” Setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan lagu lama daur ulang, musik berbahasa Pakpak menemukan momentum kebangkitannya di tahun 2026.”
Oleh: Amrizal Ujung
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada kegelisahan yang lama kita rasakan namun jarang kita suarakan.
Pakpak Bharat, Teropong Barat.com//Khasanah permusikan daerah, khususnya seni musik berbahasa Pakpak, seakan tenggelam pelan-pelan. Jika pun masih terdengar di pesta-pesta adat atau di kanal YouTube, yang berkumandang hampir selalu lagu-lagu lama yang didaur ulang dan diaransemen ulang. Melodinya mungkin baru, tapi jiwanya tetap lagu lama.
Pertanyaannya: di mana lagu-lagu baru Pakpak? Di mana para pencipta lagu baru Pakpak hari ini?
Sudah sangat langka. Bahkan nyaris vakum.
Banyak faktor yang bisa kita analisa. Mulai dari pergeseran selera pasar, gempuran industri musik nasional, hingga minimnya regenerasi. Namun ada satu faktor kunci yang paling kasat mata: matinya panggung kompetisi.
Kita merindukan era tahun 80 dan 90-an, di mana Lomba Cipta Lagu Pakpak begitu booming dan konsisten digelar. Ajang itulah yang dulu menjadi rahim, melahirkan lagu-lagu legendaris, melahirkan pencipta-pencipta hebat. Ketika panggung itu hilang, hilang pula motivasi untuk berkarya.
Titik Cerah dari Tanah Rantau
Namun tahun 2026 membawa kabar yang menyejukkan.
Di tengah keheningan itu, ada keran yang akhirnya terbuka kembali. Adalah seorang generasi muda Pakpak yang justru dari tanah seberang, dari perantauan, menunjukkan kepedulian yang serius.
Namanya Arkemo Bintang.

Anak muda berbakat ini tidak sekadar mengeluh tentang kondisi musik Pakpak. Ia bertindak. Di tahun 2026 ini ia telah menciptakan beberapa lagu berbahasa Pakpak dengan aransemen yang sangat kekinian, segar, dan relevan dengan telinga generasi hari ini. Dari perantauan, ia justru mengingatkan kita di kampung halaman tentang betapa berharganya bahasa ibu kita sendiri.
Langkah Adinda Arkemo Bintang ini adalah langkah kecil yang monumental. Ia membuktikan bahwa untuk mencintai budaya Pakpak, kita tidak harus selalu berada di Dairi atau Pakpak Bharat. Cinta itu bisa dibawa ke mana saja, dan karya adalah bukti cinta yang paling jujur.
Momentum Kebangkitan
Apa yang dilakukan Arkemo Bintang menjadi semakin relevan karena momentumnya bertemu dengan sebuah kabar baik dari kampung halaman.

Lembaga Kebudayaan Pakpak (LKP) akan kembali menghidupkan ajang yang kita rindukan itu. Pada bulan September 2026 mendatang, Lomba Cipta Lagu Pakpak memperebutkan Piala Bupati Dairi akan kembali digelar di Gedung Djauli Manik, Sidikalang.
Ini bukan sekadar lomba. Ini adalah sinyal kebangkitan. Ini adalah panggung yang selama ini kita tunggu.
Untuk itu, apresiasi setinggi-tingginya patut kita sampaikan kepada Pengurus Besar Lembaga Kebudayaan Pakpak (PB-LKP). Keputusan untuk kembali menggelar lomba ini adalah keputusan yang menyelamatkan. Semoga ini menjadi titik balik.
Kini harapan itu ada di depan mata. Semoga dengan dibukanya keran yang tersumbat oleh Adinda Arkemo Bintang, akan muncul Arkemo-Arkemo lain di luar sana. Para pencipta senior yang kembali terpanggil jiwanya, dan para anak muda yang selama ini memendam lagu di dalam kamarnya kini berani untuk tampil.
Kita merindukan lagu-lagu Pakpak baru yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga memberi motivasi, membangun identitas, dan menumbuhkan kebanggaan bagi setiap orang yang mengaku sebagai Suku Pakpak.
Semoga ajang di bulan September nanti sukses, ramai, dan melahirkan karya-karya emas. Dan semoga setelah ini, lomba cipta lagu Pakpak tidak lagi vakum, melainkan menjadi agenda wajib tahunan kita.
Selamat berkarya, Adinda Arkemo Bintang. Terima kasih telah membangunkan kita semua.// ujg-tbpb,..













































