Subulussalam, teeopongbarat.com. Semangat perjuangan warga transmigrasi Dusun IV Desa Lae Saga, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, terus berkobar di tengah konflik agraria yang mereka hadapi. Di bawah terik matahari, warga tetap kompak berdiri bersama mempertahankan lahan sawit yang selama ini mereka kelola dan perjuangkan secara turun-temurun.
Kuasa warga transmigrasi, Darwin Syahputra, menegaskan bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam menghadapi pihak-pihak yang dianggap berusaha merampas dan mengkebiri hak petani sawit transmigrasi Lae Saga.
“Setiap hak warga akan kita perjuangkan, baik secara pidana maupun perdata, melawan pihak-pihak yang berusaha menzalimi dan mengkebiri hak petani sawit transmigrasi Lae Saga,” tegas Darwin Syahputra di hadapan warga.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan penuh semangat, Darwin menyampaikan bahwa budaya gotong royong dan kebersamaan masyarakat transmigrasi merupakan warisan leluhur yang tidak akan pernah hilang meski menghadapi tekanan dan konflik.
“Semangat gotong royong ini adalah warisan dari leluhur kita. Ketika hak kita dirampas dan rakyat kecil ditindas, maka kita wajib berdiri bersama mempertahankannya,” ujarnya dengan nada penuh semangat yang langsung disambut dukungan warga.
Sebagai perwakilan warga yang diberi kuasa mengelola kebun masyarakat Dusun IV Lae Saga, Darwin juga meminta masyarakat tetap tenang dan percaya terhadap proses hukum yang sedang berjalan.
“Kita tunggu proses hukum yang sedang berjalan. Yang penting masyarakat tetap solid, jangan terpecah, karena kekuatan kita ada pada persatuan,” tambahnya.

Pernyataan itu semakin membakar semangat warga yang selama ini merasa hak atas lahan transmigrasi mereka sedang dipersoalkan oleh pihak-pihak tertentu melalui klaim AJB dan surat kuasa yang diperdebatkan legalitasnya.
Di lokasi sengketa, warga terlihat terus menjaga kebersamaan. Kaum ibu, bapak-bapak, hingga para pemuda ikut menunjukkan solidaritas sebagai bentuk dukungan moral terhadap perjuangan mempertahankan hak mereka.
Bagi masyarakat transmigrasi Lae Saga, tanah bukan sekadar kebun sawit, tetapi sumber kehidupan, tempat menggantungkan masa depan keluarga, sekaligus hasil perjuangan panjang sejak membuka kawasan tersebut secara gotong royong.
Kini warga berharap aparat penegak hukum dapat bertindak adil dan profesional dalam menyelesaikan konflik agraria di kawasan transmigrasi Longkib agar masyarakat kecil tidak terus menjadi korban ketidakpastian hukum dan dugaan praktik mafia tanah.(@)

















































