Kutacane, TeropongBarat.com — Seorang pria yang mengaku sebagai Wakil Gubernur Aceh berinisial F, dengan nomor WhatsApp 6285882889382, diduga melakukan penipuan terhadap keluarga warga Aceh Tenggara (Agara) yang memiliki anak dengan gangguan jiwa. Kasus ini terungkap pada Rabu, 21 Mei 2025.
Korban adalah keluarga Ilham, seorang pemuda dari Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara, yang telah mengalami gangguan kejiwaan selama 20 tahun. Pelaku, sebelum mengaku sebagai Wakil Gubernur, sempat menjanjikan kepada orang tua Ilham bahwa ia akan membantu pengobatan Ilham ke Rumah Sakit Jiwa Zainal Abidin di Banda Aceh. Alasannya, fasilitas dan ketersediaan obat di RSUD Kutacane dinilai kurang memadai untuk menangani pasien gangguan jiwa.


ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komunikasi dilakukan melalui akun Messenger yang menggunakan nama “Fadlullah, SE.” Dalam percakapannya, pelaku meyakinkan keluarga bahwa akan membantu biaya pengobatan tersebut.
Namun, beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Rabu (21/5), pelaku kembali menghubungi orang tua Ilham. Ia meminta agar dana sebesar Rp1.300.000 dikirimkan ke rekening yang diklaim sebagai milik anak yatim di Kabupaten Meulaboh. Setelah dikirim, uang tersebut ternyata tidak bisa ditarik oleh penerima karena tidak muncul dalam sistem bank. Orang tua Ilham kemudian mengecek melalui layanan internet di Kantor Kominfo Aceh Tenggara.
Saat dicek ulang dan diminta bukti pengiriman, pelaku justru mendorong agar orang tua Ilham mengirimkan uang pribadi terlebih dahulu ke rekening atas nama “Wulan.” Karena tidak memiliki uang, terjadi perdebatan sengit antara kedua pihak. Percakapan tersebut sempat didengar oleh staf sopir di Kominfo Agara yang merasa heran dan curiga.
“Sangat tidak masuk akal, masa seorang Wakil Gubernur meminta uang kepada rakyat kecil. Bisa saja itu suara dan foto yang sudah diedit,” ujar sopir tersebut.
Ia juga menyatakan bahwa modus ini terindikasi sebagai penipuan dan meminta aparat penegak hukum (APH) segera memproses hukum pelaku. Saat ditanya posisi pelaku, akun WhatsApp dan Messenger langsung memblokir komunikasi dengan keluarga korban.
Kasus ini menjadi pelajaran agar masyarakat lebih waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan pejabat.
(Sadikin)

















































