SUBULUSSALAM – Teropong barat com.
Di tengah harapan masyarakat terhadap perbaikan tata kelola pemerintahan dan pemulihan kondisi keuangan daerah, publik justru dikejutkan dengan mencuatnya polemik antara Wali Kota Subulussalam H. Rasit Bancin (HRB) dan Wakil Wali Kota M. Nasir, SE.
Perselisihan yang semula hanya menjadi perbincangan di lingkungan pemerintahan kini meluas ke ruang publik setelah Wakil Wali Kota memberikan klarifikasi bahwa memang terjadi ketegangan di ruang kerja. Menurut Nasir, persoalan tersebut merupakan akumulasi dari kekecewaan yang telah lama dipendam.
Ia mengaku komunikasi dengan Wali Kota tidak berjalan sebagaimana mestinya. Selain persoalan utang politik yang disebut masih menyisakan persoalan, Nasir juga menyinggung kebijakan mutasi dan rotasi pejabat yang menurutnya dilakukan tanpa komunikasi dan koordinasi yang memadai.
“Saya merasa perjuangan kami saat Pilkada seolah tidak dihargai. Jangan sampai kacang lupa kulitnya,” ujar Nasir.
Pernyataan tersebut sontak memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebab, pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota dipilih rakyat dalam satu paket dengan harapan mampu menghadirkan pemerintahan yang solid, bukan mempertontonkan perbedaan di ruang publik.
Di sisi lain, masyarakat masih menunggu realisasi salah satu janji politik yang paling banyak diingat, yakni komitmen HRB untuk mewujudkan Zero Defisit pada keuangan Pemerintah Kota Subulussalam. Janji tersebut pernah disampaikan sebagai target besar pemerintahannya dan menjadi salah satu tolok ukur yang kini terus diperhatikan publik.
Bagi masyarakat, waktu terus berjalan. Yang ditunggu bukan sekadar perdebatan, melainkan langkah nyata menyelesaikan persoalan daerah.
Ada pepatah yang mengatakan, “Perahu tidak akan sampai ke seberang apabila para pengayuh sibuk saling menyalahkan arah.” Filosofi ini mengingatkan bahwa energi seorang pemimpin semestinya lebih banyak dicurahkan untuk menyelesaikan persoalan rakyat daripada larut dalam perbedaan di internal pemerintahan.
Dalam ajaran Islam, Allah SWT berfirman:
«”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).»
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah sekadar kedudukan, melainkan amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kata-kata ketika berkampanye, tetapi juga dari kemampuan menjaga persatuan, menepati komitmen, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Masyarakat tentu berharap polemik ini tidak berlarut-larut. Sebab, yang mereka nantikan bukan siapa yang menang dalam perdebatan, melainkan siapa yang mampu menghadirkan solusi atas persoalan daerah.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa keras seorang pemimpin berdebat dengan pasangannya. Sejarah lebih mengingat apakah ia mampu menunaikan janjinya kepada rakyat, menjaga amanah yang diembannya, serta meninggalkan warisan pemerintahan yang membawa manfaat.
Catatan Redaksi: Tulisan ini memuat pernyataan Wakil Wali Kota M. Nasir, SE sebagaimana disampaikan kepada media. Hingga berita ini disusun, tanggapan dari pihak Wali Kota H. Rasit Bancin belum diperoleh. Redaksi membuka ruang hak jawab untuk menjaga keberimbangan pemberitaan sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.


















































