Bukan perebutan kursi bupati, tapi suasananya nyaris seperti pesta demokrasi sungguhan. Ada yang serius, ada yang tegang, ada sorak-sorai—bahkan “uuhhh” tanda kecewa!
Oleh : Amrizal Ujung, S.Pd,Gr.
PAKPAK BHARAT, Teropong Barat.com— Jangan bayangkan suasana pagi di MTs Swasta Sukaramai, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat, Jumat (7/8/2026), sebagai pagi sekolah biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak sekitar pukul 09.00 WIB, suasana madrasah terasa berbeda. Dari ruang-ruang kelas terdengar keriuhan. Wajah para siswa pun beragam. Ada yang serius, ada yang tampak penasaran, ada yang berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, bahkan tak sedikit yang memperlihatkan ekspresi lucu yang membuat suasana pagi itu terasa semakin semarak.
Ada apa gerangan?
Jawabannya ternyata cukup menarik: MTs Swasta Sukaramai sedang menggelar pesta demokrasi versi anak madrasah—pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIM periode 2026/2027.
Kepala Madrasah MTs Swasta Sukaramai, Sarinah Banurea, S.Pd.I, menjelaskan bahwa pemilihan tersebut merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun ajaran baru.
“Di awal ajaran baru tahun 2026 ini, kita melangsungkan pemilihan Ketua OSIM yang baru,” ujar Sarinah.
Yang membuat suasana semakin menarik, proses pemilihan kali ini dikemas menyerupai pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Mulai dari persiapan tempat, perlengkapan pemungutan suara hingga kotak suara, semuanya ditata sedemikian rupa.
Bahkan, tersedia tiga kotak suara untuk proses pencoblosan.

Kalau dilihat sekilas, suasananya memang seperti sedang memasuki hari pencoblosan sungguhan. Bedanya, para pemilih kali ini bukan warga satu kabupaten, melainkan para siswa dan guru MTs Swasta Sukaramai.
Tiga Pasangan Maju, Persaingan Tetap Seru
Tiga pasangan calon ikut bertarung dalam pemilihan kali ini.
Nomor Urut 1: Surya & Naila
Nomor Urut 2: Olivia & Lolo
Nomor Urut 3: Syakila & Icha
Tepat pukul 10.00 WIB, proses pencoblosan dimulai.
Sebanyak 65 siswa dan 5 orang guru tercatat memiliki hak suara. Satu per satu mereka menggunakan hak pilihnya dengan suasana yang terlihat serius, meski sesekali tingkah lucu dan ekspresi khas anak-anak membuat suasana menjadi cair.
Di sinilah menariknya proses demokrasi di madrasah.
Tidak ada panggung politik,tidak ada baliho besar, tidak ada debat panas. Tetapi antusiasme para calon pemilih tetap terasa. Ada yang memperhatikan dengan serius, ada yang tampak masih malu-malu, dan ada pula yang terlihat begitu bersemangat mengikuti setiap tahapan pemilihan.
Menurut Sarinah, simulasi pemilihan yang dibuat menyerupai pesta demokrasi tersebut bukan sekadar memilih pengurus OSIM.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi siswa untuk mengenal demokrasi sejak dini.
“Pemilihan Ketua OSIM seperti ini merupakan agenda rutin. Proses pemilihan kali ini kita buat sebagaimana biasanya pilkada berlangsung. Ini penting agar anak-anak mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran serta pembiasaan karakter dalam menjalankan peran berdemokrasi,” kata Sarinah saat berbincang di sela-sela proses pemilihan.
Saat Surat Suara Dibuka, Deg-degannya Mulai Terasa
Setelah proses pencoblosan selesai, tibalah bagian yang paling ditunggu-tunggu: penghitungan suara.
Tepat pukul 11.35 WIB, seluruh rangkaian pemilihan dan penghitungan suara akhirnya selesai dilaksanakan.
Namun justru pada saat penghitungan inilah suasana terasa semakin hidup.
Setiap surat suara yang dibacakan seolah memiliki cerita sendiri. Ada sorak-sorai kegembiraan ketika pasangan yang didukung mendapatkan suara. Ada pula suara “uuhhh” ketika pilihan mereka ternyata belum beruntung.

Beberapa siswa tampak serius memperhatikan perolehan suara. Wajah tegang dan rasa penasaran bercampur menjadi satu.
Suasananya sederhana, tetapi justru di situlah letak keseruannya.
Pesta demokrasi pagi itu akhirnya menemukan pemenangnya.
Pasangan Nomor Urut 1, Surya & Naila, berhasil meraih 33 suara sah, sekaligus mengantarkan keduanya terpilih sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIM MTs Swasta Sukaramai periode 2026/2027.
Menang Bukan Berarti Sendiri
Usai ditetapkan sebagai pasangan terpilih, Surya dan Naila menyampaikan komitmennya untuk menjaga nama baik madrasah serta merangkul seluruh teman-temannya.
Keduanya juga berkomitmen mendorong kedisiplinan dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Pesan tersebut mendapat perhatian dari Kepala Madrasah Sarinah Banurea.
Ia menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan terpilih sekaligus mengingatkan agar kemenangan tersebut tidak berhenti pada perolehan suara.
“Buktikan janji yang telah disampaikan dalam orasi sebelum pemilihan. Jadilah teladan yang baik bagi teman-teman dan buatlah perubahan yang positif di madrasah ini dengan ide dan inovasi baru,” pesannya.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa menjadi pengurus OSIM bukan sekadar soal mendapatkan jabatan atau memenangkan pemilihan.
Ada tanggung jawab, keteladanan dan kerja bersama yang harus dijalankan setelah suara dihitung dan kemenangan ditetapkan.
Dari Kotak Suara, Belajar Menjadi Warga Demokratis
Pemilihan OSIM di MTs Swasta Sukaramai mungkin terlihat sederhana. Hanya tiga pasangan calon, puluhan siswa dan beberapa guru yang menggunakan hak suara.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan sebuah proses pendidikan yang cukup penting.

Para siswa belajar bahwa memilih bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka juga belajar tentang keberanian tampil, menyampaikan gagasan, menghargai pilihan orang lain, menerima hasil dan menjalankan tanggung jawab.
Dan yang tak kalah penting, mereka belajar bahwa demokrasi ternyata bisa berlangsung dengan serius sekaligus menyenangkan.
Usai seluruh proses selesai, guru dan siswa yang hadir secara spontan memberikan ucapan selamat kepada pasangan terpilih. Saling bersalaman, tawa, ekspresi bahagia hingga tingkah lucu khas anak-anak pun kembali mewarnai suasana.
Pagi itu, MTs Swasta Sukaramai memang tidak sedang memilih bupati atau kepala daerah.
Tetapi dari sebuah pemilihan Ketua OSIM, para siswa sedang belajar sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana menggunakan hak pilih, menghargai perbedaan pilihan, menerima hasil dan bersiap menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.
Sebuah “pesta demokrasi mini” yang mungkin sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang tidak sederhana.
Selamat kepada Surya & Naila. Selamat belajar menjadi pemimpin muda. Semoga janji, ide dan inovasi yang disampaikan bukan hanya manis saat kampanye, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan madrasah.
Njuah-njuah! ( Ujg-tbpb.. )













































