” Periode Kedua, Saatnya Meninggalkan Warisan “.
Pakpak Bharat, Teropong Barat.com/Pada 28 Juli 2026 nanti, Kabupaten Pakpak Bharat akan genap berusia 23 tahun. Usia yang bagi sebuah daerah otonom seharusnya sudah cukup matang untuk menunjukkan jati diri sebagai kabupaten yang terus tumbuh dan berkembang.
Dua puluh tiga tahun bukan lagi usia merintis, melainkan usia untuk memetik hasil dari perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Namun di tengah perayaan hari jadi tersebut, satu pertanyaan yang terus muncul di tengah masyarakat adalah: sudah sejauh mana pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Pakpak Bharat?
Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan pemerintah daerah, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan kabupaten yang sama-sama kita cintai. Sebab pembangunan tidak hanya diukur dari laporan kegiatan atau besarnya anggaran yang terserap, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Di masa efisiensi anggaran seperti sekarang, memang tidak mudah ok menjalankan roda pemerintahan. Keterbatasan fiskal menjadi tantangan hampir seluruh daerah di Indonesia. Namun efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan alasan berhentinya pembangunan.

Justru di tengah keterbatasan itulah dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menentukan prioritas, berinovasi, dan memastikan setiap rupiah anggaran memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Saat ini Kabupaten Pakpak Bharat dipimpin oleh pasangan Franc Bernhard Tumanggor dan Mutsyuhito Solin yang tengah menjalani periode kedua kepemimpinan. Periode kedua selalu memiliki makna yang berbeda.
Jika periode pertama menjadi masa membangun fondasi, maka periode kedua adalah waktu untuk meninggalkan warisan pembangunan yang benar-benar dikenang masyarakat.
Sayangnya, masih banyak warga yang menilai perubahan pembangunan fisik belum terlihat signifikan. Jalan di sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian serius. Penataan ibu kota kabupaten belum menunjukkan wajah daerah yang maju.
Ruang publik yang nyaman masih terbatas. Sementara pembangunan nonfisik seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga penciptaan lapangan kerja juga dinilai belum memberikan dampak yang besar.
Kondisi inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa pembangunan berjalan, tetapi belum mampu menghadirkan perubahan yang benar-benar terasa.
Padahal Pakpak Bharat memiliki modal yang luar biasa. Daerah ini kaya akan potensi pertanian, perkebunan, panorama alam, serta budaya Pakpak yang sangat khas. Potensi tersebut seharusnya mampu menjadi mesin penggerak ekonomi daerah apabila dikelola secara serius.
Sektor pertanian, misalnya, tidak cukup hanya dibantu melalui program pembagian bibit atau pupuk. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah pembangunan jalan usaha tani, irigasi, gudang penyimpanan hasil panen, hingga industri pengolahan hasil pertanian agar nilai tambah tetap berada di Pakpak Bharat. Dengan demikian, kesejahteraan petani dapat meningkat secara nyata.

“Usia ke-23 seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan seremonial.”
Demikian pula sektor pariwisata. Keindahan alam Pakpak Bharat memiliki daya tarik yang besar, tetapi wisata tidak akan berkembang hanya dengan promosi. Infrastruktur menuju lokasi wisata, fasilitas pendukung, kebersihan, keamanan, hingga keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi perhatian utama.
Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Di sisi lain, pelayanan publik juga harus terus berbenah. Pemerintah daerah harus menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, dan mudah diakses. Digitalisasi pelayanan sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.
Masyarakat membutuhkan birokrasi yang sederhana dan responsif terhadap berbagai persoalan. Yang tidak kalah penting adalah membangun kepercayaan masyarakat melalui keterbukaan informasi.
Pemerintah perlu menyampaikan secara terbuka program prioritas, kondisi keuangan daerah, target pembangunan, hingga capaian yang telah diraih. Transparansi bukan hanya membangun kepercayaan publik, tetapi juga mengajak masyarakat ikut mengawal pembangunan.
Dengan sisa masa jabatan hingga tahun 2030, pemerintah daerah masih memiliki kesempatan besar untuk meninggalkan warisan pembangunan yang membanggakan.
Fokus pembangunan harus diarahkan pada program-program yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar banyaknya kegiatan yang dilaksanakan.
Keberhasilan pemerintah daerah nantinya bukan diukur dari berapa diresmikan, melainkan dari berapa banyak masyarakat yang hidupnya mbanyak proyek yang enjadi lebih baik. Apakah jalan semakin layak? Apakah petani semakin sejahtera? Apakah generasi muda memiliki peluang kerja yang lebih besar? Apakah investasi mulai berdatangan? Apakah pelayanan publik semakin mudah? Itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Momentum ulang tahun ke-23 Kabupaten Pakpak Bharat seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan dengan panggung hiburan dan rangkaian upacara. Lebih dari itu, momen ini harus menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap arah pembangunan daerah.
Masyarakat tentu tidak berharap pembangunan yang spektakuler dalam waktu singkat. Yang mereka inginkan hanyalah perubahan yang nyata, konsisten, dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Karena pada akhirnya, usia sebuah kabupaten tidak akan dikenang dari seberapa meriah perayaan hari jadinya, tetapi dari seberapa besar perubahan yang berhasil diwujudkan bagi rakyatnya.
Selamat Hari Jadi ke-23 Kabupaten Pakpak Bharat.
Semoga usia yang semakin dewasa menjadi momentum untuk menghadirkan pembangunan yang lebih nyata, lebih merata, dan lebih berpihak kepada masyarakat.//ujg-tbpb,..

















































