Kutacane, Teropong Barat.com | “Akibat tanggul/beronjong jebol, lahan warga di beberapa desa (Desa Bambel Gabungan, Desa Terutung Seperai, Desa Terutung Megara Asli, Desa Kuta Antara, Desa Biak Muli, dan Desa Pedesi) terancam lumpuh total.
Sumber masuk air melalui Desa Bambel Gabungan. Di sana saat ini ada tiga galian C, yaitu:
1. CV Wija Putra
2. CV Agara Gaye Sendah
3. PT Nawi Sekedang

Mohon kerja samanya untuk dapat memikirkan masyarakat, kembalikan aliran sungai ke asalnya, dan pertanggungjawabkan kerugian masyarakat, serta beronjong kembali dibangun.”
Inilah paragraf yang ditemukan media ini di sebuah akun di media sosial berinisial akun S.
Oleh karena itu, realitasnya beginilah nasib desa terdampak banjir. Tanaman perkebunan warga setempat musnah diterjang banjir. Diharapkan pihak terkait dapat menindaklanjuti kasus banjir tersebut. Diduga keras adanya pengambilan material yang melanggar aturan, yakni dekat perkampungan dan tanggul. Inilah akibatnya sehingga mengakibatkan kerugian warga miliaran rupiah.

Tokoh warga Bambel Gabungan, Pak Salman, saat dikonfirmasi membenarkan musibah banjir yang menimpa beberapa desa tersebut pada Jumat malam (9/10/2026). Di Desa Bambel Gabungan, sudah jebol 300 meter beronjong. Dipastikan, bila pemerintah Aceh tidak tanggap dan tidak menindaklanjutinya, ujar Salman, akan lebih besar lagi daerah yang terdampak. Aliran air akan berpindah ke arah utara, daerah aliran sungai berpindah total, ucapnya, dan akan menghancurkan Desa Terutung Megara Asli, Desa Kuta Antara, Desa Biak Muli, Desa Pedesi, dan sekitarnya hingga Masjid Terutung Payung, papar Pak Salman dengan nada kecewa mengakhiri komentarnya itu.
(Sadikin)















































