PAKPAK BHARAT, Teropong Barat.com – Kehadiran hewan buas yang diduga Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) menghebohkan warga Desa Kuta Saga, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara.
Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat bergerak cepat melakukan pemantauan intensif guna mencegah jatuhnya korban, baik dari masyarakat maupun dari satwa dilindungi tersebut.
Pemantauan dilakukan Kantor Camat Kerajaan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), TNI/Polri, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa, Centre for Orangutan Protection (COP), pemerintah desa, dan masyarakat setempat.
Jejak di Ladang Sulampak, Sapi Warga Jadi Mangsa
Plt Camat Kerajaan, Sondang M Berutu, SE, menjelaskan kronologi awal kemunculan raja hutan itu. Laporan pertama diterima pada Kamis (17/9/2025).
“Kejadiannya bermula pada Kamis (17 September) kemarin, kami menerima laporan adanya jejak-jejak harimau di kawasan perladangan Sulampak, Desa Kuta Saga. Di hari yang sama ternyata hewan ini telah memangsa seekor sapi milik warga,” ujar Sondang, Senin (22/9/2025).

Menindaklanjuti laporan tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat, BKSDA, Kepolisian, dan TNI.
Kamera Trap Dipasang, Harimau Sempat Terekam Mendatangi Bangkai
Sejumlah upaya mitigasi telah dilakukan di lapangan. Petugas gabungan memasang beberapa kamera tersembunyi atau camera trap di beberapa titik yang diduga menjadi jalur perlintasan harimau.
Selain itu, petugas juga memantau bangkai sapi yang ditinggalkan harimau tersebut sebagai umpan untuk memastikan pergerakannya.
Sondang mengungkapkan, upaya itu sempat membuahkan hasil. Harimau tersebut terpantau kamera pengintai saat kembali mendatangi bangkai sapi yang sebelumnya ditinggalkan.
“Keberadaan hewan buas yang dikenal sebagai raja hutan ini sempat terpantau kamera pengintai ketika dia kembali mendatangi bangkai sapi yang ditinggalkan sebelumnya, namun setelah dilakukan penelusuran selama beberapa hari tidak ditemukan lagi keberadaannya di sekitar lokasi,” jelasnya.
Upaya Ganda: Lindungi Warga dan Lindungi Harimau
Sondang menegaskan, fokus utama pemerintah saat ini ada dua: memastikan keselamatan warga dan menjaga kelestarian harimau sumatera.

“Upaya yang kami lakukan pada dasarnya adalah mencegah korban, baik itu dari masyarakat jangan sampai ada korban, serta juga mencegah supaya jangan ada pihak-pihak tertentu yang mencoba membunuh hewan ini. Bagaimanapun, hewan ini sangat dilindungi,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat Desa Kuta Saga dan sekitarnya untuk tetap waspada, tidak beraktivitas sendirian di ladang atau hutan saat malam hari, dan segera melapor jika menemukan jejak baru.
Satwa Kritis yang Tersisa 400 Ekor di Alam Liar
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sendiri merupakan satu-satunya subspesies harimau asli Indonesia yang masih bertahan hidup. Dua saudaranya, Harimau Bali dan Harimau Jawa, telah dinyatakan punah.
Satwa endemik Pulau Sumatera ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan perkiraan populasi liar yang tersisa hanya sekitar 400 hingga 500 ekor.

Sebagai predator puncak, harimau sumatera menempati ruang jelajah yang luas, mulai dari hutan dataran rendah, hutan hujan tropis, hingga hutan pegunungan dengan ketinggian mencapai 3.000 meter di atas permukaan laut. Keberadaannya sangat krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan populasi satwa herbivora dan hama seperti babi hutan.//ujg-tbpb..


















































