Nasib Ilham Warga Pedesi Aceh Tenggara, Depresi Lebih dari 20 Tahun, Kini Dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Zainal Abidin

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Jumat, 27 Juni 2025 - 13:27 WIB

40853 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane, TeropongBarat.com – Nasib pilu dialami oleh Ilham, seorang warga Desa Pedesi, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara. Pria kelahiran 1995 ini sudah lebih dari 20 tahun menderita gangguan jiwa dan belum kunjung sembuh sejak pertama kali mengalami perubahan perilaku usai menimba ilmu di salah satu pondok pesantren di Medan.

Pihak keluarga, dalam kisah penuh kesedihan, menceritakan bahwa mereka telah berikhtiar ke mana-mana demi kesembuhan anak tercinta mereka. Mulai dari meminta bantuan ke tokoh masyarakat hingga menyurati wakil gubernur Aceh, semua sudah ditempuh demi memberikan pengobatan terbaik bagi Ilham. Namun, jalan menuju kesembuhan seakan belum berpihak kepada keluarga ini. Baru-baru ini, titik terang datang dari pihak Puskesmas Biakmuli, Kecamatan Bambel, yang mengambil inisiatif untuk merujuk Ilham ke Rumah Sakit Jiwa Zainal Abidin, Banda Aceh, pada Kamis, 26 Juni 2025. Langkah tersebut difasilitasi oleh seorang tenaga kesehatan puskesmas bernama Ismawati, yang dengan kepeduliannya membantu proses rujukan ini hingga terlaksana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kisah keluarga, Ilham adalah anak pertama dari pasangan suami-istri yang sangat mencintainya. Ia merupakan buah hati yang sejak kecil memiliki semangat dan minat belajar tinggi. Namun segalanya berubah sejak ia kembali dari Pondok Pesantren Al-Kausar di Medan, tempat ia belajar agama dan juga ikut kegiatan silat. Seusai kegiatan silat dan rutinitas pondok, Ilham pulang ke rumah dengan kondisi berbeda. Ia tak lagi seperti sebelumnya. Kesehatan jiwanya perlahan terganggu, hingga kemudian memburuk dan menetap selama puluhan tahun.

Keluarga tidak tinggal diam. Mereka membawa Ilham ke berbagai tempat pengobatan, baik medis maupun non-medis. Rumah Sakit Jiwa Simalingkar Medan pernah menjadi tempat pengobatan Ilham. Begitu juga dengan Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh, tempat Ilham kini kembali dirujuk untuk yang kedua kalinya. Tidak hanya itu, keluarga bahkan pernah mengandalkan pengobatan tradisional dari berbagai tabib. Sebagian besar dari tabib-tabib yang pernah menangani Ilham pun kini sudah tiada. Nasib tragis juga menimpa ibu Ilham yang selama ini menjadi tumpuan semangat keluarga. Sang ibu telah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta, sehingga beban batin dan perjuangan kini hanya dilanjutkan oleh ayah dan kerabat yang masih bertahan.

Yang paling menyakitkan bagi keluarga adalah kenyataan bahwa selama lebih dari 20 tahun Ilham sakit, tidak pernah sekalipun ada perhatian atau kunjungan dari pihak pondok pesantren tempat ia pernah belajar. Keluarga merasa kecewa karena pihak pondok seolah menutup mata atas kondisi santrinya yang dahulu sempat menjadi bagian dari lembaga mereka. Lebih ironisnya, dari berbagai cerita yang beredar dari mulut ke mulut, Ilham bukan satu-satunya santri yang mengalami gangguan mental usai belajar di pondok pesantren tersebut. Beberapa cerita lain menunjukkan adanya pola yang sama, meskipun belum bisa dibuktikan secara resmi. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan, metode pengajaran, atau bahkan kondisi lingkungan pesantren yang mungkin tidak sehat secara spiritual?

Beberapa dugaan muncul, mulai dari tekanan batin selama di pondok, cara pembinaan yang keras, atau bahkan adanya dugaan pengaruh metafisik yang negatif. Masyarakat setempat juga mulai bertanya-tanya apakah lokasi pondok pesantren tersebut mengandung energi buruk atau hal-hal yang bersifat mistis. Meski belum ada penjelasan ilmiah, cerita-cerita semacam itu semakin memperkuat stigma negatif terhadap pondok tersebut, yang menurut informasi kini mengalami kemunduran dalam berbagai aspek.

Namun di tengah kesedihan panjang yang menyelimuti keluarga Ilham, secercah harapan muncul dari kepedulian pihak Puskesmas Biakmuli. Berkat bantuan Ibu Ismawati, seorang petugas kesehatan yang memahami betapa beratnya beban keluarga ini, proses pengurusan rujukan dilakukan dengan cepat dan tepat. Ilham akhirnya diberangkatkan ke Banda Aceh dengan harapan mendapat penanganan medis yang lebih baik dan intensif. Harapan keluarga kini tertumpu pada Rumah Sakit Jiwa Zainal Abidin agar Ilham bisa mendapatkan terapi lanjutan dan perlahan membaik.

“Terima kasih kami yang sedalam-dalamnya kepada Ibu Ismawati dan seluruh tim Puskesmas Biakmuli. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan mereka. Kami sudah tidak tahu lagi harus kemana. Kini kami hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Semoga Ilham bisa sembuh dan kembali hidup seperti orang normal lainnya. Hari ini, Jumat 27 Juni 2025, kami mengantar Ilham dengan penuh harapan dan doa,” ujar ayah Ilham dengan suara yang nyaris tenggelam oleh tangis.

Kisah Ilham adalah kisah tentang harapan yang tak padam, meski diterpa gelombang penderitaan panjang. Ini juga menjadi pengingat bahwa sistem pendidikan keagamaan perlu diawasi dan dievaluasi secara serius agar tidak menciptakan luka jiwa yang mendalam bagi para santrinya. Di saat negara belum sepenuhnya hadir, kadang uluran tangan dari orang-orang biasa seperti tenaga kesehatan desa justru menjadi penyelamat nyata bagi rakyat kecil. Semoga Ilham segera menemukan kembali dirinya yang hilang. Dan semoga kisah ini menjadi perhatian banyak pihak, agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan. (RED)

Berita Terkait

Melalui Forum Nasional, Samsuri, S.Pd.I, M.A Ditetapkan sebagai Calon Presiden RI 2029 oleh Partai Cinta Negeri
Samsudin Tajmal Soroti Polda Aceh, Desak Ketegasan Ungkap Kasus Spanduk Provokatif yang Ancam Stabilitas Sosial
Pemkab Aceh Tenggara Lelang Tiga Puluh Dua Aset Daerah Secara Daring, Didominasi Kendaraan Dinas Rusak Berat
Saat Kebencian Menguasai Ruang Publik: Panggung Baru Oknum Penebar Fitnah Politik
Ketua PWA Agara Mengutuk Keras Pemasangan Spanduk Provokatif Terkesan Ujaran Kebencian ke Bupati Agara di Banda Aceh
Pemkab Aceh Tenggara Gandeng KPKNL Lhokseumawe untuk Lelang Non Eksekusi Wajib Aset Daerah
LIRA Desak Polisi Tangkap Pelaku Spanduk Provokatif Terkait Ketua Golkar Aceh di Banda Aceh
Sholat Subuh Keliling, Polres Gayo Lues Jalin Silaturahmi dan Serap Aspirasi Masyarakat

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:21 WIB

Satgas TMMD 128 Kodim Abdya Turunkan Alat Berat di Progres Buka Jalan 2,5Km

Sabtu, 25 April 2026 - 18:44 WIB

Keuchik Gunung Cut Apresiasi TMMD ke-128 Kodim 0110/Abdya

Sabtu, 25 April 2026 - 18:25 WIB

5 Rumah Warga Kurang Mampu di Abdya Direhab Satgas TMMD

Sabtu, 25 April 2026 - 17:49 WIB

Haru Warga Gunung Cut, Rumah Reyot Kini Direhab Satgas TMMD

Sabtu, 25 April 2026 - 17:05 WIB

Satgas TMMD Tanamkan Semangat NKRI kepada Pramuka di Tangan-Tangan

Sabtu, 25 April 2026 - 16:37 WIB

Perlahan Tapi Pasti, TMMD ke-128 Kodim Abdya Mulai Garap Rehab 5 Unit RTLH

Sabtu, 25 April 2026 - 15:31 WIB

Keuchik Gunung Cut Optimis TMMD 128 Buka Jalan Petani Lebih Mudah

Jumat, 24 April 2026 - 18:59 WIB

TMMD ke-128 Kodim Abdya Bangun MCK di Musala Al-Mukarramah Gunung Cut

Berita Terbaru