Dulu Saya Menyebut Mereka Malas. Sekarang, Saya Tahu Mereka Hanya Lelah.”**

REDAKSI PAKPAK BHARAT

- Redaksi

Rabu, 15 April 2026 - 09:33 WIB

40639 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakpak Bharat. Teropong Barat com/Dulu, saya adalah orang pertama yang gelisah setiap kali melihat guru-guru senior duduk diam di pojok ruang guru. Wajah mereka datar, nyaris tak bereaksi saat sosialisasi program baru dari pemerintah berlangsung.

Di dalam hati yang masih muda dan menyala, saya memberi mereka satu label sederhana—

“tidak mau terlibat dalam kemajuan.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat itu, saya adalah mesin penggerak.

Pemburu pelatihan.

Pengadopsi pertama setiap aplikasi pendidikan terbaru.

Saya sibuk mengurus administrasi inovasi, aktif mengikuti lomba, dan berdiri sebagai narasumber untuk membagikan semangat perubahan kepada guru lain.

Dan di titik itu, saya percaya:

guru senior adalah hambatan.

Mereka tampak apatis, tak bergairah, tidak secepat kami yang muda. Seolah-olah, merekalah yang menahan laju perubahan.

Namun kini…

waktu membawa saya berdiri di tempat yang dulu sering saya hakimi.

Dan dari sini, saya melihat semuanya dengan cara yang sangat berbeda.

🙏🏻Ternyata, apa yang dulu saya sebut “kemalasan”…

bukanlah kemalasan sama sekali.

Itu adalah kelelahan yang terakumulasi—

kelelahan yang tidak terlihat, tapi terus menggerus dari dalam.

Bukan karena murid-murid.

Melainkan karena sistem yang berputar tanpa arah yang benar-benar jelas.

Seperti berlari dalam maraton panjang…

tanpa garis akhir.

Guru-guru senior telah hidup cukup lama untuk melihat pola yang berulang.

Setiap pergantian pemimpin, lahirlah kurikulum baru.

Setiap era, muncul istilah baru yang terdengar revolusioner.

Namun pada akhirnya…

yang berubah seringkali hanya nama.

Bukan makna.

Mereka telah menyaksikan program-program besar yang dulu dielu-elukan,

namun perlahan hilang—

menjadi dokumen berdebu di lemari sekolah,

atau file yang terkubur di dalam laptop.

Lalu digantikan lagi oleh program baru.

Dan siklus itu terus berulang.

Maka, diamnya mereka…

bukan tanpa alasan.

Ada luka dan pelajaran panjang di baliknya.

1️⃣ Mereka punya “arsip ingatan” yang tidak dimiliki guru muda.

Mereka tahu bahwa tren bisa berganti nama,

tapi beban administrasi hampir selalu bertambah.

Dan hasilnya… seringkali tidak sebanding.

2️⃣ Mereka tidak lagi mengejar pengakuan.

Di fase ini, pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana saya terlihat inovatif?”

Tapi:

“Apakah ini benar-benar membantu murid saya memahami pelajaran?”

3️⃣ Mereka mulai menghitung energi.

Karena di usia ini, energi bukan lagi sesuatu yang bisa dihamburkan.

Mereka memilih menjaga diri.

Agar tetap utuh saat berdiri di depan kelas.

Agar tetap sabar saat menghadapi murid.

Karena mereka tahu—

tidak semua program layak diperjuangkan dengan seluruh tenaga.

Menjadi senior akhirnya mengajarkan saya satu hal penting:

Pendidikan bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang kita kuasai,

atau seberapa sering kita hadir di pelatihan mewah.

Pendidikan adalah tentang manusia.

Tentang hubungan yang hidup di dalam kelas.

Banyak guru senior memilih “diam”…

bukan karena berhenti peduli.

Justru karena mereka memilih untuk peduli pada hal yang paling nyata:

anak-anak di hadapan mereka.

Bukan angka di dashboard.

Bukan laporan yang indah di atas kertas.

Mereka menjaga kewarasan,

agar tetap bisa tersenyum saat mengajar.

Agar tidak habis terbakar oleh tuntutan yang…

sering kali tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

Untuk rekan-rekan guru muda yang hari ini sedang berlari kencang—

teruslah berlari.

Kami tidak ingin menghentikan langkah kalian.

Tapi satu hal…

jangan terlalu cepat menilai diamnya kami sebagai ketidakpedulian.

Kami tidak berhenti bergerak.

Kami hanya memilih jalan yang lebih sunyi.

Jalan yang lebih dekat menuju pemahaman murid—

bukan jalan yang paling ramai oleh tepuk tangan.

Kami sedang mengatur napas.

Agar api kecil ini tetap menyala…

hingga akhir perjalanan.//ujungmaster24,..

Berita Terkait

Tersangka Pembacokan Anggota Ormas Diduga Dilepas, Ketua GM Pujakesuma Batu Bara Angkat Bicara: Hukum Harus Tegak Lurus
Polres Langkat Tangkap Pria 49 Tahun Bersama 100 Butir Ekstasi di Tanjung Pura
Kemenimipas Salurkan Bantuan Donasi Jajaran untuk Terdampak Gempa Flores, Dirjenpas Tinjau Kerusakan Rutan Ruteng
Respon Laporan Warga,Satresnarkoba Polres Langkat Musnahkan Gubug yang Diduga Tempat Narkoba
Kemenimipas Salurkan Bantuan Donasi Jajaran untuk Terdampak Gempa Flores, Dirjenpas Tinjau Kerusakan Rutan Ruteng
Fenomena Desil Bansos: Tokoh Teluk Aru Soroti Ketidaksesuaian Data dan Fakta di Lapangan
*Hadiri Penutupan KKNT FH UNA, Bupati Baharuddin Tekankan Pentingnya Kesadaran Hukum dan Generasi Muda Produktif*
*Bupati Batu Bara Dorong Penguatan Satu Data Indonesia untuk Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran*

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 14:54 WIB

Sentuhan Kasih di Hari Jadi: Polwan Polres Bantaeng Berbagi Kebahagiaan dengan Siswa SD Terpencil

Jumat, 4 September 2026 - 14:51 WIB

Bonto Salluang Jadi Kampung Pancasila 2026, Bupati Bantaeng Apresiasi Sinergi TNI dan Pemerintah

Jumat, 4 September 2026 - 13:32 WIB

Tingkatkan Mutu Pelayanan, BRI Cabang Bantaeng Beri Kejutan Cenderamata di Momentum Harpelnas

Jumat, 4 September 2026 - 08:24 WIB

Anggota posramil Tripa Makmur Gotong Royong Pasang Tenda untuk Peringatan Maulid Nabi

Jumat, 4 September 2026 - 07:48 WIB

Eratkan Keakraban, Babinsa Serda syafrizal Jalin Komsos Bersama warga desa binaa Babah dua di Nagan Raya

Jumat, 4 September 2026 - 07:46 WIB

Babinsa Koramil 03/Seunagan Timur Laksanakan Patroli Karhutla Di Wilayah Binaan.

Jumat, 4 September 2026 - 07:44 WIB

BABINSA KORAMIL 05/DM SOSIALISASIKAN PENCEGAHAN KARHUTLA KEPADA WARGA

Jumat, 4 September 2026 - 07:42 WIB

PEMERINTAH DESA LANGKAK DAN POSRAMIL KUALA PESISIR HIMBAU WARGA CEGAH KARHUTLA DI MUSIM KEMARAU

Berita Terbaru