Gubernur BEM Fikom Umuslim, M. Akbar: Sebagai Putra Subulussalam, Saya Menolak Perampasan Wilayah Aceh oleh Sumut

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Minggu, 1 Juni 2025 - 00:43 WIB

40273 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bireuen – Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Almuslim, Peusangan Bireuen M. Akbar, menyatakan sikap tegas menolak pengambilalihan empat pulau milik Aceh oleh Provinsi Sumatera Utara.

Sebagai putra daerah dari Kota Subulussalam, Akbar menilai pengalihan wilayah ini adalah bentuk pengabaian atas hak historis dan kedaulatan wilayah Aceh yang harus segera diluruskan.

“Ini bukan hanya soal administrasi, ini adalah soal identitas dan harga diri daerah. Aceh bukan provinsi yang bisa seenaknya dicoret dari peta, ujar putra Subulussalam tegas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kami, generasi muda, khususnya dari Subulussalam yang berbatasan langsung dengan Sumut, sangat tersinggung,” ungkap Akbar dalam pernyataan resminya, Jumat (30/5), di sela-sela kegiatan forum mahasiswa di Kampus Universitas Almuslim.

Empat pulau yang menjadi polemik—Pulau Mangkir Gadang, Pulau Mangkir Ketek, Pulau Lipan, dan pulau panjang—telah lama dianggap sebagai bagian sah dari Kabupaten Aceh Singkil.

Namun, dalam dokumen administratif terbaru, keempat pulau tersebut kini tercatat berada di bawah administrasi Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, jelasnya.

Akbar menegaskan bahwa mahasiswa harus berdiri sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan daerah. Ia mengkritik lemahnya pengawasan dari pihak legislatif dan eksekutif Aceh terhadap proses perubahan peta wilayah tersebut.

“Di saat pemerintah kita lalai, kami mahasiswa tidak boleh diam. Kami akan konsolidasikan mahasiswa dari berbagai fakultas untuk membentuk gerakan penyelamatan wilayah Aceh,” tegas putra Subulussalam yang sedang mebempuh kuliah di Universitas Almuslim Bireuen ini.

Lebih lanjut, Akbar mengungkapkan bahwa wilayah perairan sekitar empat pulau tersebut menyimpan potensi besar sumber daya alam, khususnya minyak dan gas bumi (migas).

Berdasarkan beberapa studi geologi dan hasil pemetaan bawah laut oleh lembaga survei energi, kawasan ini berada di dalam blok migas yang strategis di perairan barat Sumatera, yang selama ini juga masuk dalam cakupan pengelolaan Pemerintah Aceh sesuai UU Pemerintahan Aceh (UUPA), jelasnya.

“Ini bukan hanya soal pulau tak berpenghuni. Di bawah lautnya ada potensi ekonomi besar. Kalau pulau-pulau ini lepas, maka Aceh juga kehilangan hak atas kekayaan alamnya. Ini bisa jadi upaya sistematis untuk menggerus kekuatan ekonomi Aceh dari sektor migas,” ungkap Akbar yang kuliah di prodi Informatika Umuslim.

Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Akbar juga menyoroti pentingnya pemanfaatan data geospasial dan teknologi pemetaan berbasis digital untuk membuktikan klaim wilayah Aceh secara ilmiah.

Ia mendorong agar Pemprov Aceh bekerja sama dengan kampus dan lembaga riset untuk menyusun “Peta Digital Kedaulatan Wilayah Aceh” sebagai dokumen sah untuk menuntut keadilan administratif di tingkat pusat, saranya.

“Jangan sampai teknologi hanya jadi alat hiburan. Sekarang saatnya kita gunakan ilmu komputer dan pemetaan untuk mempertahankan wilayah kita,” jelasnya.

Selain itu, Akbar menegaskan bahwa pengambilalihan wilayah ini berpotensi melanggar butir-butir penting dalam Perjanjian Damai Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 2005.

Dalam kesepakatan tersebut, telah ditegaskan bahwa Aceh memiliki otonomi khusus dengan kewenangan penuh dalam pengelolaan wilayah, termasuk batas-batas administratif yang diakui secara historis, ungkap putra Subulussalam ini.

“Perjanjian Helsinki adalah bukti bahwa kedaulatan Aceh dijamin oleh hukum nasional dan internasional. Jika ini diabaikan, bukan hanya melukai Aceh, tapi juga merusak kepercayaan terhadap proses perdamaian yang telah dibangun dengan susah payah,” tegas Akbar mahasiswa tingkat akhir prodi Informatika Fikom Umuslim.

“Kita harus bersatu, jaga tanah kita. Hari ini empat pulau, besok siapa tahu perbatasan daratan kita yang diklaim. Jangan tunggu sampai rumah kita hilang dari peta,” pungkas putra Subulussalam ini dengan nada serius.( ZK)

Berita Terkait

UNIKI Terapkan Sistem CAT Untuk Seleksi Masuk Calon Mahasiswa Baru
Pasacsarjana Umuslim Yudisium 147 lulusan Angkatan V
Mahasiswa Fikom Umuslim ikuti Sosialisasi Tentang Program Kerja Praktek
Mahasiswa Teknik Sipil Umuslim Ikuti Kuliah Lapangan di BPBD Bireuen
Mortar Cup IX Fakultas Teknik Universitas Almuslim Resmi Ditutup
Fakultas Teknik Umuslim Gelar Kuliah Umum tentang Kota Berketahanan dan Regenerative Design
Program Magister Manajemen UNIKI Gelar Yudisium Lulusan Angkatan XVII
Fakultas Teknik Universitas Almuslim Dorong Mahasiswa KIP Menjadi Duta Kampus

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:34 WIB

Prajutrit TNI mulai Pasang Mal Pondasi untuk mempercepat Pengecoran Struktur Utama Jembatan

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:58 WIB

Babinsa Koramil 05/Darul Makmur Laksanakan Komsos dengan Warga

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:47 WIB

Komsos Babinsa tujuan menciptakan kedekatan bersama warga binaan

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:37 WIB

Babinsa Datangi Petani Pepaya, Dukung Peningkatan Produksi dan Ekonomi Masyarakat

Rabu, 3 Juni 2026 - 12:07 WIB

Babinsa Posramil Beutong Ateuh Banggalang Komsos Bersama Kepala Dusun

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:27 WIB

Percepat Pembangunan Jembatan Gantung Pereintis TNI Tak Kenal Teriknya Matahari

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:04 WIB

Gelar Komsos Bersama,Babinsa Dan Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Lueng Keubeu Jagat

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:41 WIB

KOMSOS DI WARUNG KOPI ERATKAN SILATURAHMI BERSAMA WARGA

Berita Terbaru

NAGAN RAYA

Babinsa Koramil 05/Darul Makmur Laksanakan Komsos dengan Warga

Kamis, 4 Jun 2026 - 08:58 WIB