatan belum usai. Sejumlah alumni antusias mengikuti Reuni Akbar yang diikuti Ratusan peserta dari berbagai angkatan.
Tak terkecuali dengan Alumni Smada/Smapat angkatan 1995.
Meski reuni telah berlalu sudah seminggu, namun masih saja menjadi bilur-bilur rindu, saling mengirimi foto-foto, melengkapi satu sama lain, hingga pada keseruan selanjutnya dua malam berturut-turut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baharuddin salah satu alumni Ika Smada/Smpat angkatan 95 itu mengapresiasi kekompakan pihak panitia acara reuni perak tersebut, yang menurutnya sangat luar biasa.
”Luar biasa, salut untuk panitia yang sukses menyelenggarakan reuni ini,” katanya. Terlebih pada mereka diangkatan 95,” ucap Dhion. Jum’at (1/9) di hadapan awak media.
Menurutnya, Reuni Akbar ini merupakan ruang silaturrahmi, momentum bagai diktum. Ada haru yang tiada bisa terbendung. Namun semua telah terbawa dan berlalu. Bagai percakapan yang kemudian membuatku tertegun menikmati menyimak semua bincang dan berseliwerannya foto-foto hingga saat ini.
“gagal move on,”. Kata kakak Dhion sapaan akrabnya.
Dia mengungkapkan, antusias para peserta alumni dalam acara tersebut sangat luar biasa. Ada beberapa alumni yang sengaja datang dari luar kota agar dapat bertemu dengan semua sahabat semasa mengenakan putih abu-abu.
Lebih lanjut Kakak Dhion menuturkan Keseruan alumni angkatan 95 itu memiliki berbagai kisah. Seperti yang dialami Pakde Udin Nur yang sudah tiga periode di Desa La-Sua-sua Kolaka Utara, tengah malam mengabari di group tidak dapat tumpangan untuk ke Bantaeng di sudut terminal malengkeri.
Namun secara spontan, kata Kakan Dhion, Ihsan menggunakan segala jejaringnya menghubungi semua relasi sopirnya. Alhasil, Pakde bisa hadir melengkapi kebersamaan dan ikut seru-seruan bersama teman-teman. Dalam tugas dan tanggung jawabnya terbang dari sebuah pertemuan, menempuh jarak jauh, namun demi alumni mengarungi waktu dengan berusaha hadir besok di perayaan reuni akan dihelatkan.
Namun di balik keseruan dan kesuksesan, kemeriahan itu, mereka ada menjadi saksi, berproses menekuni hari demi hari waktu. Dengan segala perhatian demi suksesnya reuni khususnya di angkatan 95. Ada Cakra, ada ibu yuni, yang mengurus segala agenda dan keperluan angkatan, menyuguhkan kopi dan gorengan renyah, dibantu asistennya Jannah dan Murni.
Seraya tanpa melupakan teman yang lain mencoba menemukan karib seangkatan yang sekian lama kehilangan jejak dan kontak.
Di sisi lain beberapa teman selalu hadir mensupport, sampai pada membuat yel-yel dalam hal ini, ada Suzan dan Anti Husni saling melengkapi lirik dan kata. Ada Hera yang periang serta tawa renyah seorang Mira ada Rostina selalu memberi semangat. Tidak ketinggalan Asfa yang sekali panggil pasti otewe, juga Thalib dengan menggunakan waktunya yang penuh kesibukan melengkapi kebersamaan, serta Andri dan Andira. Juga kerap hadir melengkapi. Di tambah Nasir dengan seruput kopinya. Menyisakan waktunya demi kebersamaan.
Dan bikin seru, dan tak kalah lebih hebonya ketika Suryani Maratang menjadi leader, memimpin barisan dengan ciri khasnya. Menambah riuh bagai gemuruh nan riuh memecah dan mencairkan suasana.
Tak terlepas seorang pirang bernama Amran, begitu memahat jiwa yang lara, selalu hadir pula meski jaraknya jauh di kabupaten tetangga, hampir setiap hari menjadi pelengkap, pelipur yang luhur. Bersama sayuran dan langsatnya.
Dia menuturkan haru kelak reuni ini akan jauh lebih seru dan sulit untuk move on, ketika semua pertemuan ketika dipisahkan mungkin sewindu atau entah berapa lama itu terjadi dan terjalin kembali, tuturnya.
Dhion yang juga pegiat literasi dan budaya itu, menutup ceritanya bahwa kebersamaan itu penting, namun ketuntasaan seorang teman, karib atau sahabat sesama alumni adalah ketika saling menerima kekurangan serta perbedaan itu. Tanpa mengenal strata, tahta, harta. Tetapi menyatu dalam kekuatan untuk saling melengkapi di setiap ranah kehidupan, pungkasnya.
Sementara itu Andira yang juga alumni Ika Smada/Smapat angkatan 95 mengatakan meski reuni akbar telah berlalu, tentunya peran seorang Kabag keuangan pemerintah kabupaten Bantaeng diangkatan 95 Ahmad Yani, menjadi corong dan sebagai pemandu manajemen selama proses menuju reuni akbar itu.
Cukup membuat semua menjadi lebih terarah, tanpa basa basi, namun dengan aksi yang nyata ditambah dengan dedikasi dan refleksi semua bisa dirajut menjadi kekuatan, kebersamaan, penuh kekeluargaan, ucapnya singkat. (Opick)

















































