Jakarta – Kegiatan “Setahun Mas Pram – Bang Doel Menjawab Harapan Jakarta” yang digelar di Gedung Sanggar Krida Wanita, Rawamangun, Jakarta Timur, pada 13 Februari 2026, berlangsung semarak dan penuh antusiasme. Forum refleksi tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat, serta dihadiri sejumlah tokoh penting dari unsur pemerintahan, legislatif, BUMD, organisasi keagamaan, kepemudaan, hingga lembaga riset.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Barisan Jakarta (BAJA) bersama Karang Taruna Jakarta Timur dan Prima DMI Jakarta, dengan dukungan sejumlah BUMD DKI Jakarta serta fasilitasi tempat dari Pemerintah Kota Jakarta Timur.
Hadir dalam kegiatan tersebut Reinhard Sirait selaku Tenaga Ahli Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Welfizon Yuza selaku Direktur Utama PT Transjakarta, serta M. Tsani Annafari, Ph.D. dalam kapasitasnya sebagai Kepala Pusat Pengembangan Produktivitas Daerah (P3D) mewakili Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Turut hadir pula Raden Gusti Arief Yulifard (Anggota DPRD DKI Jakarta Komisi E), KH. Mamun Al Ayubi (Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi DKI Jakarta), Akmal Budi Yulianto (Ketua Karang Taruna DKI Jakarta), Fitria Octarina, S.E. (Ketua DPP FORKABI), serta Achmad Annama (Direktur Komunikasi Pusat Ristek Indonesia).
Dalam sambutannya, Ketua Umum BAJA, Raden Lintang, menegaskan bahwa forum tersebut bukanlah ajang pujian, melainkan wujud rasa syukur sekaligus komitmen kolektif untuk menjaga Jakarta.
“Forum ini bukan ajang pujian, forum ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus komitmen menjaga Jakarta. Kita sangat beruntung tinggal di Jakarta. Di setiap sendi kehidupan, negara melalui Pemprov DKI benar-benar hadir. Transportasi JakLingko nol rupiah, layanan kesehatan gratis, sekolah gratis — ini tidak semua provinsi bisa rasakan. Maka tidak ada alasan untuk tidak mencintai Jakarta,” ujarnya penuh semangat.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan mendukung kepemimpinan yang telah terbukti bekerja nyata bagi warga Ibu Kota.
“Mari kita jaga Jakarta. Mari kita rawat kota ini dengan rasa syukur. Karena apa yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari kepemimpinan yang hadir dan berpihak,” tegasnya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Reinhard Sirait menegaskan pentingnya komunikasi publik yang terbuka dan dialogis antara pemerintah dan masyarakat sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang responsif dan inklusif. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan pembangunan Jakarta sebagai kota global.
Welfizon Yuza memaparkan capaian dan transformasi layanan Transjakarta yang semakin terintegrasi dan menjangkau kawasan aglomerasi Jabodetabek. Ia menekankan bahwa transportasi publik yang andal dan berkelanjutan menjadi tulang punggung mobilitas warga sekaligus indikator kemajuan kota modern.
Mewakili Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta, M. Tsani Annafari, Ph.D., melalui peran P3D, menyampaikan komitmen penguatan produktivitas daerah, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta optimalisasi pelatihan kerja untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Jakarta yang inklusif.
Raden Gusti Arief Yulifard menegaskan dukungan legislatif terhadap kebijakan strategis pemerintah daerah, khususnya dalam sektor pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menilai sinergi eksekutif dan legislatif menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan tepat sasaran.
Dari unsur keagamaan, KH. Mamun Al Ayubi mengapresiasi perhatian pemerintah daerah terhadap penguatan kehidupan sosial dan keagamaan di Jakarta, termasuk dukungan terhadap operasional tempat ibadah sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.

Ketua Karang Taruna DKI Jakarta, Akmal Budi Yulianto, menyoroti pentingnya peran pemuda dalam pembangunan kota melalui penguatan aktivitas sosial, olahraga, dan kreativitas di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Sementara itu, Fitria Octarina, S.E., menegaskan komitmen pelestarian budaya Betawi sebagai identitas Jakarta, serta pentingnya menjaga harmoni sosial dalam keberagaman.
Sebagai penutup, Achmad Annama memaparkan perspektif tingkat kepuasan publik dan dinamika komunikasi pemerintahan, yang menunjukkan meningkatnya partisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap arah pembangunan Jakarta.
Kehadiran para tokoh lintas sektor ini memperlihatkan kuatnya kolaborasi antara pemerintah, legislatif, organisasi masyarakat, pemuda, serta lembaga riset dalam mendukung visi Jakarta sebagai kota global yang maju, inklusif, dan berkeadilan sosial.(*)
















































