Krisis Sampah di Kabupaten Kerinci Menjadi Bukti Pengelolaan yang Buruk dan Minimnya Tindakan Konkret

- Redaksi

Kamis, 16 Januari 2025 - 20:03 WIB

40449 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

0leh: KASTRAT HMKS-SUMBAR

Pemandangan yang sangat memprihatinkan terlihat di berbagai tempat pembuangan sampah (TPS) di Kabupaten Kerinci. Sampah seakan telah menjadi ‘destinasi wisata’ yang tersebar di berbagai sudut wilayah, menciptakan lingkungan yang kotor dan terabaikan.

Tumpukan sampah rumah tangga yang memenuhi bahu jalan tidak hanya merusak pemandangan,tetapi juga mencemari udara dan tanah di sekitarnya. Pada hari Senin, 6 Januari 2025, kami melakukan penelusuran ke beberapa lokasi TPS dan menemukan fakta-fakta yang mencengangkan bukan hanya soal volume sampah yang semakin menumpuk, tetapi juga tentang minimnya perhatian dan respons serius dari pihak terkait dalam menangani persoalan yang semakin parah ini. .Salah satunya di TPS Tanjung Pauh, di mana bau busuk yang menyengat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

tercium hingga jarak 20 meter dari lokasi. Lalat hijau berterbangan di sekitar

tumpukan sampah yang menggunung. Selain itu, saluran irigasi yang berada

di dekatnya juga terhambat akibat sampah yang tersumbat, menyebabkan

aliran air terganggu dan memicu banjir yang mulai meluas ke lahan pertanian

warga. Warga setempat yang kami temui menyatakan bahwa sampah di

kawasan ini sudah lama tidak diangkut, sehingga mereka terpaksa membakar

limbah sebagai upaya mengurangi volumenya. Keadaan ini menggambarkan

betapa parahnya krisis pengelolaan sampah di Kerinci, yang semakin

mengancam kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kondisi serupa ditemukan di TPS Tanjung Tanah. Di sini, tumpukan sampah

sudah mencapai separuh badan jalan, menghalangi akses warga ke lahan

pertanian mereka. Beberapa warga yang kami temui mengaku frustasi karena

tidak ada bak sampah yang disediakan untuk menampung limbah. Mereka

mengatakan sudah berulang kali melaporkan masalah ini kepada pihak terkait,

tetapi tidak ada tindak lanjut yang memadai. Ketika berbicara dengan warga sekitar, mereka mengungkapkan kekecewaan

terhadap dinas terkait. Warga merasa pihak berwenang belum menunjukkan

itikad baik dalam menyelesaikan masalah ini. Tidak ada upaya konkret seperti

pengangkutan sampah secara rutin atau penyediaan fasilitas bak

penampungan. Bahkan, beberapa warga menyebut bahwa petugas dari dinas

terkait jarang turun langsung untuk memantau kondisi di lapangan. Saat kami menelusuri TPS Semerap,Hiang dan sungai abu, masalah serupa

kembali terulang. Tidak adanya fasilitas yang layak membuat warga

membuang sampah sembarangan di pinggir jalan atau lahan kosong. Sampah

yang menumpuk ini menjadi sumber penyakit, dengan lalat dan nyamuk yang

semakin mengganggu kehidupan masyarakat sekitar. Warga setempat mengungkapkan bahwa selain menumpuknya sampah, akses mereka ke layanan dasar juga terganggu. Irigasi yang tersumbat

menyebabkan banjir di sekitar TPS, merusak tanaman dan properti warga.

Sementara itu, minimnya akses jalan yang layak akibat sampah yang meluber

memperburuk keadaan. Hasil wawancara dan penelusuran langsung kami mengungkapkan kenyataan

yang sangat memprihatinkan: pengelolaan sampah di Kabupaten Kerinci telah

mencapai titik darurat. Ketidakpedulian pemerintah, ditambah dengan

ketidaksiapan dalam menyediakan fasilitas yang memadai, seperti mobil bak

sampah dan sistem pengangkutan yang rutin, menjadi akar dari permasalahan

yang terus berkembang ini. Kondisi ini memperburuk tumpukan sampah yang

semakin menggunung di berbagai titik, mencemari lingkungan, dan

meresahkan warga. Tak lama setelah penelusuran kami, Dinas terkait bersama rombongan

melakukan pengecekan langsung ke beberapa lokasi TPS untuk memberikan

klarifikasi mengenai masalah yang ada. Namun, yang terjadi justru sebaliknya

tindakan yang diambil sangat minim dan malah terlihat jelas adanya saling

lempar tanggung jawab antar pihak terkait. Tidak ada upaya konkret yang

dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sampai saat opini ini

kami publish, pengelolaan sampah di Kabupaten Kerinci masih terabaikan, dan masalahnya semakin memburuk tanpa ada solusi yang jelas dan efektif. Krisis sampah di Kabupaten Kerinci semakin memprihatinkan dan tidak bisa

dibiarkan berlarut-larut. Kami mendesak pemerintah daerah untuk segera

mengambil langkah tegas dalam mengatasi masalah ini. Penyediaan fasilitas

tempat pembuangan sampah (TPS) yang memadai, penjadwalan

pengangkutan sampah secara teratur, dan edukasi kepada masyarakat

mengenai dampak buruk pembuangan sampah sembarangan harus menjadi

prioritas utama. Jika tindakan konkret tidak diambil, dampak negatif terhadap

lingkungan dan kesehatan masyarakat akan semakin meluas, memperburuk

kualitas hidup warga, dan menambah beban sosial-ekonomi yang sudah

sangat terasa. Sampah di jalanan bukan hanya masalah kebersihan, tetapi

juga cerminan kegagalan kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan

rakyat. Namun, masalah ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Masyarakat harus menyadari bahwa setiap kantong sampah yang dibuang

sembarangan berkontribusi pada bencana kolektif yang semakin merusak

lingkungan. Selain itu, sektor swasta juga memiliki peran penting dalam

menjaga kelestarian lingkungan. Keuntungan yang diraih tanpa

mempertimbangkan tanggung jawab lingkungan hanya akan memperburuk

keadaan dan merusak masa depan. Maka dari itu, bagi setiap pihak baik

pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha harus bersatu padu dan

bertanggung jawab dalam menangani permasalahan sampah ini. Sampah

adalah tanggung jawab kita bersama.

Berita Terkait

Dugaan Aktivitas BBM Mencurigakan di Lorok Ogan Ilir Disorot, Warga Minta Polisi Transparan
Menguji Integritas Ade Kurniawan, Di Balik Skandal Klarifikasi Palsu UPTD VI BMBK Lampung
Dukung Sensus Ekonomi, LAMR Kepulauan Meranti Sambut Hangat Kunjungan Kepala BPS
Perkuat Sinergi Penegakan Hukum, Lapas Kelas IIA Binjai Hadiri Pemusnahan Barang Bukti Inkracht di Kejari Binjai
APBK Aceh Singkil 2026 Akhirnya Disahkan
Pungutan Perpisahan Sekolah Bisa Jadi Pungli: Ketua Bidang Pendidikan PWMOI Pekanbaru Desi Novita: Stop Bebani Orang Tua!
Babinsa Hadir di Tengah Petani, Panen Padi di Dusun Pundingin I Makin Semangat
Terima Rekomendasi LKPJ 2025,Pemkab Langkat Fokus Perbaiki Layanan dan Tuntaskan Masalah Lahan

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 20:39 WIB

Menguji Integritas Ade Kurniawan, Di Balik Skandal Klarifikasi Palsu UPTD VI BMBK Lampung

Kamis, 5 Februari 2026 - 11:49 WIB

Ketua Umum LPK-GPI Muhammad Ali, S.H. Soroti Dugaan Jual Beli LKS di SDN 2 Way Halim.

Senin, 26 Januari 2026 - 22:38 WIB

Police Goes to School! Bhabinkamtibmas Polsek Banjar Agung Tanamkan Edukasi Anti Narkoba, Anti Bullying, dan Bijak Bermedsos di SMPN 03

Sabtu, 24 Januari 2026 - 20:20 WIB

Polsek Banjar Agung Tancap Gas Tengah Malam, Satkamling Diperkuat Demi Jaga Kondusifitas Wilayah Tulang Bawang

Jumat, 23 Januari 2026 - 19:47 WIB

Gelorakan Hidup Sehat, Polres Tulang Bawang Tunjukkan Soliditas Lewat Senam Aerobik Bersama

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:48 WIB

Bangun Moral dan Spiritual Personel, Polres Tulang Bawang Gelar Binrohtal Islam Penuh Kekhidmatan

Rabu, 21 Januari 2026 - 20:02 WIB

Arahan Kapolda Lampung Jadi Momentum Penguatan Soliditas dan Kinerja Jajaran Kapolres Tulang Bawang Tegaskan Jaga Stabilitas Keamanan Dan Ketertiban Masyarakat

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:26 WIB

Jamin Kondusifitas Sengketa Lahan Tiga Kampung Masuk Tahap Penentuan Titik, Polda Lampung dan Polres hadir untuk memastikan seluruh proses berjalan transparan, objektif, dan berkeadilan.

Berita Terbaru

NASIONAL

“Mediasi gagal, sengketa kantor PDIP REMBANG NAIK RING”

Jumat, 24 Apr 2026 - 01:59 WIB