JAKARTA | TEROPONGBARAT.COM — Mewujudkan kota Indonesia yang terhubung, inklusif, dan berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, arsitek, pelaku usaha, hingga masyarakat dinilai menjadi kunci untuk membangun wajah kota Indonesia menuju 2045.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, saat menjadi pembicara dalam Jakarta Architecture Festival 2026 di M Bloc Space, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Ossy mengatakan, pembangunan kota ke depan harus diarahkan pada konsep kota yang padat namun terhubung dengan baik, memiliki sistem transportasi yang memadai, inklusif bagi seluruh masyarakat, serta mampu menghadapi berbagai tantangan lingkungan.
“Seperti Visi Kota 2045, berharap Jakarta dan kota-kota besar lainnya akan bisa menjadi compact and connected city dengan sistem transportasi yang baik, lalu juga inclusive city, serta resilient and sustainable city,” ujar Ossy.
Menurut dia, visi tersebut tidak mungkin diwujudkan oleh satu pihak saja. Pemerintah membutuhkan gagasan dan kontribusi berbagai elemen yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.
“Tentunya ini semua membutuhkan kolaborasi yang baik antara pemerintah, akademisi, termasuk para arsitek yang ada di sini,” katanya.
ATR/BPN Siap Dukung dari Sisi Pertanahan
Ossy menegaskan, Kementerian ATR/BPN memiliki peran penting dalam memastikan aspek legalitas dan kepastian hukum tanah dalam pembangunan perkotaan.
Pemerintah, kata dia, bertugas menyiapkan kebijakan sekaligus memberikan kepastian regulasi agar pembangunan dapat berjalan dengan arah yang jelas.
“Kami pun di Kementerian ATR/BPN siap berkolaborasi dari sisi legalitas tanahnya,” ujarnya.
Selain kepastian legalitas tanah, keberadaan ruang terbuka hijau juga menjadi perhatian. Menurut Ossy, ruang terbuka hijau perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.
“Ruang terbuka hijau juga sangat penting, mungkin kita bisa melakukan kolaborasi di area tersebut,” tuturnya.
Arsitek hingga Masyarakat Punya Peran
Kolaborasi yang dimaksud tidak berhenti pada pemerintah dan akademisi. Para arsitek serta pelaku usaha juga dinilai memiliki ruang besar untuk melahirkan inovasi dalam pembangunan perkotaan.
Sementara masyarakat memiliki peran dalam menjaga sekaligus memanfaatkan ruang sesuai peruntukannya.
Kontribusi tersebut, menurut Ossy, menjadi bagian penting dalam membangun kota yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga nyaman, inklusif, dan memiliki daya tahan terhadap berbagai tantangan di masa depan.
Ia juga menyoroti kontribusi para arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dalam mendukung program pemerintah 3 Juta Rumah.
Para arsitek telah ikut terlibat dalam program bedah rumah di sejumlah daerah. Bagi Ossy, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa profesi arsitek dapat memberikan kontribusi langsung terhadap pembangunan dan peningkatan kualitas hunian masyarakat.
Jakarta Architecture Festival Jadi Ruang Gagasan
Dalam Jakarta Architecture Festival 2026, Ossy tampil bersama sejumlah narasumber lainnya, di antaranya Ketua Sub-Kelompok Perencanaan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, Sapta Satria Putra; praktisi perencana dan perancang kota, Yu Sing; serta Ketua Research Course on Housing and Policy (RECEHPOL) Universitas Indonesia, Joko Adianto.
Mengusung tema “Ambang Naung”, Jakarta Architecture Festival 2026 menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan mengenai masa depan kota Indonesia.
Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan perkotaan yang semakin kompleks.
Bagi Kementerian ATR/BPN, pembangunan kota tidak semata berbicara mengenai gedung dan infrastruktur. Di baliknya terdapat persoalan tata ruang, legalitas tanah, ruang terbuka hijau, hunian, transportasi, hingga bagaimana ruang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.
Karena itu, visi kota menuju 2045 membutuhkan tata kelola ruang yang tertib, pembangunan yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menjadikan kota lebih modern, tetapi memastikan setiap ruang yang dibangun mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.
(Anton Tin-MBN)


















































