Tangerang, Banten// Komplek Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok, Desa Sukamantri Pasar Kemis, dipadati ribuan jamaah Kamis malam, 18 Juni 2026. Kepadatan terjadi saat pesantren menggelar Rilisan Santri yang dirangkai istighosah dan doa bersama.
Sejak ba’da Magrib arus kendaraan dari Pasar Kemis hingga Jalan Taman Jayakarta-Puri Jaya merayap padat. Jamaah datang dari Banten, Jakarta, Bogor, hingga luar kota untuk ziarah dan sowan. Pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok menjadi saksi bagi ribuan orang yang datang. Tempat yang dihormati ini bukan hanya sekadar institusi keagamaan, tetapi juga tempat mencari petuah bijak dan kearifan yang menjadi pencerahan bagi para pengunjung.
Ponpes yang didirikan 1957 oleh Abuya KH. Ahmad Dimyathi memang jadi tujuan wisata religi harian. Maqbaroh Abah KH. Dimyati, Ibu Hj. Nihayah, dan Abah KH. Uci Turtusi selalu ramai peziarah.
Ziarah dan sowan bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang sarat makna. Niat tulus menekankan pentingnya menerima segala sesuatu sebagai takdir Ilahi. Salah satu jamaah mengutarakan, “Apa-apa yang kita jalani sekarang tidak lepas dari kehendak Allah. Kita boleh punya cita-cita, tapi jangan lupa dengan garis takdir yang sudah ditentukan. Karena semua sudah diatur oleh Allah SWT.”
Kami tidak hanya mencari berkah fisik dari tempat ini, tetapi juga mendambakan petuah bijak yang membimbing kehidupan sehari-hari. Ziarah dan sowan jadi momen merenung dan memperdalam hubungan dengan Sang Pencipta. Di pondok pesantren ini, jamaah menemukan kedamaian dalam berdoa dan berinteraksi dengan para ulama. Suasana spiritual yang tercipta memberikan inspirasi dan kekuatan untuk menjalani hidup dengan sabar, ikhlas, dan pasrah kepada kehendak Ilahi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ditambah momentum malam Jumat mustajab, jamaah makin berlipat ganda. “Alhamdulillah niat kita satu: mengaji, berdoa, sekalian ziarah ke maqbaroh para guru,” ujar Ustadz Yayan jamaah asal Kota Tangerang
Masjid bergaya Masjid Agung Banten dan area maqbaroh penuh jamaah yang bertahlil dan berdoa. Di luar komplek, PKL menjajakan bunga ziarah, makanan, hingga perlengkapan sholawat.
Pihak pesantren mengimbau jamaah menjaga ketertiban dan kekhusyukan. Gapura putih gaya Keraton Kaibon di pintu masuk jadi patokan bagi jamaah baru. Bagi para pelancong rohani, Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok tidak hanya destinasi fisik, tetapi juga destinasi spiritual yang memberi wawasan dan kebijaksanaan.
Redaksi
Teropongbarat.com
Yayan


















































