LANGKAT,Teropong Barat.com- Pemadaman listrik massal (*blackout*) yang melanda wilayah Sumatera telah memasuki durasi lebih dari 24 jam. Di Kabupaten Langkat, hingga Sabtu (23/5/2026) pukul 20.30 WIB, listrik di sejumlah titik masih belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini memicu gelombang kekecewaan dari berbagai pihak, salah satunya datang dari Wakil Sekretaris DPD KNP Kabupaten Langkat, Muhammad Nafi, S.Pd.
Nafi mengutuk keras pemadaman berulang yang berdampak sistemik terhadap ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta sektor pelayanan publik.
Ia menilai, pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya ini mencerminkan buruknya manajemen mitigasi di tubuh PLN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sangat disayangkan, pihak PLN baru memberikan pernyataan maaf setelah terjadi pemadaman massal di seluruh Sumatera dengan dalih gangguan cuaca. Kami menegaskan, jika ditemukan unsur kelalaian, harus ada evaluasi besar-besaran, mulai dari jajaran pimpinan PLN hingga otoritas terkait di sektor energi,” ujar Nafi, Minggu (24/5/2026).
Lebih lanjut, Nafi mendesak Presiden untuk mengambil langkah tegas. Menurutnya, negara tidak boleh abai terhadap kerugian masif yang dialami masyarakat Sumatera. “Kami meminta Presiden mengevaluasi Dirut PLN dan Menteri ESDM. Jika ada kelalaian serius, pihak yang bertanggung jawab harus menerima konsekuensinya,” tambahnya.
**Fenomena Dampak *Blackout* di Kecamatan Stabat*
Selama periode pemadaman massal, Kecamatan Stabat mengalami sejumlah fenomena sosial dan ekonomi:
*Panic Buying:Lonjakan permintaan lampu *emergency*, perlengkapan darurat, hingga lilin di ritel modern (Alfamart/Indomaret).
*Spekulasi Harga:Terpantau kenaikan harga lampu darurat di beberapa titik penjualan.
*Disrupsi Ekonomi: Banyak warung dan tempat makan tutup total karena tidak bisa beroperasi, sementara sebagian lainnya dipadati warga yang mencari daya untuk perangkat elektronik.
*Mobilitas Warga: Antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU, dan aktivitas penarikan uang tunai di ATM meningkat drastis
*Perubahan Perilaku: Warga terpaksa keluar rumah menuju pusat kota hanya untuk mencari area yang lebih terang atau sekadar mencari aliran listrik.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan masyarakat Stabat Sugianto mendesak PLN untuk transparan mengenai penyebab gangguan, bukan sekadar memberikan permintaan maaf formal. Ia menuntut solusi nyata untuk menjamin stabilitas pasokan listrik ke depan agar produktivitas warga tidak terhambat.
Hingga laporan ini diturunkan, masyarakat Langkat masih menunggu pemulihan listrik sepenuhnya dan berharap tidak ada lagi kejadian serupa yang merugikan kepentingan publik.
(Redaksi)


















































