KUTACANE – Pembiaran tanggul kritis yang tak kunjung diperbaiki berujung petaka bagi petani di Kabupaten Aceh Tenggara. Luapan air sungai dengan cepat menggenangi lahan perkebunan masyarakat hingga memicu ancaman gagal panen massal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi di Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara. Luapan Sungai Alas merendam ratusan hektare sawah dan kebun jagung milik warga setelah tanggul penahan di titik kritis jebol diterjang arus. Air bercampur lumpur dan material kayu gelondongan masuk ke areal produktif dan menutupi tanaman yang baru tumbuh.
Pantauan di lokasi pada 10 Oktober 2026 menunjukkan kondisi lahan masih tergenang dan dipenuhi tumpukan batang pohon serta sampah sungai. Akar tanaman tertutup lumpur tebal, pematang sawah rusak, dan akses petani menuju kebun terputus. Sejumlah petani terpaksa menghentikan aktivitas karena tanaman tidak lagi dapat diselamatkan.
Warga menyebut, kerusakan tanggul di Desa Bambel Gabungan bukan persoalan baru. Titik tanggul kritis tersebut telah lama dilaporkan mengalami keretakan dan penurunan, namun belum pernah mendapat perbaikan permanen. Penanganan yang dilakukan selama ini dinilai hanya bersifat sementara dan tidak mampu menahan debit besar saat hujan mengguyur kawasan hulu.
Kondisi ini menimbulkan kerugian berulang bagi petani. Lahan yang menjadi urat nadi ekonomi keluarga setiap tahun terancam tenggelam hanya karena infrastruktur pengaman sungai dibiarkan tanpa perawatan. Petani di Bambel Gabungan mendesak Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk segera melakukan perbaikan tanggul secara menyeluruh, melakukan pengerukan sungai, serta memperkuat tebing di sepanjang aliran Kali Alas agar bencana serupa tidak terus berulang. (SADIKIN)















































