SUBULUSSALAM, teropongbarat.com — Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, berlangsung semarak. Beragam perlombaan digelar masyarakat, termasuk lomba kuliner tradisional yang menampilkan salah satu makanan paling unik dari warisan budaya Pakpak, Pelleng.
Keunikan Pelleng bukan hanya terletak pada cita rasanya. Di balik warna kuning yang khas dan aroma rempahnya, tersimpan sejarah, filosofi, doa, serta semangat perjuangan masyarakat Pakpak yang diwariskan lintas generasi.
Momen menarik terjadi ketika jajaran Forkopimda Kota Subulussalam meninjau lokasi perlombaan kuliner. Kapolres Subulussalam AKBP Mhd. Yusuf, S.I.K., tampak mencicipi berbagai sajian yang disiapkan peserta, khususnya Pelleng, nditak, hingga nira asli yang disuguhkan masyarakat Penanggalan Barat.
Kapolres terlihat menikmati sajian tersebut sembari melihat langsung bagaimana masyarakat mempertahankan kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Pakpak.
Kegiatan lomba kuliner Pelleng tersebut turut mendapat pendampingan langsung dari Kepala Mukim Penanggalan, Haris Muda Bancin, yang ikut mendorong agar kuliner tradisional tidak sekadar hadir dalam acara seremonial, tetapi terus dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Tidak hanya Kapolres, Wali Kota Subulussalam H. Rasyid Bancin juga terlihat berbincang dengan para peserta lomba. Sesekali ia memberikan motivasi sekaligus mengapresiasi kreativitas masyarakat dalam mengolah dan memperkenalkan Pelleng.
Menurutnya, Pelleng memiliki keistimewaan tersendiri dan tidak kalah dengan kuliner tradisional lain yang telah lebih dahulu dikenal luas di Nusantara.
Bukan Sekadar Makanan, tetapi Warisan Perjuangan
Pelleng dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat Pakpak yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu. Dalam tradisi masyarakat Pakpak, Pelleng dahulu dikenal sebagai sajian yang diberikan kepada para panglima atau seseorang yang hendak menghadapi sebuah perjuangan.
Pelleng dipercaya sebagai makanan yang membangkitkan semangat, keberanian dan kekuatan sebelum seseorang menjalankan tugas atau menghadapi tantangan.
Seiring perkembangan zaman, makna Pelleng semakin luas. Makanan ini kemudian hadir dalam berbagai momentum penting kehidupan, seperti ketika seseorang hendak merantau, membuka ladang, menghadapi ujian, menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, menikah, hingga dalam berbagai acara adat dan syukuran keluarga.
Karena itu, Pelleng memiliki posisi unik dalam kebudayaan Pakpak. Ia bukan sekadar makanan yang disantap untuk mengenyangkan perut, melainkan menjadi bagian dari pesan moral dan doa keluarga kepada seseorang yang hendak menempuh perjalanan hidup.
Warna Kuning, Pedas dan Filosofi yang Membara
Pelleng umumnya dibuat dari beras yang dimasak hingga lunak, kemudian diolah bersama berbagai rempah hingga menghasilkan tekstur dan rasa yang khas. Warna kuningnya berasal terutama dari kunyit.
Dalam pemaknaan budaya yang berkembang, warna kuning Pelleng dikaitkan dengan kehormatan dan kemenangan. Sementara cabai merah memberikan rasa pedas sekaligus menggambarkan semangat yang membara, keberanian dan kekuatan.
Karena penggunaan cabai tersebut, salah satu bentuk Pelleng dikenal dengan sebutan Pelleng Si Cina Mbara.
Perpaduan rempah seperti kunyit, cabai, bawang, jahe, serai, daun salam dan asam cikala menghasilkan cita rasa yang kuat. Ayam kampung juga lazim menjadi pelengkap sajian.
Setiap bahan tersebut membentuk karakter Pelleng yang khas. Namun, pemaknaan simbolis masing-masing bumbu tidak semuanya merupakan ketentuan adat tertulis. Sebagian merupakan interpretasi budaya yang berkembang di masyarakat. Yang paling kuat adalah makna Pelleng secara keseluruhan sebagai makanan yang berkaitan dengan doa, keberanian, perjuangan dan harapan akan keberhasilan.
Lima Warisan Pelleng dari Silima Suak
Keunikan Pelleng semakin terlihat karena masyarakat Pakpak mengenal keberagaman tradisi kuliner berdasarkan wilayah Pakpak Silima Suak, yakni Simsim, Keppas, Pegagan, Boang dan Kelasen.
Kelima wilayah tersebut memiliki karakter pengolahan Pelleng yang dapat berbeda, terutama dari segi teknik memasak dan teksturnya. Ada yang menghasilkan Pelleng dengan tekstur lebih lembut, sementara daerah lainnya mempertahankan tekstur yang lebih padat.
Perbedaan tersebut justru memperkaya khazanah Pelleng sebagai kuliner tradisional. Satu nama, tetapi memiliki ragam cara pengolahan dan cita rasa yang mencerminkan keberagaman masyarakat Pakpak.
Dari Dapur Adat Menjadi Juara Kuliner Nusantara
Keunikan Pelleng akhirnya tidak hanya diakui oleh masyarakat Pakpak.
Pada Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019, Pelleng dari Kabupaten Pakpak Bharat berhasil meraih Juara I kategori Makanan Tradisional Terpopuler (Most Popular Traditional Dishes).
Pelleng mengungguli Kue Talam Durian dari Kota Pekanbaru dan Gulai Itam dari Kabupaten Tebo. Capaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Pelleng dari makanan tradisional masyarakat Pakpak menjadi kuliner yang mendapatkan perhatian di tingkat nasional.
Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kuliner Nusantara tidak selalu harus mewah untuk menjadi istimewa. Makanan yang lahir dari dapur masyarakat, diwariskan melalui adat dan tradisi, justru dapat memiliki cerita yang jauh lebih dalam.
Pelleng, Salah Satu Kuliner Paling Unik di Nusantara
Pelleng memiliki keunikan yang sulit dipisahkan dari masyarakat yang melahirkannya.
Ia mempunyai rasa, sejarah, filosofi dan ritual sosial sekaligus. Makanan ini dapat menjadi hidangan, simbol doa, tanda penghormatan, sekaligus penyemangat bagi seseorang yang akan menghadapi perjalanan penting.
Pesan yang terkandung di dalamnya sederhana tetapi kuat:
“Melangkahlah dengan keberanian, jalani dengan doa, dan pulanglah membawa keberhasilan.”
Karena itu, ketika Pelleng disajikan dalam lomba kuliner HUT ke-81 RI di Kecamatan Penanggalan, yang hadir sesungguhnya bukan hanya sebuah hidangan tradisional.
Yang hadir adalah sepotong sejarah masyarakat Pakpak Silima Suak—Simsim, Keppas, Pegagan, Boang dan Kelasen—yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Dari meja adat di tanah Pakpak, Pelleng telah menembus panggung nasional. Kini tantangannya adalah bagaimana generasi muda terus mengenal, mengolah, mempromosikan dan menjaga Pelleng agar tidak berhenti sebagai makanan masa lalu.
Sebab, di dalam setiap porsi Pelleng bukan hanya terdapat nasi, rempah dan rasa pedas.
Ada identitas. Ada doa. Ada keberanian. Ada sejarah. Dan ada harga diri sebuah budaya. (**).















































