Jejak Emas Ilegal di Kalbar, Dari Sungai Keruh hingga Kantong Pejabat

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Kamis, 14 Agustus 2025 - 02:04 WIB

40433 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Emas sejak ribuan tahun lalu adalah simbol kemewahan, kekuasaan, dan kadang, kehancuran. Ia membuat kerajaan besar tumbuh, tapi juga memicu perang dan pengkhianatan. Di era modern, cerita itu tak banyak berubah, tapi hanya para pelakonnya yang berganti.

Kalimantan Barat hari ini adalah panggung drama lama yang diputar ulang. Berdasarkan data Dinas ESDM Kalbar, ada 600 usaha pertambangan emas di provinsi ini, mayoritas adalah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Fakta di lapangan lebih mengejutkan yakni 1 ton emas per hari diproduksi dari PETI, mengalir entah ke mana, tapi jelas bukan ke kas negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita sering menuding penambang rakyat sebagai biang kerok. Tapi kali ini, jari telunjuk justru harus diarahkan ke atas. Dugaan mengerucut pada dua perusahaan besar yang izinnya untuk bauksit, tapi disebut-sebut ikut menggaruk emas yakni PT Wester Alumina Indonesia dan PT Kalimantan Alumina Indonesia. Distribusinya? Diduga dikuasai oleh seorang tauke bernama Aseng, yang konon punya “payung hukum” dari pejabat daerah.

Inilah ironi yang memalukan, hukum yang seharusnya menegakkan keadilan, malah ditengarai ikut membekingi kejahatan. Dalam kondisi ini, rakyat bukan hanya menjadi korban kerusakan lingkungan, tapi juga korban pengkhianatan amanah negara.

Presiden Prabowo Subianto sudah menegaskan sikapnya bahwa tambang ilegal harus ditutup, negara tak boleh dirampok. Perintah pengambilalihan 300.000 hektare lahan tambang ilegal pada pertengahan 2025 adalah langkah awal. Tapi publik menunggu, apakah keberanian itu akan menyentuh “orang dalam” yang ikut bermain di Kalbar?

Karena jika hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, jika tambang ilegal dibiarkan menjadi sapi perah para tauke dan pejabatnya, maka kita sedang menyaksikan negara dikorup dari dalam, selapis demi selapis, hingga tak tersisa selain kerak kerakusan.

Pertanyaannya sederhana, Apakah negara ini berani melawan emas, atau emas yang akan terus membeli negara?

Berita Terkait

Kecanduan Judol, Nyawa Ibu Kandung Melayang
Kebutuhan Gizi Masyarakat Dijamin Penuh Negara
Negeri Merdeka, Anak Rakyat Sulit Sekolah
Krisis Tenaga Kerja dan Kegagalan Kapitalisme Mewujudkan Kesejahteraan
Mampukah Kampung Tangguh Mencegah Narkoba di IKN?
Kapitalisme dan Pajak yang Mencekik, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?
Dugaan Ijazah Palsu Wakil Bupati Langkat -Gemapala: Ibu Tiorita Harus Ikuti Jejak Barack Obama;
Kejahatan Seksual di Sekolah Makin Marak,Butuh Solusi Tuntas

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 21:41 WIB

Batas Jabatan Kepsek SLTA Dilanggar, Pengawasan Cabdin Subulussalam Dipertanyakan

Kamis, 16 April 2026 - 17:41 WIB

Mediasi yang Timpang di Longkib: Dari Forum Damai ke Desakan Evaluasi Camat dan Dugaan Keterlibatan Oknum Kades

Kamis, 16 April 2026 - 03:09 WIB

Mediasi Lahan Longkib Kandas, Warga Soroti Ketidakprofesionalan Oknum Camat

Rabu, 15 April 2026 - 17:47 WIB

Bupati Pakpak Bharat Tinjau Jalan Nasional Strategis di Perbatasan, Dorong Solusi Cepat dari Pemerintah Pusat

Selasa, 14 April 2026 - 14:46 WIB

Hak Angket nyeleneh”Dan Bayang Bayang jual Beli Pokir,Fungsi DPRK Dipertanyakan,Dari Pengawasan Ke Alat Ukur Politik

Senin, 13 April 2026 - 12:25 WIB

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Senin, 13 April 2026 - 12:21 WIB

Kementerian ATR/BPN Komitmen Bantu Mekanisme Legalitas Tanah untuk Kebun Pangan Lokal Perempuan

Senin, 13 April 2026 - 12:17 WIB

Kementerian ATR/BPN Raih Penghargaan, Berhasil Tindaklanjuti RHP BPK RI 90,8%

Berita Terbaru