INDRAMAYU _ TEROPONG BARAT – Panen raya adalah musim panen hasil pertanian secara besar-besaran dan serentak, biasanya terjadi 2 kali setahun (Maret-April dan Juli-Agustus). Momen ini ditandai dengan stok pangan yang melimpah, harga stabil, dan sering melibatkan gotong royong warga. Panen raya menjadi indikator keberhasilan sektor pertanian, Hasil panen jauh lebih besar dibandingkan panen biasa (26/03/2026).
Panen raya juga menjadi evaluasi produktivitas pertanian dan momentum penerapan teknologi pertanian seperti penggunaan combine harvester.
Panen raya padi di Indramayu, sebagai lumbung pangan utama Jawa Barat, menghasilkan produktivitas tinggi mencapai 8,6-9,6 ton per hektare, memperkuat swasembada pangan nasional. Panen ini di dukung irigasi teknis yang baik, penggunaan benih unggul, dan manajemen pertanian yang tepat, khususnya pada musim tanam (MT) I dan II.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Panen padi di Indramayu di awali dari Kecamatan Gantar dan Sanca Kabupaten Indramayu, Merupakan bagian dari wilayah lumbung padi yang aktif melakukan panen pada awal tahun, dengan kegiatan serap gabah dan panen di desa-desa seperti Desa Gantar pada Maret 2026. Wilayah ini, bersama daerah sekitarnya.
Panen raya di wilayah Indramayu, termasuk Gantar, terjadi pada awal tahun (Maret-April) untuk musim tanam pertama (MT I).
Panen mencakup berbagai kecamatan di Indramayu, seperti Gantar, Haurgeulis, Anjatan,Kroya dan Gabuswetan.
Produktivitas : Rata-rata produksi padi di Indramayu mencapai 8-9 ton per hektar
BULOG INDRAMAYU mengikuti arahan pemerintah guna untuk melakukan serap gabah petani (sergap) dengan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) Rp6.500/kg untuk Gabah Kering Panen (GKP) mulai Maret 2026 guna menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani. Program ini menargetkan penyerapan 4 juta ton gabah/beras pada 2026.
BULOG bekerja sama dengan Mitra kerja Bulog, Babinsa TNI, penyuluh pertanian, dan dinas pertanian setempat untuk memfasilitasi pembelian gabah petani.
BULOG langsung menjemput gabah petani ke lapangan untuk memastikan harga tidak dipermainkan oleh tengkulak, bahkan di beberapa tempat membeli dengan harga Rp6.500/kg tanpa potongan biaya tambahan.
Jurnalis : EDO ADI RYANTO

















































