PIDIE — Perayaan Uroe Lahe Pidie ke-515 di Kota Sigli berlangsung meriah. Di tengah rangkaian perayaan tersebut, kabar kebakaran justru datang dari kawasan Alue Pigoe.
Informasi mengenai kebakaran itu beredar melalui percakapan grup WhatsApp dan disertai sejumlah foto yang diterima. Dalam dokumentasi tersebut terlihat kobaran api membakar kawasan di sekitar permukiman, sementara asap tebal membubung hingga menutupi sebagian wilayah.
Peristiwa tersebut menjadi kontras dengan suasana perayaan hari lahir Kabupaten Pidie yang berlangsung pada waktu yang sama.
Saat masyarakat di Kota Sigli mengikuti berbagai kegiatan dengan suasana suka cita, warga di Alue Pigoe harus menghadapi musibah kebakaran yang disebut berdampak terhadap tempat yang selama ini digunakan untuk beraktivitas dan mencari penghidupan.
Bagi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari lokasi tersebut, kebakaran bukan hanya menyangkut kerusakan bangunan atau barang.
Kehilangan tempat bekerja dapat berpengaruh langsung terhadap kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari pangan, biaya pendidikan anak hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Musibah tersebut juga menyisakan persoalan mengenai keberlangsungan mata pencaharian warga yang terdampak.
Di tengah perayaan Uroe Lahe Pidie ke-515, kondisi itu menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat Pidie tidak hanya berlangsung di pusat kota dan lokasi perayaan.
Ada warga yang setiap hari bekerja di pelosok dan kawasan yang jauh dari pusat keramaian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Karena itu, perhatian terhadap warga yang terdampak kebakaran menjadi penting. Pemerintah daerah, instansi terkait dan masyarakat dapat berperan sesuai kewenangan masing-masing untuk memastikan kondisi warga terdampak mendapat penanganan.
Dukungan terhadap korban kebakaran juga tidak hanya berkaitan dengan bantuan darurat. Jika tempat mencari nafkah ikut terdampak, pemulihan sumber penghidupan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Perayaan hari lahir daerah pada akhirnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan melihat kondisi masyarakat secara lebih dekat.
Alue Pigoe merupakan bagian dari Pidie. Para pekerja dan keluarga yang menggantungkan hidup dari kawasan tersebut juga merupakan bagian dari masyarakat Pidie.
Uroe Lahe Pidie ke-515 pun menjadi momentum untuk mengingat bahwa di balik kemeriahan sebuah perayaan, masih ada warga yang membutuhkan perhatian dan kepedulian. (*)


















































