Subulussalam, teropongbarat.com. Usai mengikuti upacara peringatan Hari Juang Polri, Kapolres Subulussalam AKBP Mhd Yusuf, S.I.K., bersama Wakapolres Kompol Ikmal dan jajaran mengajak sejumlah wartawan untuk ngopi bareng sekaligus mempererat silaturahmi di Ampera Kafe, Jalan Teuku Umar, Desa Subulussalam Utara, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Jumat (21/8/2026).
Pertemuan sederhana tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada sekat antara aparat kepolisian dan insan pers. Secangkir kopi menjadi ruang bertukar cerita, gagasan, sekaligus memperkuat komunikasi dalam menjalankan tugas masing-masing untuk kepentingan masyarakat.
Suasana semakin hangat dengan hadirnya Teuku Raja dari KPA Kombatan GAM. Kehadirannya turut memberikan warna tersendiri dalam pertemuan tersebut, terutama dalam memaknai Hari Juang Polri sebagai momentum untuk mengenang perjalanan panjang perjuangan Bhayangkara dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mengabdi kepada bangsa dan negara.
Hari Juang Polri bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa perjalanan bangsa dibangun melalui perjuangan, pengorbanan dan kesediaan untuk menjaga persatuan. Nilai-nilai perjuangan itu, dalam konteks kekinian, tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai perjuangan menghadapi ancaman, tetapi juga sebagai ikhtiar bersama menjaga kedamaian, demokrasi, hukum dan kehidupan masyarakat.
Di Kota Subulussalam yang dikenal sebagai Kota Sada Kata, semangat tersebut menemukan makna yang khas. Sada kata bukan hanya tentang satu suara, tetapi tentang bagaimana perbedaan dapat dipertemukan dalam satu tujuan: menjaga negeri, merawat kedamaian dan membangun masa depan masyarakat.
Sejumlah jurnalis dari berbagai organisasi dan komunitas pers turut hadir, di antaranya AJI, Fast Respon Polri, IWO, ASWIN serta sejumlah wartawan lainnya.
Canda dan tawa sesekali terdengar. Kapolres Subulussalam AKBP Mhd Yusuf terlihat berkelakar bersama para jurnalis sehingga suasana semakin cair.
Dalam kesempatan itu, Kasat Reskrim Polres Subulussalam I Putu Gede Ardana, S.H., S.I.K. juga menyampaikan pandangannya mengenai hubungan kepolisian dengan pers.
Menurutnya, pers merupakan sahabat bagi jajaran kepolisian, terutama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat dan mengawal berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Pers adalah sahabat bagi kami. Pintu kami selalu terbuka ketika rekan-rekan pers menjalankan tugas jurnalistik,” ujar I Putu Gede dalam suasana santai.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa hubungan antara kepolisian dan pers tidak semestinya dibangun atas dasar jarak, melainkan komunikasi dan saling menghormati fungsi masing-masing.
Polisi memiliki tugas menjaga keamanan dan menegakkan hukum, sementara pers memiliki mandat sosial untuk mencari, mengolah dan menyampaikan informasi kepada publik. Keduanya memiliki jalur pengabdian yang berbeda, tetapi bertemu pada satu kepentingan: masyarakat.
Kopi yang diminum bersama sore itu pun seolah menjadi simbol sederhana. Perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan langkah besar. Kadang, perjuangan dimulai dari duduk bersama, mendengarkan, memahami perbedaan dan menjaga komunikasi agar tidak ada jarak antara aparat, pers dan masyarakat.
Di tanah Sada Kata, secangkir kopi menjadi saksi bahwa semangat perjuangan Bhayangkara dapat terus diterjemahkan dalam wajah yang lebih humanis: hadir, mendengar, melayani dan bersama-sama menjaga negeri.
Karena pada akhirnya, perjuangan untuk negeri bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling depan, tetapi tentang bagaimana semua elemen dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama—Indonesia yang aman, damai dan bermartabat.(*).















































