Kapolres dan Walikota Cicipi Pelleng Makanan Khas Pakpak di HUT RI Kecamatan Penaggalan

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:10 WIB

4050 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam, teropongbarat.com. Di balik warna kuningnya yang sederhana, Pelleng menyimpan sejarah panjang dan filosofi yang dalam. Bagi masyarakat Pakpak di Kecanatan Penanggalan. Pelleng bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol keberanian, doa, harapan, persatuan, perjuangan, dan keberhasilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dihari memperingati HUT RI-81 Masyarakat Kecamatan penanggalan kota Subulussalam adakan berbagai lomba namun terlihat unik saat Forkopimda Subulussalam Walikota, Kapolres, Dandim 0118 dan lainnya meninjau lokasi lomba kuliner Khas Pelleng. Semangat khas lomba kuliner Pelleng untuk kecamatan Penanggalan terlihat memukau pengunjung.

Terlihat AKBP Mhd Yusuf, SIK tampak mencicipi satu persatu kuliner pelleng, nditak, nira asli yang disuguhkan peserta dari Penaggalan barat. Tampak Kapolres Subulussalam ini dapat menikmati kehususan rasa dan makna Pelleng kuliner yang disuguhkan. Kegiatan Lomba kuliner Pelleng ini, langsung dibimbing langsung Kepala Mukim Penaggalan Haris Muda Bancin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tampak pula sekali sekali Haji Rasid Bancin walikota Subulussalam bercerita dengan para peserta lomba masakan pelleng sembari memberi motivasi bahwa makanan khas pelleng tak kalah Pentingnya dengan kuliner khas lainnya di nusantara.

Pelleng dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat Pakpak yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Dalam sejarah dan tradisi masyarakat setempat, makanan ini dahulu disajikan kepada para panglima atau orang-orang yang hendak menghadapi peperangan. Pelleng dipercaya menjadi makanan pembangkit semangat dan keberanian sebelum seseorang memasuki perjuangan.

Seiring perubahan zaman, makna Pelleng berkembang. Ia tidak lagi hanya hadir dalam konteks peperangan, tetapi juga disajikan ketika seseorang hendak memulai perjalanan penting dalam hidup: merantau, membuka ladang, membangun rumah, menghadapi ujian, menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, menikah, hingga berbagai kegiatan adat dan syukuran keluarga.

Warna Kuning dan “Semangat yang Membara”

Secara umum, Pelleng dibuat dari beras yang dimasak hingga lunak, kemudian dicampur dengan berbagai rempah dan ditumbuk hingga menghasilkan tekstur khas. Warnanya yang kuning terutama berasal dari kunyit.

Dalam pemaknaan budaya yang berkembang saat ini, warna kuning Pelleng dikaitkan dengan kehormatan dan kemenangan. Sementara cabai merah yang menjadi ciri penting dalam sejumlah penyajian Pelleng menggambarkan semangat yang membara, keberanian dan kekuatan. Karena itu, Pelleng juga dikenal dengan sebutan Pelleng Si Cina Mbara, yang merujuk pada penggunaan cabai merah.

Filosofi di Balik Rempah Pakpak dan Aceh

Setiap bahan dalam Pelleng bukan hanya menciptakan cita rasa, tetapi membentuk karakter hidangan yang erat dengan simbol budaya masyarakat Pakpak di Perbatasan Aceh.

Kunyit memberikan warna kuning yang kuat sekaligus menjadi identitas utama Pelleng. Warna tersebut dimaknai sebagai kehormatan dan kemenangan.

Cabai memberikan rasa pedas dan menjadi simbol semangat yang menyala. Tidak mengherankan jika cabai menjadi salah satu bagian penting dalam Pelleng yang disajikan untuk seseorang yang akan menghadapi sebuah perjuangan.

Asam cikala menghadirkan rasa asam yang khas. Dalam masakan, bahan ini memberikan keseimbangan terhadap rasa gurih dan pedas rempah lainnya.

Bawang, jahe, serai, daun salam dan rempah lainnya membangun aroma serta rasa Pelleng yang kompleks. Perpaduan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Pakpak khususnya Suak Boang memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk menghasilkan makanan dengan karakter yang kuat. Sementara ayam kampung menjadi pelengkap yang umum disajikan bersama Pelleng.

Namun, perlu dicatat bahwa pemaknaan simbolis setiap bumbu tersebut tidak seluruhnya merupakan aturan adat tertulis. Sebagian merupakan interpretasi budaya yang berkembang dalam masyarakat. Yang lebih kuat secara sumber adalah makna Pelleng secara keseluruhan sebagai sajian yang berkaitan dengan doa, harapan, keberanian, perjuangan dan keberhasilan.

Lima Ragam Pelleng

Pelleng tidak hanya memiliki satu bentuk. Kajian mengenai pengetahuan tradisional Sumatera Utara mencatat adanya perbedaan pengolahan berdasarkan wilayah masyarakat Pakpak Silima Suak.

Dikenal antara lain Pelleng Simsim, Kelasen, Boang, Keppas dan Pegagan. Perbedaan utamanya terdapat pada teknik pengolahan dan tekstur. Pelleng yang berkembang di wilayah Simsim, Boang dan Kelasen cenderung lebih lembek, sedangkan Pelleng Keppas dan Pegagan dikenal dengan tekstur yang lebih keras. Meski berbeda dalam pengolahan, nilai budaya yang melekat pada Pelleng tetap memiliki akar makna yang sama.

Dari Meja Adat Menembus Panggung Nasional

Perjalanan Pelleng tidak berhenti sebagai makanan yang hanya dikenal masyarakat Pakpak. Pada Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019, Pelleng dari Kabupaten Pakpak Bharat berhasil meraih Juara I kategori Makanan Tradisional Terpopuler (Most Popular Traditional Dishes).

Pelleng mengungguli Kue Talam Durian dari Kota Pekanbaru yang berada di posisi kedua dan Gulai Itam dari Kabupaten Tebo di posisi ketiga. Data pemenang API 2019 mencatat Pelleng memperoleh 75,87 persen suara, sebuah capaian yang menunjukkan besarnya dukungan publik terhadap kuliner tradisional tersebut.

Penghargaan itu menjadi momentum penting. Pelleng yang selama ratusan tahun hidup di ruang adat masyarakat Pakpak akhirnya mendapatkan pengakuan di panggung kuliner dan pariwisata Indonesia.

Bukan Sekadar Nasi Kuning

Pelleng mungkin tampak sederhana: nasi berwarna kuning, rempah, cabai dan ayam. Tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan sebuah pesan besar.

Pelleng adalah makanan yang diberikan ketika seseorang hendak melangkah menghadapi sesuatu.

Anak yang hendak merantau diberi Pelleng. Anak yang hendak mengikuti ujian diberi Pelleng. Orang yang hendak membuka ladang, membangun rumah atau memulai perjalanan hidup juga disuguhi Pelleng.

Karena itu, Pelleng sesungguhnya bukan hanya tentang rasa. Ia adalah cara masyarakat Pakpak menyampaikan pesan kepada seseorang:

“Pergilah dengan keberanian, melangkahlah dengan doa, dan pulanglah membawa keberhasilan.”

Dari dapur-dapur sederhana di tanah Pakpak, khusnya kecamatan Penanggalan Pelleng kemudian menembus panggung nasional dan menjadi Juara I Makanan Tradisional Terpopuler API 2019.

Sebuah bukti bahwa kuliner tradisional tidak pernah benar-benar sederhana. Di dalamnya ada sejarah, identitas, doa dan harga diri sebuah masyarakat.

Dan selama Pelleng masih ditumbuk, disajikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, selama itu pula cerita tentang keberanian dan harapan masyarakat Pakpak akan tetap hidup. (*).

Berita Terkait

Dugaan Makelar Tanah Disebut Awali Pemalsuan Dokumen, 35 AJB di Lae Saga Masih Diusut Polisi
Banding JPU dan Tanda Tanya Perkara Pupuk Subsidi: Mengapa Hanya Logan Solin yang Jadi Tersangka?
HUT ke-81 RI, ATR/BPN Luncurkan Tiga Terobosan: Pengukuran Maksimal 7 Hari, Balik Nama Ditarget 10 Hari
DKA Partners Bantah Tuduhan Pemalsuan SHM: Transaksi Klien Dilakukan Melalui PPAT, Sengketa Masih Berjalan di Pengadilan
Warga Buluh Dori Tolak Pengukuran Lahan PT Sirma Pratama Nusa, Muncul Dugaan Lahan Warga Masuk Program PSR
Kapolres dan Wali Kota Cicipi Pelleng, Kuliner Unik Pakpak yang Menembus Panggung Nusantara
Kepala Mukim dan Kapolres Ingatkan Sportivitas di Piala Mukim Penanggalan
Kepala Mukim dan Kapolres Ajak Semua Pihak Jaga Sportivitas Piala Mukim Penanggalan

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Viral,,,,Polisi Periksa Gudang Dugaan Pengaplosan LPG 3kg Ternyata Omon_Omon

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Kodim 0116/Nagan Raya Serahkan Mitsubishi Fuso untuk Operasional KDKMP untuk memajukan Perekonomian Desa

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Perkuat Ekonomi Desa, Kodim 0116/Nagan Raya Serahkan Mitsubishi Fuso untuk Operasional KDKMP

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:54 WIB

Gotong Royong bersama warga dalam Rangka lomba Kebersihan Pos kamling untuk Semarakkan HUT RI ke – 81

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:50 WIB

BABINSA POS RAMIL TRIPA MAKMUR MEMBANTU WARGA MERAWAT TANAMAN CABE DI DESA DREN TUJUH

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:46 WIB

Babinsa Posramil Beutong Ateuh Banggalang Komsos Bersama Ibu-ibu Yang Sedang Duduk Di Pinggir Jalan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:45 WIB

Babinsa sama babinkamtibmas patroli bersama di desa binaan demi keamanan masyarakat

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Babinsa Koramil 03/Seunagan Timur Jalin Komsos Dengan Warga Binaan

Berita Terbaru