Lhokseumawe, teropongbarat.co. — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh berlangsung hangat dan produktif di Lhokseumawe, Kamis (23/10/2025). Acara ini dibuka langsung oleh Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr. Gulat M. Manurung, SP, MP, C.APO, C.IMA, dan menjadi momentum penting konsolidasi organisasi sekaligus refleksi peran Apkasindo dalam memperjuangkan nasib petani sawit di Tanah Rencong.
Menariknya, rangkaian kegiatan diawali dengan kuliah umum untuk 30 mahasiswa SDM Sawit Indonesia, sebuah generasi muda yang disiapkan menjadi penggerak sektor perkebunan di masa depan. Setelah sesi edukatif tersebut, forum Rakerwil resmi dimulai pukul 15.00 WIB dan dihadiri oleh 15 DPD Apkasindo kabupaten/kota se-Aceh, dari Aceh Singkil hingga Aceh Tamiang.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam arahannya, Dr. Gulat M. Manurung menekankan agar jajaran Apkasindo di Aceh tidak hanya berfokus pada administrasi dan kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi perpanjangan tangan petani sawit di lapangan.
“Organisasi ini lahir dari rahim perjuangan petani. Maka setiap kebijakan dan langkah Apkasindo harus berpihak pada mereka,” tegasnya di hadapan peserta.
Ia juga mengingatkan Ketua DPW Apkasindo Aceh untuk segera melakukan evaluasi struktur organisasi.
“DPW harus segera membuat daftar DPD yang telah berakhir masa SK-nya dan melakukan evaluasi menyeluruh. Organisasi harus tertib agar soliditas tetap terjaga,” pesan Gulat.

Rakerwil yang mengusung tema “Kesetaraan Petani Sawit Aceh untuk Indonesia” ini dipandu oleh panitia di bawah koordinasi Happy Yusnaini, ST, MT, dan diwarnai suasana dialogis penuh semangat.
Dalam sambutannya, Ir. Netap Ginting, Ketua DPW Apkasindo Aceh, menegaskan komitmen pihaknya untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi linier antar-DPD serta dengan instansi pemerintah dan pihak swasta yang menjadi mitra strategis Apkasindo.
“Kita ingin Apkasindo Aceh menjadi mitra yang aktif dan solutif. Tantangan sawit ke depan butuh sinergi, bukan jalan sendiri-sendiri,” ujar Netap.
Forum ini juga menjadi ajang memperkuat solidaritas lintas DPD, merumuskan arah baru dalam menghadapi isu klasik sektor sawit seperti fluktuasi harga TBS, legalitas lahan, hingga rendahnya akses petani terhadap program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Dengan gaya kepemimpinan yang lugas, Dr. Gulat menutup arahannya dengan pesan yang kembali meneguhkan identitas Apkasindo:
“Apkasindo harus hadir di tengah petani, bukan hanya saat seremoni. Keberhasilan organisasi diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi petani sawit di lapangan.”
Rakerwil yang dihadiri tokoh-tokoh sawit Aceh itu berakhir dalam suasana penuh optimisme. Dari ruang rapat di Lhokseumawe, semangat kebersamaan menguar — membangun asa baru menuju kemandirian dan kesetaraan petani sawit Aceh untuk Indonesia.
// @nton Steven tin

















































