“JANGAN SAMPAI GEDUNG BARU BERDIRI, SEKOLAH LAMA KEHILANGAN SISWA DAN GURU KEHILANGAN JAM MENGAJAR”
Editorial. (05/11) detiknasional.com.
Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Kota Subulussalam menjadi simbol ambisi besar pemerintah dalam mendorong kemajuan dunia pendidikan. Gedung megah, fasilitas modern, laboratorium digital, hingga konsep pembelajaran terpadu menghadirkan harapan baru bagi masa depan generasi muda di Bumi Sada Kata.
Namun, di balik kemegahan proyek pendidikan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan: Bagaimana nasib puluhan sekolah konvensional yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan masyarakat Subulussalam?
Apakah pemerintah hanya sedang membangun wajah baru pendidikan, atau benar-benar sedang membangun pemerataan kualitas pendidikan?
Pertanyaan ini penting. Sebab, kemajuan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari megahnya bangunan, lengkapnya fasilitas, atau besarnya anggaran pembangunan. Pendidikan juga harus diukur dari sejauh mana sekolah-sekolah lama mampu bertahan, guru mendapatkan kepastian kesejahteraan, dan anak-anak di seluruh pelosok daerah memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Ketika Sekolah Baru Megah, Sekolah Lama Masih Berjuang
Realitas pendidikan di Subulussalam masih menyisakan pekerjaan rumah. Sejumlah sekolah konvensional, mulai dari SD, MI, SMP, MTs hingga SMA dan SMK, masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.
Ruang kelas yang membutuhkan rehabilitasi, perpustakaan dengan koleksi terbatas, laboratorium yang belum memadai, fasilitas sanitasi, hingga keterbatasan perangkat pembelajaran masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Di sisi lain, SR dan SNT diproyeksikan hadir dengan fasilitas lebih modern dan dukungan pembiayaan khusus.
Perbedaan kondisi ini berpotensi menciptakan kesenjangan baru dalam ekosistem pendidikan daerah apabila tidak diimbangi kebijakan pemerataan.
Jangan sampai sekolah baru menjadi simbol kemajuan, sementara sekolah lama terus bergulat dengan keterbatasan.
Ancaman Migrasi Siswa, Bagaimana Nasib Guru?
Persoalan yang lebih serius adalah kemungkinan terjadinya pergeseran minat peserta didik menuju sekolah yang memiliki fasilitas lebih lengkap dan daya tarik lebih besar.
Jika penerimaan siswa di SR dan SNT tidak dirancang dengan segmentasi dan perencanaan yang matang, sekolah-sekolah konvensional, khususnya sekolah swasta dan sekolah negeri di wilayah pinggiran, berpotensi menghadapi penurunan jumlah peserta didik.
Dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya rombongan belajar (rombel).
Penurunan jumlah siswa dapat memengaruhi distribusi jam mengajar guru, terutama guru yang membutuhkan pemenuhan beban kerja sesuai ketentuan untuk memperoleh tunjangan profesi.
Lantas, bagaimana nasib guru yang selama bertahun-tahun mengabdi di sekolah-sekolah tersebut?
Mereka bukan sekadar angka dalam data Dapodik. Mereka adalah tenaga pendidik yang telah membangun fondasi pendidikan Subulussalam jauh sebelum SR dan SNT direncanakan.
Pemerintah harus mengantisipasi dampak kebijakan ini sejak awal. Jangan sampai kemajuan satu institusi pendidikan justru melahirkan ketidakpastian bagi tenaga pendidik di institusi lainnya.
SR dan SNT Jangan Menjadi Menara Gading Pendidikan
Sekolah Rakyat pada dasarnya memiliki misi sosial untuk memberikan akses pendidikan kepada masyarakat kurang mampu, anak-anak terlantar, serta kelompok yang selama ini menghadapi hambatan memperoleh pendidikan.
Karena itu, orientasi penerimaan peserta didik harus tetap sesuai dengan tujuan tersebut.
Sementara SNT perlu ditempatkan sebagai pusat penguatan kualitas pendidikan yang mampu mendorong kemajuan sekolah-sekolah lain, bukan justru menjadi pesaing yang berpotensi melemahkan keberadaan sekolah konvensional.
Fasilitas modern di SR dan SNT seharusnya dapat menjadi sumber pembelajaran bersama.
Laboratorium komputer, laboratorium sains, perpustakaan digital, serta fasilitas olahraga dapat dikembangkan melalui program kerja sama dengan sekolah-sekolah sekitar.
Guru-guru sekolah konvensional juga perlu mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan, peningkatan kompetensi, dan berbagi praktik pembelajaran.
Dengan demikian, pembangunan sekolah baru tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta didik yang diterima di dalamnya, tetapi juga menjadi pengungkit peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh.
Pemerintah Jangan Melupakan Sekolah yang Sudah Lama Mengabdi
Pemerintah Kota Subulussalam bersama Pemerintah Pusat perlu menyiapkan kebijakan yang menjamin keseimbangan pembangunan pendidikan.
Ada sejumlah persoalan yang harus segera dijawab:
1. Bagaimana strategi penerimaan siswa SR dan SNT agar tidak mengganggu keberlangsungan sekolah konvensional?
2. Bagaimana perlindungan terhadap guru negeri, PPPK, dan honorer apabila terjadi penurunan jumlah rombongan belajar?
3. Apakah pemerintah menyiapkan program peningkatan kesejahteraan dan kepastian jam mengajar bagi guru terdampak?
4. Bagaimana nasib sekolah-sekolah lama yang masih membutuhkan rehabilitasi ruang kelas dan peningkatan fasilitas?
5. Apakah laboratorium dan fasilitas modern SR-SNT dapat dimanfaatkan bersama oleh sekolah lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Sebaliknya, ini merupakan kritik konstruktif agar investasi pendidikan benar-benar memberikan manfaat yang luas dan berkeadilan.
Pemerintah juga perlu memastikan program revitalisasi sekolah konvensional berjalan secara berkelanjutan, sehingga kesenjangan fasilitas tidak semakin melebar.
Jangan Sampai Gedung Megah Menjadi Simbol Ketimpangan
Pembangunan SR dan SNT patut diapresiasi sebagai langkah memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan di Subulussalam.
Namun, keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya dilihat dari bangunan yang berdiri megah.
Sekolah-sekolah yang selama ini mendidik anak-anak masyarakat juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian, anggaran, fasilitas, dan perlindungan terhadap tenaga pendidiknya.
Jangan sampai sekolah baru mendapatkan karpet merah, sementara sekolah lama berjalan tertatih-tatih.
Jangan sampai laboratorium modern dibangun, tetapi sekolah lain masih kesulitan menyediakan fasilitas belajar dasar.
Dan jangan sampai pemerintah berbicara tentang masa depan generasi emas, sementara nasib guru yang selama ini mencetak generasi tersebut justru tidak mendapatkan kepastian.
Sebab, pendidikan bukan perlombaan membangun gedung paling megah. Pendidikan adalah tentang memastikan tidak ada anak yang tertinggal dan tidak ada guru yang dikorbankan.
Pada akhirnya, masyarakat Subulussalam tidak hanya ingin melihat SR dan SNT berdiri megah. Masyarakat juga ingin mengetahui apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap sekolah-sekolah konvensional.
SR dan SNT boleh menjadi wajah baru pendidikan Subulussalam, tetapi sekolah-sekolah lama jangan sampai kehilangan masa depan.
Itulah ukuran sesungguhnya dari pembangunan pendidikan yang berkeadilan. (*).


















































