APBDes Teladan Baru Disahkan, Rapat Panas oleh Kritik Warga

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Sabtu, 11 April 2026 - 21:31 WIB

4082 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teladan Baru, teropongbarat.com. Balai kampung itu menjadi saksi bagaimana anggaran desa tidak lagi dibahas dalam sunyi. Sabtu siang, 11 April 2026, suara warga bersahut-sahutan dalam musyawarah desa (musdes) Kampong Teladan Baru, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam. Agenda utamanya: merampungkan APBDes 2026.
Rapat dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, ini bukan sekadar forum formal. Pembahasan anggaran kali ini seperti membuka kembali catatan lama yang belum selesai.
Sebelumnya, APBDes 2026 sudah sempat ditetapkan.

Pergantian penjabat kepala desa membuat sejumlah pos kembali dibongkar. Sebagian dipertahankan, sebagian lain hendak diubah.
Koordinator pendamping kecamatan dan kota mengingatkan arah kebijakan tetap mengacu pada Permendes Nomor 16 Tahun 2025. Prioritasnya jelas: penanganan kemiskinan ekstrem, bantuan langsung tunai, ketahanan iklim dan bencana, hingga layanan kesehatan bagi ibu hamil, lansia, dan penanganan stunting.
Program lain tak kalah penting: Koperasi Merah Putih, padat karya tunai, serta ketahanan pangan yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, suasana berubah ketika forum dibuka untuk tanggapan.
Seorang warga secara tegas, Ia menyinggung pencairan dana tahap II yang tak kunjung turun. Teladan Baru, katanya, menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Runding dengan kondisi itu. Kritik pun mengarah ke kinerja penjabat kepala kampung sebelumnya—terutama program ketahanan pangan yang disebut tak berjalan.
Isu lama itu belum sepenuhnya padam.

Kepala kampung saat ini, Musliadi, mengakui persoalan tersebut masih ditelusuri.
“BPG akan terus mempersoalkan anggaran BUMDes tahun 2025. Sampai saat ini masih diaudit,” ujarnya usai rapat.

Pernyataan itu menambah tegang suasana. Dugaan pengelolaan dana BUMDes yang tak transparan mencuat di tengah forum. Meski belum ada penjelasan resmi, kecurigaan itu cukup untuk membuat rapat tak lagi tenang.
Puncaknya terjadi saat pembahasan anggaran BUMDes 2026.
Dalam rancangan sebelumnya, dana ketahanan pangan melalui BUMDes ditetapkan Rp40 juta. Angka ini dipersoalkan kembali oleh penjabat kepala kampung.
“Rp40 juta terlalu besar. Saya akan sesuaikan,” kata Musliadi.
Kalimat itu langsung disambut keberatan. Sejumlah warga mendesak agar angka tersebut tidak diubah. Mereka menilai dana itu penting untuk menjaga program ketahanan pangan tetap berjalan.
Perdebatan berlangsung terbuka. Tidak semua sepakat. Sebagian warga menuntut kejelasan penggunaan dana lama sebelum berbicara soal perubahan anggaran baru. Di sisi lain, pemerintah kampung mengaku masih menelaah struktur anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Koordinator kota pendamping desa mencoba meredakan situasi. Ia menegaskan peran pendampingan bukan sekadar formalitas.
“Kami memastikan penggunaan dana desa tetap aman, terkendali, dan berpihak pada masyarakat,” ujarnya.

Menjelang sore, forum akhirnya mencapai kesepakatan. APBDes 2026 disahkan, meski tanpa sepenuhnya meredakan kegelisahan.
Di Teladan Baru, musyawarah kali ini menunjukkan perubahan yang pelan tapi nyata: warga tak lagi hanya hadir sebagai pendengar. Mereka mulai bertanya, menguji, bahkan menekan—agar anggaran desa tidak sekadar disahkan, tetapi juga dipertanggungjawabkan

Berita Terkait

Plasma Disorot, Pembagian Dinilai Tak Proporsional: Dari 8 Koperasi di SK, Hanya 3 Terima Sertifikat
Warga Transmigrasi Diduga Diintimidasi, Kasus Lahan Longkib Kian Memanas
Batas Jabatan Kepsek SLTA Dilanggar, Pengawasan Cabdin Subulussalam Dipertanyakan
Batas Jabatan Kepsek SLTA Dilanggar, Pengawasan Cabdin Subulussalam Dipertanyakan
Mediasi yang Timpang di Longkib: Dari Forum Damai ke Desakan Evaluasi Camat dan Dugaan Keterlibatan Oknum Kades
Mediasi Lahan Longkib Kandas, Warga Soroti Ketidakprofesionalan Oknum Camat
Bupati Pakpak Bharat Tinjau Jalan Nasional Strategis di Perbatasan, Dorong Solusi Cepat dari Pemerintah Pusat
Hak Angket nyeleneh”Dan Bayang Bayang jual Beli Pokir,Fungsi DPRK Dipertanyakan,Dari Pengawasan Ke Alat Ukur Politik

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 15:10 WIB

BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bantaeng Sosialisasi dan Manfaat Keikutsertaan Peserta BPJS di Gereja Toraja Jemaat Bantaeng

Minggu, 19 April 2026 - 13:25 WIB

Dekat dengan Rakyat, Babinsa Bonto Lojong Sambangi Rumah Warga dalam Kegiatan Komsos

Sabtu, 18 April 2026 - 07:29 WIB

Curi Besi Tembaga Seberat 70 Kg, Personil Polsek Bissappu Berhasil Amankan Pelaku Pencurian

Jumat, 17 April 2026 - 21:50 WIB

Kodim 0212/TS Bersama Masyarakat Mulai Bangun Jembatan Gantung di Ulu Sosa

Jumat, 17 April 2026 - 20:42 WIB

Wujudkan Generasi Qurani, Datuk Seri Muspidauan dan Panglima Muhammad Nasir Dukung Penuh Khatam Al-Quran Zuriat Marhum Pekan

Jumat, 17 April 2026 - 18:42 WIB

Razia Gabungan dan Tes Urine Bersama Penegak Hukum Dalam Rangka Memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan Ke-62

Jumat, 17 April 2026 - 17:11 WIB

Lakalantas di Desa Biangkeke Merenggut Nyawa, Kasatlantas Polres Bantaeng Angkat Bicara

Jumat, 17 April 2026 - 15:00 WIB

Halal Bihalal LMB Nusantara : Satukan Laskar Melayu Se-Riau, Bukti Melayu Bangkit Menjaga Marwah

Berita Terbaru