PAKPAK BHARAT, TEROPONG BARAT.COM – Di saat Bupati Pakpak Bharat Frans Bernhard Tumanggor menggaungkan semangat “Kasah Kininduma” dalam Sidang Istimewa HUT ke-23 DPRD Pakpak Bharat, kondisi di lapangan justru berbanding terbalik. Geliat pembangunan melambat, perputaran ekonomi masyarakat seret, akibat kebijakan efisiensi yang diterapkan.
Pidato apresiasi kepada tokoh pemekaran, termasuk dr. MP Tumanggor, yang disampaikan Bupati menjadi pengingat sejarah lahirnya kabupaten ini 23 tahun lalu. Namun sejarah kegigihan itu kini diuji.
Pembangunan Gontai, Ekonomi Seret
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta di lapangan, efisiensi anggaran membuat semua berjalan lambat dan gontai. Proyek fisik tertahan, belanja pemerintah minim, daya beli masyarakat turun.

Semangat untuk mewujudkan Pakpak Bharat yang mandiri seperti yang diperjuangkan para tokoh pemekaran, seakan terhambat oleh kebijakan penghematan itu sendiri.
Bupati dalam pidatonya menyebut telah banyak capaian pembangunan selama 23 tahun. Ia juga berterima kasih kepada para Penjabat dan Bupati terdahulu.
“Sebuah pengabdian dan kontribusi yang besar bagi upaya membawa Pakpak Bharat menuju masa depan yang cerah,” kata Franc.
Pertanyaannya, bagaimana masa depan cerah itu bisa dicapai jika pembangunan saat ini justru melambat?
Kasah Kininduma: Semangat Juang di Tengah Keterbatasan
Tema HUT tahun ini “Kasah Kininduma” yang berarti kegigihan untuk meraih kemakmuran, justru menjadi relevan untuk menampar kondisi saat ini.

Bupati mengartikan Kasah sebagai kegigihan bekerja, dan Kininduma sebagai kemakmuran hasil bumi untuk seluruh rakyat.
“Saya mengajak kita semua untuk duduk bersama dalam satu visi, menyatukan derap langkah, dan berkolaborasi tanpa sekat demi memetik buah kemakmuran Tanoh Pakpak,” ajak Bupati.
Ajakan itu akan menjadi sekadar slogan jika tidak dibarengi dengan keberanian untuk melonggarkan keran efisiensi yang justru mencekik perputaran ekonomi di bawah.
23 tahun Pakpak Bharat berdiri dengan darah dan pikiran para tokohnya. Kini tantangannya bukan lagi soal pemekaran, tapi bagaimana bertahan dan tetap membangun di tengah kebijakan efisiensi yang membuat daerah berjalan di tempat.( Ujg-tbpb )













































