Indonesia Sulit Maju Bukan Karena Miskin, Tetapi Karena Salah Mengelola Kekayaan

REDAKSI PAKPAK BHARAT

- Redaksi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:36 WIB

4021 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kekayaan Alam Tak Pernah Cukup Jika Tata Kelola dan Manusia Masih Menjadi Titik Lemah

Oleh: Amrizal Ujung, S.Pd, Gr.

Pakpak Bharat, Teropong Barat.com//Indonesia sering disebut sebagai negeri yang dikaruniai segalanya. Tanahnya subur, lautnya luas, hutan dan tambangnya melimpah, jumlah penduduknya besar, serta letaknya berada di jalur perdagangan dunia. Secara teori, semua syarat menjadi negara maju telah dimiliki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, teori tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Setelah lebih dari tujuh dekade merdeka, Indonesia masih bergulat dengan persoalan klasik: ketimpangan, rendahnya produktivitas, kualitas sumber daya manusia yang belum kompetitif, hingga birokrasi yang belum sepenuhnya melayani.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu menjadi negara maju, melainkan mengapa potensi sebesar itu belum berhasil diubah menjadi kesejahteraan yang merata?

Jawabannya tidak sesederhana menyalahkan pemerintah, pasar, atau masyarakat. Persoalannya jauh lebih mendasar: mesin pembangunan Indonesia belum bekerja dalam irama yang sama.
Negara Masih Terlalu Mahal untuk Rakyat yang Ingin Maju
Negara seharusnya menjadi fasilitator pertumbuhan. Namun dalam banyak kasus, justru negara menjadi biaya tambahan bagi masyarakat yang ingin berkembang.

Perizinan yang panjang, regulasi yang saling bertabrakan, birokrasi yang berlapis, hingga praktik korupsi yang masih bertahan membuat biaya berusaha menjadi mahal. Akibatnya, pelaku usaha kecil lebih sibuk mengurus administrasi daripada mengembangkan usahanya.
Ironisnya, dalam situasi seperti ini, sering kali kejujuran justru terasa lebih mahal daripada mencari jalan pintas.
Jika kondisi tersebut terus dipertahankan, jangan berharap investasi tumbuh sehat atau UMKM mampu naik kelas. Sebab ekonomi yang sehat lahir dari kepastian hukum, bukan dari banyaknya meja birokrasi yang harus dilewati.

Bonus Demografi Tidak Akan Menjadi Berkah Tanpa Manusia Berkualitas
Indonesia bangga memiliki bonus demografi. Namun bonus itu tidak akan berarti apabila mayoritas penduduk usia produktif tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Masalah pendidikan kita bukan sekadar soal angka partisipasi sekolah, tetapi kualitas hasilnya. Lulusan masih banyak yang kesulitan memasuki dunia kerja karena keterampilan yang dimiliki belum menjawab kebutuhan industri.

Di sisi lain, stunting yang masih tinggi merupakan ancaman nyata bagi masa depan bangsa. Tidak ada negara maju yang membiarkan kualitas generasi mudanya terganggu sejak awal kehidupan.
Belum lagi rendahnya budaya literasi dan berpikir kritis yang membuat masyarakat lebih mudah percaya pada hoaks daripada data.
Padahal, pada era ekonomi digital, kekayaan utama sebuah bangsa bukan lagi minyak, batu bara, atau sawit, melainkan manusia yang mampu menciptakan inovasi.

Selama Menjual Bahan Mentah, Indonesia Akan Sulit Menjadi Negara Kaya
Kesalahan terbesar pembangunan ekonomi Indonesia selama bertahun-tahun adalah terlalu nyaman menjadi pemasok bahan mentah.
Kita mengekspor hasil tambang, sawit, karet, dan berbagai komoditas primer. Namun keuntungan terbesar justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.

Tidak mengherankan jika kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian terus mengalami penurunan. Padahal, sejarah membuktikan bahwa hampir semua negara maju bertumbuh melalui industrialisasi, bukan sekadar mengandalkan kekayaan alam.
Sementara itu, jutaan pelaku UMKM masih berjuang di sektor informal dengan keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar.

Ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan yang tidak menciptakan nilai tambah hanya akan menghasilkan angka statistik, bukan kemakmuran.

Indonesia Belum Benar-Benar Menjadi Satu Pasar

Membangun negara kepulauan memang tidak mudah. Lebih dari 17 ribu pulau menghadirkan tantangan logistik yang jauh lebih besar dibanding negara daratan.
Pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan bandara dalam satu dekade terakhir patut diapresiasi. Namun pembangunan fisik tidak boleh berhenti pada proyek-proyek besar.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan hasil pembangunan benar-benar menghubungkan desa dengan pasar, petani dengan industri, nelayan dengan pelabuhan, dan masyarakat dengan layanan publik.
Selama biaya logistik masih tinggi dan disparitas harga antarwilayah masih lebar, maka keadilan ekonomi hanya akan menjadi slogan.

Masalah Terbesar Justru Ada pada Cara Berpikir
Ada satu persoalan yang jarang dibahas karena dianggap sensitif: budaya.
Bangsa ini masih terlalu sering tergoda oleh hasil instan. Jalan pintas lebih diminati daripada kerja keras. Jabatan lebih dihormati daripada karya. Gelar lebih dibanggakan daripada kompetensi.
Lebih memprihatinkan lagi, pelanggaran terhadap aturan sering dianggap sebagai hal biasa. Budaya antre, disiplin waktu, menjaga kebersihan, hingga kepatuhan terhadap hukum masih belum menjadi karakter bersama.

Padahal, negara-negara maju tidak dibangun semata oleh teknologi atau kekayaan alam. Mereka dibangun oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh jutaan warganya.
Kemajuan sesungguhnya berawal dari disiplin, integritas, dan penghargaan terhadap aturan.
Indonesia Membutuhkan Perubahan Arah, Bukan Sekadar Pergantian Program
Selama ini Indonesia terlalu sering berganti slogan pembangunan, tetapi belum sepenuhnya konsisten membangun fondasi.

Negara-negara seperti Korea Selatan, Singapura, bahkan Vietnam, tidak melesat karena mereka tidak memiliki persoalan. Mereka berhasil karena mampu menjaga fokus selama puluhan tahun pada dua hal yang sama: membangun kualitas manusia dan memperbaiki tata kelola pemerintahan.
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang yang jauh lebih besar. Yang belum dimiliki adalah konsistensi.

Sudah saatnya pembangunan tidak lagi diukur dari berapa banyak proyek yang diresmikan atau berapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi. Ukurannya harus bergeser: seberapa mudah rakyat bekerja, seberapa berkualitas generasi mudanya, seberapa adil kesempatan ekonomi dibuka, dan seberapa besar negara berpihak kepada mereka yang jujur serta produktif.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Indonesia juga tidak kekurangan orang-orang cerdas. 

Yang masih kurang adalah keberanian untuk membenahi diri secara menyeluruh dan konsisten.
Sebab sejarah telah membuktikan, negara tidak pernah menjadi maju hanya karena dianugerahi kekayaan alam. Negara menjadi maju karena mampu membangun manusia, menegakkan tata kelola yang bersih, dan menjadikan disiplin sebagai budaya, bukan sekadar slogan politik.//ujg-tbpb,..

Berita Terkait

MARAK PENGGALIAN *TANAH SAWAH LIAR, WARGA DiDUGA TANPA IZIN: BAHAYAKAN KETAHANAN PANGAN  
Dukung Rencana Presiden Prabowo Naikkan Gaji TNI,: Bentuk Apresiasi kepada Penjaga Kedaulatan Bangsa
Sosialisasi Pengadministrasian Pendaftaran Tanah Ulayat, Bekali Masyarakat Hukum Adat Buton Selatan Soal Tahapan Sertipikasi
Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang
Wamen ATR/Waka BPN: Kepala Daerah Berperan Strategis dalam Penyelesaian Persoalan Pertanahan dan Tata Ruang
Kementerian ATR/BPN Hadirkan Pengukuran Terjadwal, Beri Kepastian Waktu Layanan untuk Masyarakat
Sedang Mengurus Urusan Pertanahan? Cari Tahu Biayanya di Sini!
Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:02 WIB

Dari Sawah Untuk Negeri, Babinsa Bonto Cinde dan Petani Bersatu Wujudkan Swasembada Pangan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:54 WIB

Babinsa Sertu Safrin Ondu Aktif Dampingi Petani Di Wilayah Binaan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:51 WIB

Babinsa Pos Ramil Tadu Raya Melaksanakan kegiatan Komunikasi Sosial dengan masyarakat di desa Babah dua kec tadu raya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:49 WIB

Aktif Bersama Prangkat Desa Babinsa Koramil 03 Senagan Timur Komsos Bersama Prangkat Desa Di Desa Binaan 

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:48 WIB

Babinsa Posramil Beutong Ateuh Banggalang Melaksanakan Komunikasi Sosial Dengan Tokoh Masyarakat Desa Blang Puuk

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:46 WIB

Melalui komsos Babinsa jalin silaturahmi dengan masyarakat binaan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:43 WIB

Danrem 012/TU Didampingi Dandim 0116/Nagan Raya Ikuti Vidcon Presiden RI pada Panen Raya Padi Serentak di Nagan Raya

Jumat, 17 Juli 2026 - 11:16 WIB

Babinsa Laksanakan Gotong Royong Bersama Warga di Halaman Masjid Desa Neubok Yee PP

Berita Terbaru