Opini oleh Warga Dusun Sukaramai Atas / Uruk, Desa Sukaramai, Kec. Kerajaan.
Air begitu vital dan sakral. Dengan air bersih, semua doa bisa terwujud — kebersihan wajah dan batin kita diawali dengan wudhu yang bersih.
1. Pintu Gerbang yang Menjadi Cermin
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap kabupaten punya wajah. Punya pintu gerbang yang menjadi kesan pertama bagi siapa pun yang datang. Bagi Kabupaten Pakpak Bharat, wajah itu adalah Sukaramai Uruk.
Desa Sukaramai, Kecamatan Kerajaan adalah tapal batas awal, beranda pertama menuju Pakpak Bharat. Siapa pun yang ingin tahu bagaimana Pakpak Bharat, cukup mampir sejenak di Sukaramai Uruk, duduk dan berbincang dengan masyarakatnya.
Sayangnya, wajah gerbang ini hari ini belum tersenyum utuh. Ia tegar menyambut, namun menyimpan kegelisahan yang sudah puluhan tahun dipendam. Penerangan jalan yang masih temaram, kebersihan lingkungan yang jauh dari ideal, infrastruktur jalan yang tertinggal, dan yang paling perih: krisis air bersih yang tak pernah merdeka.
2. Persoalan Lama yang Hasilnya Masih NOL Besar
Soal air bersih di Dusun Sukaramai Atas/Uruk bukan cerita baru. Ini luka lama yang tak pernah benar-benar diobati.
Kita sudah mendengar banyak nama program. Pamsimas, proyek APBD, dan berbagai program lain informasinya sudah digelontorkan. Anggaran disebut-sebut tidak kecil. Tapi sampai hari ini, Agustus 2026, hasilnya bisa kita katakan: NOL besar. Pipa ada yang terpasang tapi tak mengalirkan harapan. Sumber air masih jauh. Warga masih harus berjuang setiap hari hanya untuk kebutuhan paling dasar.
Ini menimbulkan pertanyaan korektif bagi kita semua: di mana letak putusnya mata rantai? Apakah di perencanaan yang tidak berbasis kebutuhan riil warga? Di pengawasan yang lemah? Atau di keberlanjutan pemeliharaan yang tidak pernah dipikirkan setelah proyek diresmikan?
Air bukan sekadar proyek fisik. Air adalah manajemen, komitmen, dan keberpihakan.

3 Tiga Tipe Pemimpin .di Mata Rakyat
Berganti kepemimpinan, berganti pula gaya dan selera dalam meramu konsep pembangunan. Rakyat di warung kopi dan di ladang saat mardang sudah sangat paham memetakannya.
Ada tipe pemimpin yang paham masalah, tapi tidak berbuat apa-apa.
Ada yang paham, tapi hanya berhenti di retorika dan spanduk.
Dan ada yang sangat paham dan mampu, tapi entah mengapa tidak suka untuk merealisasikannya di pintu gerbang ini.
Padahal yang dibutuhkan Sukaramai Uruk hari ini bukanlah janji megaproyek. Yang dibutuhkan adalah sosok kepemimpinan yang cerdas, kuat, visioner, dan solutif — yang mampu melihat bahwa membangun gerbang berarti membangun marwah satu kabupaten.
4. Ketika Apatisme Mulai Tumbuh di Tengah Efisiensi
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan efisiensi anggaran di pusat yang memotong anggaran daerah dan desa. Bagi dusun yang sudah lama haus, kabar pemotongan ini terasa sangat menyedihkan.
Akibatnya, masyarakat mulai apatis dan pesimis. Harapan yang dulu diteriakkan, kini hanya menjadi bisik-bisik. Seolah yang tersisa hanya menunggu keajaiban, walau akal sehat berkata itu mustahil.
Ini yang paling berbahaya. Ketika rakyat penghasil tokoh-tokoh pejuang pemekaran Kabupaten Pakpak Bharat dari Kabupaten Dairi dulu — wilayah yang banyak melahirkan pemikir — merasa terlupakan dan terpinggirkan. Jika semangat di gerbangnya saja padam, bagaimana dengan isi rumahnya?
Kegelisahan kami sederhana saja: kami malu jika tamu yang singgah di warung kami, yang ingin ke kamar mandi atau beristirahat dan beribadah di masjid kami, mendapati air kosong dan berbau. Malu kita sebagai tuan rumah yang ramah.

5. Harapan di Usia 23 Tahun Pakpak Bharat
Tahun 2026 ini Kabupaten Pakpak Bharat berusia 23 tahun. Usia yang sudah beranjak dewasa, matang dalam sikap dan pemikiran. Republik Indonesia pun akan merayakan 81 tahun kemerdekaannya bulan ini.
Apa arti merdeka jika untuk berwudhu saja kita masih kesulitan air bersih?
Namun, tulisan ini bukan untuk meratap. Ini adalah catatan korektif penuh cinta. Masyarakat Sukaramai Uruk masih memberikan pemikiran positif dan dukungan penuh kepada kepemimpinan periode kedua pasangan muda dan tua yang memimpin saat ini. Kami masih percaya.
Kami tidak menuntut keajaiban. Kami menuntut kejelasan: Pemetaan sumber air yang valid, dan sebuah roadmap pipanisasi yang transparan dan melibatkan warga Uruk secara langsung.
Semoga Tuhan dan alam semesta memberikan yang terbaik untuk Pakpak Bharat tercinta. Ketabahan, kesabaran, dan doa akan terus kami panjatkan, agar kelak — entah di kepemimpinan siapa — air itu benar-benar mengalir sampai ke dalam rumah-rumah kami.
Karena ketika air mengalir di Uruk, sejatinya Pakpak Bharat sedang tersenyum.
Njuah-juah.
( Ujg-tbpb )..













































