Jambi Terancam Senyap di Tengah Emas yang Hilang

- Redaksi

Rabu, 17 Desember 2025 - 20:01 WIB

40143 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Opini-Teropongbarat.com||Mahasiswa Program Megister Ilmu Hukum Universitas Jambi.Ilham Nim P2B125025.Lumpur keruh Sungai Batanghari bukan lagi misteri, melainkan cerminan nyata dari kegagalan tata kelola sumber daya alam di Jambi. Ketika kita membicarakan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), kita tidak hanya berbicara tentang kejahatan lingkungan biasa. Kita berbicara tentang kejahatan politik hukum yang terstruktur, di mana aturan yang keras tumpul di hadapan kepentingan ekonomi dan politik tersembunyi.
Provinsi Jambi adalah salah satu hotspot PETI terbesar di Sumatera. Mulai dari Merangin, Sarolangun, hingga Bungo, emas liar mengeruk kekayaan sambil merusak ekosistem (DAS) daerah aliran sungai Batanghari. Pertanyaannya, mengapa sanksi pidana yang tercantum dalam UU Minerba (ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp100 miliar) tidak mampu menghentikan praktik ilegal ini? Jawabannya terletak pada dinamika politik hukum yang lemah di tingkat daerah.
Dua Sisi Mata Uang: Hukum yang Keras, Penegakan yang Lemah
Secara substansi hukum, Jambi sudah memiliki instrumen yang kuat. Regulasi Minerba dan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) menyediakan landasan tegas untuk menindak PETI. Namun, masalahnya terletak pada dua komponen hukum : Struktur dan Kultur.
1. Hambatan Struktural: Jaringan Politik di Balik Ekskavator
Di lapangan, penindakan hukum seringkali hanya menyasar “operator” atau “pekerja” yang diupah harian. Jarang sekali kita melihat pemodal besar (pemilik backhoe dan penyedia modal) dijerat hingga ke akar-akarnya.
Hal ini menunjukkan adanya imunitas yang dibentuk oleh jaringan politik dan birokrasi lokal. PETI di Jambi telah berevolusi menjadi “ekonomi bayangan” yang melibatkan aliran dana yang besar. Ketika penegak hukum (Polda atau Kejaksaan) berusaha menindak, mereka berhadapan dengan tembok backing oknum yang memiliki kekuasaan atau pengaruh politik.
Kondisi ini menciptakan sinyal politik yang fatal: hukum tertulis hanya berlaku bagi yang lemah, sedangkan pemodal kebal terhadap aturan.
2. Dilema Politik Kebijakan: Antara Konservasi dan Kesejahteraan
Pemerintah Provinsi Jambi berada dalam dilema kebijakan yang sulit. Di satu sisi, ada tuntutan untuk mengkonservasi DAS Batanghari. Di sisi lain, ada tekanan sosial-ekonomi di mana masyarakat lokal sudah bergantung pada PETI.
Upaya untuk melegalkan PETI melalui skema Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) seringkali tidak efektif dan justru dimanfaatkan oleh pemodal untuk menutupi operasi ilegal mereka. Hal ini mencerminkan kegagalan politik hukum dalam merumuskan solusi komprehensif. Solusi seharusnya berorientasi pada pemutusan rantai pemodal, diikuti oleh program livelihood transfer (pengalihan mata pencaharian) yang nyata bagi masyarakat, bukan sekadar penertiban sesaat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jalan Keluar: Melawan Impunitas dengan Politik Hukum yang Tegas
Untuk menyelamatkan Jambi dan (DAS) Daerah Aliran Sungai Batanghari, dibutuhkan intervensi politik hukum yang radikal dan berani:
1. Terapkan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang): Polisi dan Kejaksaan di Jambi harus berhenti fokus pada alat berat yang disita. Mereka harus menelusuri aliran dana dan kekayaan yang dihasilkan dari PETI. Hanya dengan memiskinkan pemodal, praktik ilegal ini dapat benar-benar dihentikan.
2. Transparansi dan Pengawasan Lintas Sektor: Pemerintah Pusat harus mendukung penuh (secara anggaran dan politik) upaya penertiban PETI oleh Polda Jambi tanpa adanya intervensi politik dari stakeholders di Jakarta atau di daerah. Perlu dibentuk Satgas gabungan yang imparsial dan memiliki otoritas penuh.
3. Reformasi Birokrasi Daerah: Pimpinan daerah harus memastikan bahwa tidak ada satupun aparat atau pejabat yang terlibat dalam melindungi PETI. Keterlibatan aparat/backing adalah bentuk korupsi struktural yang harus ditindak tegas.
Jambi hari ini membutuhkan lebih dari sekadar penindakan hukum; Jambi membutuhkan kemauan politik untuk menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi, di atas kepentingan uang dan kekuasaan. Kegagalan menindak PETI adalah kegagalan politik, dan kegagalan politik adalah ancaman nyata bagi masa depan Jambi.

 

Berita Terkait

Sambut Hari Listrik Nasional, PLN Berikan Kemudahan Tambah Daya Listrik bagi Pelanggan
Peningkatan SDM Masyarakat dan Masadepan Indonesia berada ditangan Presiden RI
Wakil Bupati Batu Bara Ajak Guru Bersatu Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Perangi Narkoba*
Wali Kota Tanjungbalai Dukung Kegiatan ANANDA BERSINAR Goes To School, Wujudkan Generasi Emas Tanjungbalai Yang Sehat, Cerdas dan Bersih Dari Narkoba
Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Pemusnahan Bersama Barang Menjadi Milik Negara (BMMN) dan Barang Bukti Yang Berkekuatan Hukum Tetap oleh Bea dan Cukai serta Kejari Tanjungbalai
Ceria dan Edukatif! Polisi Satwa Korsabhara Polri Kenalkan K-9 dan Kuda Turangga ke Anak-Anak TK Islam Amaryllis*
KAPAL POLISI XXI-2007 DITPOLAIRUD POLDA NTB SALURKAN 1,7 TON AIR BERSIH UNTUK MASYARAKAT PESISIR SEKOTONG
Respons Cepat Kericuhan Mapolda Ketum AKPERSI Apresiasi Kapolrestabes Palembang

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 01:16 WIB

Dari 52 Napi Kabur Maret 2025 Tersisa 6 Orang, Satu yang Baru Ditangkap Tewas, Kalapas: Kami Sudah Bawa Ambulans

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Jalan Nasional Berubah Jadi Sungai, Truk BBM Tertahan: Ironi Infrastruktur di Aceh Tenggara

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita

Senin, 26 Oktober 2026 - 04:18 WIB

Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat Kirim Alat Berat Rusak, Bupati Aceh Tenggara: Kami Sangat Kecewa dengan Vendor Pusat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:48 WIB

Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Video 4,6 Ribu Penonton Bongkar Borok Banjir Abadi Desa Kuning 1, Warga Aceh Tenggara Pilih Mengadu ke Gubernur Jawa Barat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 00:49 WIB

Ada Apa dengan Asesmen Medis Lapas Kutacane, Buron dengan Riwayat Paru-Paru dan Lambung Dibiarkan Hingga Tewas Setelah Ditangkap

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:35 WIB

Banjir Susulan Rendam Desa Kuning I, Warga Aceh Tenggara Tagih Solusi Nyata Pemerintah

Berita Terbaru

SUBULUSSALAM

Dua Pelatih Subulussalam Kawal Keshia Solin Menuju Panggung Nasional

Selasa, 27 Okt 2026 - 22:43 WIB