JAKARTA, teropongbarat.co. Ketegangan global yang dipicu konflik Palestina-Israel telah mencapai titik kritis, memicu kekhawatiran akan potensi perang nuklir pada tahun 2025. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, pakar hukum internasional dan Presiden Partai Oposisi Merdeka, dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Prof. Nasomal memperingatkan bahwa persaingan global dalam bentuk “perang politik,” “perang ekonomi,” dan “perang kedaulatan” telah meningkat drastis. Israel, dengan dukungan Amerika dan NATO, dinilai telah melanggar hukum internasional dengan agresi terhadap Palestina, memicu reaksi keras dari negara-negara lain. Amerika Serikat, di tengah masalah ekonomi dalam negeri yang ditandai dengan peningkatan pengangguran dan penerapan kebijakan pajak tinggi (TEX), dilihat semakin agresif dalam mendukung Israel, mengabaikan seruan PBB untuk menghentikan konflik.
Situasi ini diperparah oleh persaingan ekonomi global yang tidak sehat, di mana Amerika Serikat berupaya menekan negara-negara lain, termasuk Indonesia, melalui kebijakan perdagangan yang merugikan. Indonesia sendiri menghadapi tantangan ekonomi yang serius, termasuk tingginya angka pengangguran, kelemahan di sektor pertanian dan industri, serta kurangnya persiapan menghadapi geopolitik global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Prof. Nasomal menekankan pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan Indonesia menghadapi potensi perang nuklir. Beliau menyerukan kepada Presiden RI Jenderal Prabowo Subianto untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam memperkuat pertahanan dan keamanan negara, serta merangkul rakyat, khususnya para petani, nelayan, dan UMKM, untuk membangun kekuatan ekonomi yang tangguh. Kolaborasi antara pemerintah dan rakyat dinilai krusial untuk menghadapi tantangan yang kompleks ini. Masa depan Indonesia, tegas Prof. Nasomal, berada di tangan Presiden saat ini.
Sementara tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 5,2% (April 2024), lebih tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya.
Kebijakan pajak tinggi Amerika Serikat berdampak negatif pada industri ekspor Indonesia.// Anton Tinendung. @

















































