*Oleh: Amrizal Ujung
Setiap suku punya hak untuk menceritakan dari mana ia berasal.
Pakpak Bharat, Teropong Barat.com/Bagi sebagian besar masyarakat Pakpak di Dairi dan Pakpak Bharat, jawabannya sudah turun-temurun dan tidak pernah berubah: *”Kami adalah keturunan Si Khandal dan Si Lona, dari India Tondal”*.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalimat ini mungkin terdengar seperti mitos. Tapi jika kita bedah dengan data sejarah, bahasa, dan logika, cerita ini justru membuka wacana baru tentang bagaimana peradaban di Sumatera Utara terbentuk 1000 tahun lalu.
1. PETUNJUK PERTAMA: NAMA TIDAK PERNAH BOHONG*
Yang paling mencolok adalah kemiripan nama. Dalam tutur Pakpak disebut “India Tondal”.
Coba kita buka peta dunia. Di negara bagian Maharashtra, India, ada dua kota kembar yang terkenal: *Khandala dan Lonavala*. Keduanya daerah pegunungan, berhawa dingin, dan penuh air terjun. Persis seperti lanskap Dairi.
Nama leluhur Pakpak juga “Si Khandal dan Si Lona”. Dalam tradisi lisan dunia, para migran sering membawa nama tempat dan nama orang dari tanah asalnya. Ini bukan bukti final, tapi ini petunjuk pertama yang sangat kuat untuk diteliti lebih lanjut.

2. PETUNJUK KEDUA: SEJARAH MENCATAT BARUS*
Sekitar tahun *1025 Masehi*, sejarah mencatat peristiwa besar. Armada Kerajaan Chola dari India Selatan menyerang pelabuhan-pelabuhan di Nusantara. Salah satunya: *Barus*.
Barus saat itu adalah pusat perdagangan kapur barus terbaik di dunia. Ia disebut dalam catatan pedagang Arab abad ke-9, catatan Cina, dan *Prasasti Tanjore di India* sendiri.
Sangat logis secara sejarah jika setelah penyerangan itu, ada kelompok orang dari India yang memilih menetap. Mereka tidak kembali. Mereka masuk ke pedalaman, ke pegunungan Bukit Barisan yang aman dan subur. Dan pegunungan itu adalah yang sekarang kita sebut Dairi dan Pakpak Bharat.
3. PETUNJUK KETIGA: BAHASA ADALAH DNA BUDAYA*
Ahli bahasa dunia seperti Prof. Mark Durie dan Bernd Nothofer sepakat dalam penelitiannya: *Bahasa Pakpak itu satu rumpun dengan Bahasa Karo dan Singkil*. Sementara Bahasa Toba ada di rumpun yang berbeda.
Jika benar Pakpak adalah “anak” dari Toba, maka bahasa kita harusnya 90% mirip. Faktanya tidak. Fakta bahasa ini menguatkan bahwa Pakpak dan Toba adalah “sepupu” yang tumbuh dari akar yang sama, tapi punya jalur migrasi dan pembentukan yang berbeda.
4. PETUNJUK KEEMPAT: SISTEM ADAT KITA MANDIRI*
Sesampainya di Dataran Tinggi, leluhur kita tidak meniru sistem orang lain. Mereka membentuk pemerintahan adat yang rapi dan tua: *Pakpak Silima Suak* yaitu Klasen, Simsim, Boang, Pegagan, dan Keppas.
Struktur ini berbeda dengan `Dalihan Na Tolu` milik Toba. Ini bukti bahwa Pakpak datang dan berkembang sebagai sebuah komunitas yang sudah mandiri.
*KESIMPULAN: DUA NARASI, SATU RUMPUN BESAR*
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menolak atau memusuhi narasi dari saudara kita. Kita semua adalah bagian dari “Rumpun Batak” yang besar di Sumatera Utara. Tapi di dalam rumpun besar itu, Pakpak punya jalannya sendiri.
*Kesimpulan paling logis saat ini adalah:*
Orang Pakpak yang ada sekarang adalah hasil dari *akulturasi*. Leluhur dari India Selatan yang mendarat di Barus, bertemu dan berbaur dengan penduduk asli pegunungan, lalu menetap dan membentuk peradaban di Dataran Tinggi Dairi.
Mengakui “India Tondal” bukan berarti kita melupakan Indonesia. Justru sebaliknya. Ini bukti bahwa Indonesia, khususnya Sumatera Utara, sudah menjadi persimpangan peradaban dunia sejak 1000 tahun lalu.

Sudah saatnya tutur nini-nini kita dihargai sebagai sumber sejarah. Sudah saatnya “India Tondal” dikaji serius.
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengingat dari mana ia berasal.
Njuah-njuah._
*CATATAN REDAKSI:*
Tulisan ini merupakan opini dan hasil kajian berdasarkan tutur lisan, data linguistik, dan catatan sejarah yang ada. Kami menghargai semua versi sejarah dari setiap suku di Sumatera Utara. Tujuan tulisan ini adalah untuk membuka ruang diskusi ilmiah dan budaya, bukan untuk memecah belah.
-*DAFTAR RUJUKAN:*
1. *Sumber Primer Adat*: Tutur Lisan Lembaga Adat Pakpak Silima Suak
2. *Sumber Sejarah*: Prasasti Tanjore, India Selatan, Tahun 1030 M
3. *Sumber Catatan Asing*: Karya Al-Masudi “Muruj Adz-Dzahab” Abad ke-9 tentang Barus/Fansur
4. *Sumber Linguistik*: Durie, M. 1992. _The Grammar of Pakpak_. Nothofer, B. 1986. _The Languages of Batak_
5. *Sumber Hukum*: UU RI No. 9 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Pakpak Bharat. ( ujg-tbpb )















































