SAMPANG// Teropongbarat.com Sejarah lokal kerap menyimpan kisah-kisah yang nyaris hilang ditelan waktu. Salah satunya adalah cerita tentang seorang tokoh sepuh dari Sampang, Madura, yang dikenal dengan nama Angke. Sosok ini dahulu disebut-sebut sebagai sesepuh yang sangat disegani di wilayah duek poteh Sampang. Dalam cerita turun-temurun yang beredar di masyarakat, Angke dikenal memiliki kesaktian dan kharisma luar biasa.
Ia diyakini mampu menyeberangi lautan dengan menunggangi ikan suro — yang dalam kepercayaan masyarakat diidentikkan dengan ikan hiu. Kisah ini menjadi bagian dari legenda lokal yang memperkaya khazanah budaya Madura. Pada masa itu, Sampang disebut tengah dilanda konflik internal atau perang antar saudara akibat kesalahpahaman dan perbedaan pendapat di antara kelompok-kelompok yang berpengaruh. Situasi tersebut memaksa Angke meninggalkan tanah kelahirannya bersama keluarga besar serta para pengikutnya untuk mencari tempat yang lebih aman.
Kepergian mereka menjadi titik balik yang perlahan mengaburkan jejak sejarah keluarga besar tersebut. Minimnya catatan tertulis dan dokumentasi membuat kisah ini lebih banyak hidup dalam cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ungkapan Madura “Duek poteh, banyu ates” yang sering dikaitkan dengan kisah ini menggambarkan tekad dan prinsip hidup yang kuat, mencerminkan nilai keberanian serta kehormatan yang dijunjung tinggi masyarakat Madura pada masa silam. Kini, cerita tentang Angke dan keluarganya menjadi bagian dari potret sejarah lokal yang terlupakan.
Meski belum tercatat secara resmi dalam arsip sejarah nasional, kisah ini tetap memiliki makna penting sebagai identitas budaya dan warisan ingatan kolektif masyarakat Sampang. Pelestarian sejarah lisan seperti ini dinilai penting agar generasi mendatang tetap mengenal akar budaya dan perjalanan leluhur mereka.
Redaksi/
Terpongbarat.com
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
(Investigasi)
















































