SUBULUSSALAM – TEROPONGBARAT.COM
Di tengah kepungan banjir yang melanda sejumlah wilayah Kota Subulussalam, kepedulian terhadap sesama kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Subulussalam kembali turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi masyarakat sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak.
Ketua PMI Kota Subulussalam bersama empat personel pengurus, staf, dan relawan menyambangi tiga desa di Kecamatan Runding, yakni Desa Sibungke, Binanga, dan Oboh.
Adapun personel yang terjun langsung dalam kegiatan kemanusiaan tersebut terdiri dari Syafrizal Solin (pengurus), Aldi Hutabarat (relawan), Nia Delita (pengurus), Rahmad Anjir (staf), dan Sarkawi Mursin (relawan).
Kehadiran tim PMI bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga memastikan secara langsung kondisi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan akibat bencana banjir.
Bantuan yang disalurkan meliputi paket pakaian, perlengkapan gotong royong, kebutuhan lansia, kebutuhan balita, serta obat-obatan.
Namun, perjalanan kemanusiaan tersebut tidak sepenuhnya mudah. Hingga saat ini, akses menuju Desa Oboh masih belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena jalan menuju desa tersebut masih tergenang air dan dipenuhi lumpur.
“Untuk saat ini, akses menuju Desa Oboh masih belum bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena jalan masih tergenang air dan berlumpur,” jelas Aldi Hutabarat, salah seorang relawan PMI yang turut turun langsung ke lokasi.
BANTUAN MASIH TERBATAS, KEBUTUHAN BALITA PERLU PERHATIAN
Di balik upaya penyaluran bantuan tersebut, PMI Kota Subulussalam mengakui bahwa bantuan yang tersedia masih jauh dari kata mencukupi jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat terdampak banjir.
Terlebih, kebutuhan balita masih sangat kurang dan memerlukan perhatian serius. Kondisi ini menjadi salah satu hal yang akan segera dilaporkan kepada PMI tingkat provinsi maupun pusat agar dapat ditindaklanjuti melalui dukungan bantuan tambahan.
“Memang kami akui bantuan yang disalurkan masih jauh dari kata cukup. Apalagi kebutuhan balita masih sangat kurang. Insyaallah, kondisi ini segera kami laporkan ke PMI Provinsi dan PMI Pusat agar kebutuhan masyarakat terdampak bisa mendapatkan perhatian lebih lanjut,” terang Nia Delita.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan kemanusiaan tersebut diketahui oleh PMI Provinsi, PMI Pusat, serta Pemerintah Kota Subulussalam.

PMI HADIR BUKAN KARENA KEWAJIBAN, MELAINKAN PANGGILAN KEMANUSIAAN
Ada filosofi mendalam di balik setiap langkah pengurus dan relawan PMI. Bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan, jarak, maupun sulitnya medan yang harus ditempuh.
Prinsip dasar Palang Merah mengajarkan bahwa pertolongan harus diberikan berdasarkan kebutuhan kemanusiaan, tanpa membedakan latar belakang, golongan, maupun kondisi sosial masyarakat.
PMI bukan sekadar organisasi yang hadir ketika bencana terjadi. PMI adalah gerakan kemanusiaan yang menempatkan keselamatan, martabat, dan kehidupan manusia sebagai prioritas utama.
Banjir mungkin memutus akses jalan, merendam rumah, mengganggu aktivitas, bahkan membatasi kebutuhan hidup masyarakat. Namun, jangan sampai bencana juga memutus mata rantai kepedulian antarsesama.
Anak-anak membutuhkan perhatian, balita memerlukan kebutuhan khusus, para lansia membutuhkan perlindungan, dan keluarga terdampak membutuhkan uluran tangan.
Karena itu, PMI Kota Subulussalam berharap adanya perhatian dan dukungan berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat luas, agar kebutuhan warga terdampak banjir di Kecamatan Runding dapat terpenuhi.
Sebab, kemanusiaan bukan tentang seberapa banyak yang mampu kita berikan, melainkan seberapa tulus kita hadir ketika sesama sedang membutuhkan pertolongan.
Di tengah banjir dan keterbatasan, kehadiran relawan menjadi pesan bahwa masyarakat tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Itulah makna sesungguhnya dari pengabdian kemanusiaan. (*)















































