Ketika Demokrasi Direduksi Jadi Joget dan Provokasi Dinda Rosanti Salsa Bela, S.IP., M.I.P (Dosen Ilmu Pemerintahan UNJA)

- Redaksi

Senin, 22 September 2025 - 11:19 WIB

4091 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Opini-TeropongBarat.Com||Katanya kita hidup di era demokrasi. Katanya rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi. Katanya wakil rakyat adalah corong suara masyarakat. Tapi belakangan ini, demokrasi di Indonesia justru makin terasa seperti panggung hiburan lengkap dengan musik, tarian, dan drama politik murahan.
Di luar gedung DPR, rakyat berpanas-panasan turun ke jalan. Mereka menuntut agar RUU Perampasan Aset segera disahkan supaya harta koruptor bisa kembali ke negara. Mereka juga marah soal tunjangan DPR yang nilainya fantastis seolah wakil rakyat hidup di dimensi lain, jauh dari realitas rakyat kecil yang makin susah bayar kebutuhan pokok.
Namun, apa yang tampak di dalam gedung megah itu? Wakil rakyat berjoget, tertawa, bersenda gurau, seolah tidak ada krisis. Joget itu kemudian viral, bukan karena lucu, tapi karena jadi simbol telanjang dari jarak antara penguasa dan rakyat. Demokrasi pun direduksi: bukan lagi ruang untuk debat gagasan, tapi panggung untuk joget dan pencitraan.
Lalu muncullah fenomena klasik: setiap aksi turu kejalan selalu dibayangi isu provokasi dan penunggangan elit. Dan kali ini, sulit dibantah memang ada upaya menunggangi kemarahan rakyat. Tuntutan yang sejatinya murni, seperti RUU Perampasan Aset atau evaluasi tunjangan DPR, tiba-tiba dibelokkan oleh provokator. Poster provokatif, orasi yang menghasut, bahkan kericuhan terencana muncul di tengah massa. Rakyat yang berniat menyuarakan aspirasi justru terseret dalam permainan politik segelintir elit yang ingin memecah belah.
Inilah ironi demokrasi kita: suara rakyat selalu rawan diperalat. Aksi jalanan yang seharusnya jadi simbol kontrol publik terhadap penguasa, malah sering dijadikan komoditas politik. Elit memprovokasi, massa terpancing, dan substansi tuntutan pun tenggelam di balik kericuhan. Yang semula bicara soal keadilan dan korupsi, tiba-tiba berubah jadi adu bentrok. Yang semula menuntut RUU Perampasan Aset, berubah jadi headline “aksi ricuh”.
Tentu, bukan berarti tuntutan rakyat tidak sah. Justru sebaliknya, substansi tuntutan sangat penting. Rakyat punya hak penuh untuk marah ketika DPR asyik menunda RUU Perampasan Aset yang jelas-jelas dibutuhkan, sementara dengan cepat meloloskan tunjangan fantastis untuk dirinya sendiri. Tapi ketika ada provokasi yang ditunggangi elit, marah rakyat ini dipelintir menjadi bahan pecah belah. Rakyat jadi sibuk saling curiga, sementara penguasa dengan enteng bisa berkata: “Lihat, aksi mereka hanya rusuh, bukan aspirasi.”
Satirnya, di negeri ini koruptor bisa hidup nyaman, DPR bisa berjoget dengan tunjangan selangit, tapi rakyat yang marah justru dicurigai dan diadu domba. Demokrasi seolah hanya butuh dua elemen: joget di panggung elit, dan provokasi di jalanan rakyat. Dua-duanya sama-sama menjauhkan kita dari esensi demokrasi yang sebenarnya: keterbukaan, partisipasi, dan keadilan.
Lalu apa artinya demokrasi kalau ruang rakyat selalu dibajak? Apa artinya wakil rakyat kalau lebih sibuk berjoget daripada mendengar jeritan konstituennya? Apa artinya aksi massa kalau selalu dipelintir jadi alat provokasi elit? Pemerintah dan DPR harus berhenti menutup mata. Pertama, segera sahkan RUU Perampasan Aset karna itu adalah tuntutan nyata, bukan provokasi. Kedua, evaluasi tunjangan DPR agar sesuai logika keadilan sosial, bukan logika kantong pribadi. Ketiga, hentikan praktik membiarkan provokator menunggangi aksi rakyat. Jika aspirasi publik dibiarkan terus-menerus dipelintir elit, maka yang kalah adalah rakyat, dan yang menang hanyalah mereka yang bermain di balik layar.
Rakyat tidak butuh joget, rakyat tidak butuh drama provokasi. Rakyat butuh tindakan nyata yaitu koruptor ditindak tegas, tunjangan DPR dikaji ulang, dan suara rakyat benar-benar didengar. Kalau demokrasi terus direduksi jadi panggung hiburan di satu sisi, dan arena provokasi di sisi lain, maka jangan kaget jika rakyat makin muak. Dan ketika rakyat muak, demokrasi akan kehilangan nyawanya.
Joget boleh jadi hiburan, provokasi mungkin tak bisa sepenuhnya dihindari. Tapi kalau dua hal itu lebih menonjol ketimbang substansi demokrasi, kita hanya sedang memelihara demokrasi palsu indah di permukaan, rapuh di dalam. Dan kalau dibiarkan, bangsa ini bukan sedang membangun demokrasi, tapi sedang merayakan pesta yang pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Berita Terkait

Kalapas Labuhan Ruku: Dugaan Pelanggaran Tidak Benar – Kami Jalankan Tugas Secara Profesional dan Transparan
Kalapas Labuhan Ruku: Dugaan Pelanggaran Tidak Benar – Kami Jalankan Tugas Secara Profesional dan Transparan
Lapor Kapolda Jatim, Dugaan Sabung Ayam Undangan di Jatilengger Blitar Direspons “Siap” oleh Kanit Pidum
Lirik Investor Korea Selatan, Pemerintah Kabupaten Langkat Dorong Percepatan Pembangunan Pelabuhan Pangkalan Susu
Pemkab Langkat Resmi Canangkan Sensus Ekonomi 2026,Wabup Tiorita: Berikan Data Akurat
Syah Afandin Apresiasi Penyaluran ZIS BAZNAS Langkat Rp224 Juta,Siapkan Zakat Pribadi Rp50 Juta
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Kembali Bertindak, Seorang Pemilik Sabu Diamankan di Lawe Alas
Perkaya Literasi Daerah, Akademisi Rahmawan Cibro Hibahkan Dua Judul Buku Berstandar HKI untuk Aceh Singkil

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 19:25 WIB

Gebyar, 01 Muharram 1448 H Memperingati hari tahun Baru Islam Madrasah Dan TPQ RAUDLATUL HUDA Dusun Dukuh Wetan – Desa Sumberrejo kec.winongan kab.pasuruan.

Senin, 15 Juni 2026 - 06:22 WIB

Profesor Sutan Nasomal Sangat Yakin Presiden Prabowo Tutup Semua Pintu Setan Hanya Pintu Keadilan Untuk Rakyat Indonesia!!!

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:07 WIB

Pelarian Terduga Kasus Penipuan Akhirnya Diciduk Tim URC Polres Pasuruan Kota

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:59 WIB

Teguhkan langkah, satukan semangat demi menggapai masa depan yang gemilang”

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:28 WIB

ANGGOTA KORAMIL 411-04/TMJ KODIM 0411/KM, DAN BHABINKAMTIBMAS POLSEK TRIMURJO BESERTA PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN(PPL) MENGHADIRI UNDANGAN PELUNCURAN PRODUK SHENZI PLUS 400 SC, MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:22 WIB

Operasi Tes Urin di Titik-titik vital Pintu Masuk Pelabuhan Jamrud, Satreskoba KP3 Amankan 5 Orang Positif Narkoba dan Sita 6 Dus Rokok Ilegal 

Sabtu, 13 Juni 2026 - 05:40 WIB

Tidak Ada Titik Temu Mediasi Sengketa Tanah Desa Kidal “Jangan Jadikan Kesalahan Administrasi Sebagai Alat Untuk Membatalkan Hak Warga”

Sabtu, 13 Juni 2026 - 05:35 WIB

Bulan Bung Karno: I Made Cahyana Negara Wariskan Semangat Proklamasi, Tegaskan Pengabdian Tanpa Batas untuk Rakyat Banyuwangi  

Berita Terbaru