Opini-Teropongbarat.com||Pada tanggal 8 September 2025 Purbaya Yudhi Sadewa dilantik menjadi Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Ketika Presiden menunjuk sebagai Menteri Keuangan, muncul kegelisahan di tengah-tengah masyarakat. Baru beberapa hari setelah dilantik, gelombang demonstrasi kecil muncul di depan kantornya, menolak sejumlah kebijakan fiskal yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Padahal, saat itu ia bahkan belum sempat menata ruang kerja dan memulai arah kebijakannya. Ketika arus kritik datang deras, sebagian karena ketidakpercayaan, sebagian lagi karena gaya komunikasinya yang dianggap terlalu santai untuk ukuran pejabat tinggi. Namun seiring perjalanannya menjadi menteri yang baru beberapa bulan ini muncul persepsi masyarakat yang mulai berubah. Pak Pur (Purbaya Yudhi Sadewa) adalah alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), di mana ia meraih gelar sarjana di jurusan Teknik Elektro. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat, tepatnya di Purdue University, dan meraih gelar Master of Science (MSc) serta Doktor (Ph.D.) dalam bidang Ilmu Ekonomi. Sosok yang awalnya diragukan itu kini justru mendapat banyak pujian. Pak Pur tampil apa adanya blak-blakan, santai, dan kadang nyeleneh tapi di balik itu tersimpan ketegasan, pemahaman yang mendalam, serta keberanian mengambil keputusan. Ia memang bukan tipe menteri yang tampil kaku dan penuh jargon ekonomi. Ia lebih suka bicara dengan bahasa publik yang lugas, mudah dicerna, tapi tetap berbobot.
Sebagai akademisi, saya memandang fenomena ini menarik. Bukan untuk membranding atau membela, melainkan untuk memahami bagaimana figur seperti menteri keuangan yang akrab disapa Pak Pur itu kini merepresentasikan wajah baru kepemimpinan publik di Indonesia gaya kepemimpinan yang berani berbeda, komunikatif, namun tetap harus terukur dan akuntabel. Di awal masa jabatannya, banyak pihak menilai gaya “koboi” Pak Pur terlalu berisiko. Ucapannya yang spontan dianggap bisa menimbulkan salah tafsir. Tapi dalam konteks komunikasi politik, gaya seperti ini justru bisa menjadi antitesis dari birokrasi yang selama ini terlalu formal dan berjarak. Dari perspektif masyarakat yang saat ini semakin terhubung secara digital, pejabat yang berbicara dengan bahasa yang asik dan santai cenderung lebih diterima. Publik tak lagi ingin mendengar istilah fiskal yang berbelit, melainkan ingin tahu apa dampaknya bagi harga beras, upah, dan lapangan kerja. Dalam hal ini, Pak Pur cukup berhasil menjembatani jurang antara bahasa teknokrat dan bahasa rakyat. Namun tentu, komunikasi yang baik tidak berarti apa-apa tanpa kebijakan yang kuat di belakangnya. Dan di sinilah publik mulai menilai bahwa gaya Pak Pur bukan sekadar pencitraan. Dalam beberapa bulan pertama, sejumlah kebijakan yang ia dorong memperlihatkan arah yang jelas seperti penguatan ekonomi domestik dan keberpihakan pada rakyat kecil. Salah satu langkah yang banyak diperbincangkan adalah penempatan dana besar di bank-bank milik negara untuk menjaga likuiditas dan mendorong kredit usaha.
Kebijakan itu memang tidak lepas dari kritik, tapi dari kebijakan tersebut tampak keberanian mengambil keputusan di tengah situasi fiskal yang penuh tekanan. Ia juga menyoroti kebocoran pajak dan perlunya reformasi sistem penerimaan negara. Langkah-langkah ini menandakan bahwa gaya santainya tidak berarti ia abai pada substansi. Justru sebaliknya, gaya komunikatif itu ia gunakan untuk membuka percakapan yang lebih luas tentang transparansi dan efektivitas fiskal. Namun, di balik apresiasi yang tumbuh, tantangan besar tetap menanti. Gaya komunikatif yang terbuka harus disertai konsistensi kebijakan dan kehati-hatian fiskal. Jika tidak, kepercayaan publik bisa berubah menjadi skeptisisme. Di titik ini, saya melihat bahwa yang sedang diuji bukan hanya kemampuan teknokratis Pak Pur, tetapi juga kapasitasnya menjaga keseimbangan antara keberanian dan disiplin anggaran. Seberapa jauh ia mampu mempertahankan gaya terbuka tanpa kehilangan kredibilitas di mata pasar dan lembaga keuangan internasional akan menjadi ukuran keberhasilan berikutnya. Dalam konteks yang lebih luas, munculnya sosok seperti Pak Pur membawa pelajaran penting tentang transformasi budaya birokrasi. Pemerintah kini tidak bisa lagi mengandalkan gaya lama: formal, tertutup, dan kaku. Publik menuntut pejabat yang lebih manusiawi, yang mampu berbicara dengan empati tanpa kehilangan ketegasan. Pak Pur, dengan segala pro dan kontranya, menunjukkan bahwa otoritas tidak selalu harus tampil dalam bentuk jarak. Ia membangun kedekatan, tapi tidak kehilangan arah. Ia bicara santai, tapi tetap pada koridor rasionalitas kebijakan. Ini adalah bentuk komunikasi pemerintahan yang mulai bergeser dari “mengajar rakyat” menjadi “berdialog dengan rakyat”. Namun, apresiasi terhadap gaya baru ini tidak boleh membutakan kita. Dalam pemerintahan yang sehat, kritik tetap dibutuhkan agar gaya tidak menelan substansi. Kita harus menilai seorang pejabat bukan dari seberapa menarik ia tampil di publik, tetapi dari seberapa jauh kebijakannya memberikan manfaat nyata dan keberlanjutan fiskal yang bertanggung jawab.
Sebagai dosen ilmu pemerintahan, saya melihat fenomena Pak Pur bukan sebagai kisah heroik seorang menteri, melainkan sebagai cermin perubahan zaman. Kita sedang memasuki fase ketika pejabat publik harus adaptif, komunikatif, namun tetap berpijak pada akuntabilitas dan etika kebijakan. Pak Pur menjadi contoh bahwa keberanian tampil berbeda bisa diterima publik asal dibarengi kapasitas dan konsistensi. Ia bukan sosok yang sempurna, tetapi menghadirkan warna baru dalam lanskap komunikasi pemerintahan yang selama ini terasa datar. Jika gaya seperti ini bisa diikuti dengan kedisiplinan, keterbukaan data, dan fokus pada kesejahteraan rakyat, mungkin kita akan melihat lahirnya generasi pejabat yang tidak hanya pintar mengelola angka, tetapi juga peka membaca denyut publik. Pada akhirnya, pejabat publik yang ideal bukan yang paling populer atau paling keras bicara, melainkan yang mampu menjaga keseimbangan antara kedekatan dan kredibilitas. Dan sejauh ini, Pak Pur sedang mencoba berjalan di jalur itujalur yang tidak mudah, tapi penting bagi masa depan kepemimpinan publik di negeri ini. (read)

















































