Mulai Terungkap, Dugaan Mafia Tanah di Balik Jual-Beli Lahan Transmigrasi Longkib

ANTONI TINENDUNG

- Redaksi

Minggu, 12 April 2026 - 17:36 WIB

40233 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam, Teropongbarat.com. Polemik kepemilikan lahan transmigrasi di Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, memasuki babak baru. Konflik yang melibatkan Ketua Apkasindo Aceh, Netap Ginting, dengan masyarakat Desa Lae Saga dan Desa Bangun Sari kini mengarah pada dugaan praktik mafia tanah.

Persoalan yang sebelumnya sebatas saling klaim lahan, kini berkembang menjadi serangkaian laporan hukum. Warga telah melaporkan dugaan tindak pidana seperti pencurian dan penganiayaan ke aparat penegak hukum di Polres Subulussalam. Di sisi lain, gugatan perdata terkait keabsahan akta jual-beli lahan transmigrasi juga tengah bergulir dan semakin memanas.

Terbaru, Netap Ginting sendiri kini tengah diproses hukum atas laporan dugaan penganiayaan yang dilayangkan oleh warga transmigrasi berinisial Mirja. Namun, di tengah proses tersebut, muncul pengakuan yang membuka tabir baru dalam konflik ini.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan langsung kepada warga dan terekam dalam video berdurasi sekitar dua menit, Netap Ginting mengungkap bahwa praktik jual-beli lahan transmigrasi yang dipersoalkan diduga melibatkan seorang oknum Kepala Desa Lae Saga. Ia menyebut, transaksi tersebut terjadi saat yang bersangkutan belum menjabat sebagai kepala desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Yang menjual lahan masyarakat tani transmigrasi kepada pihak-pihak tertentu adalah oknum Kepala Desa Lae Saga, saat itu belum menjabat,” ujar Netap Ginting.

Pengakuan tersebut sontak memicu reaksi keras dari masyarakat. Warga menilai, jika benar terjadi, praktik tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap aturan yang berlaku dan merugikan masyarakat transmigrasi.
Regulasi Larangan Jual-Beli Lahan Transmigrasi
Pemerintah secara tegas melarang praktik jual-beli lahan transmigrasi, terutama dalam masa pembinaan. Hal ini diatur dalam sejumlah regulasi, di antaranya:
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Ketransmigrasian
Pasal 32 menyebutkan bahwa tanah yang diberikan kepada transmigran merupakan hak pakai atau hak milik dengan persyaratan tertentu, dan tidak dapat dialihkan secara bebas tanpa memenuhi ketentuan.

Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Ketransmigrasian
Dalam aturan ini ditegaskan bahwa transmigran dilarang memindahtangankan lahan kepada pihak lain sebelum jangka waktu tertentu (masa pembinaan) serta tanpa izin pemerintah.
Peraturan Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi
Mengatur bahwa lahan transmigrasi merupakan bagian dari program pemerintah yang diperuntukkan bagi peningkatan kesejahteraan transmigran, sehingga tidak boleh diperjualbelikan secara bebas apalagi kepada pihak di luar peserta transmigrasi.
Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat berimplikasi hukum, termasuk pembatalan hak atas tanah hingga potensi sanksi pidana jika ditemukan unsur penipuan, pemalsuan dokumen, atau praktik mafia tanah.
Sementara itu, pihak Dinas Transmigrasi Kota Subulussalam kembali menegaskan bahwa wilayah Lae Saga dan Bangun Sari merupakan kawasan transmigrasi yang berada dalam pengawasan negara.

“Jual-beli di lahan transmigrasi tidak diperbolehkan, apalagi di kawasan seperti Lae Saga dan Bangun Sari yang merupakan areal hak kawasan transmigrasi,” ujar Iskandar,S.P.i  perwakilan dinas transmigrasi menjelaskan.

Desakan Usut Dugaan Mafia Tanah
Dengan munculnya pengakuan dari Netap Ginting, masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas pihak-pihak yang diduga terlibat. Dugaan keterlibatan oknum aparatur desa memperkuat indikasi adanya praktik mafia tanah yang terstruktur.

Warga berharap penegakan hukum tidak tebang pilih dan mampu mengungkap aktor intelektual di balik penerbitan akta jual-beli lahan transmigrasi tersebut.
Kasus ini diperkirakan akan terus berkembang, seiring proses hukum yang masih berjalan baik di ranah pidana maupun perdata. Masyarakat menaruh harapan besar agar kejelasan hukum segera terwujud demi melindungi hak-hak transmigran yang sah.(*).

Berita Terkait

Memahami Putusan PN Singkil: Perdata Tak Tetapkan Pemilik Lahan, Proses Pidana Berjalan
Kantor Pertanahan Subulussalam Dukung Descente PN Singkil, Pastikan Objek Perkara Terukur dan Jelas
Pemko Subulussalam Bahas Penyelesaian Lahan Lapas dan Rencana Pembangunan Pengadilan Negeri
Open Turnamen Bola Voli CV Tumangger Cup I: Adu Prestasi, Pererat Silaturahmi
Kapolsek dan Mukim Penanggalan Ajak Kandidat Pilkades Jaga Persaudaraan
Dugaan 35 AJB Bermasalah Mengemuka, Aduan LBH Sada Kata Berujung Penelusuran BPN Aceh
Empat Saksi Kunci Disiapkan, Penyidik Telusuri Jejak AJB Lahan Transmigrasi Lae Saga
Sejumlah Warga Lae Saga Minta Penyidik Waspadai Upaya Pengaburan Fakta Sengketa Lahan

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 14:54 WIB

Sentuhan Kasih di Hari Jadi: Polwan Polres Bantaeng Berbagi Kebahagiaan dengan Siswa SD Terpencil

Jumat, 4 September 2026 - 14:51 WIB

Bonto Salluang Jadi Kampung Pancasila 2026, Bupati Bantaeng Apresiasi Sinergi TNI dan Pemerintah

Jumat, 4 September 2026 - 13:32 WIB

Tingkatkan Mutu Pelayanan, BRI Cabang Bantaeng Beri Kejutan Cenderamata di Momentum Harpelnas

Jumat, 4 September 2026 - 08:24 WIB

Anggota posramil Tripa Makmur Gotong Royong Pasang Tenda untuk Peringatan Maulid Nabi

Jumat, 4 September 2026 - 07:48 WIB

Eratkan Keakraban, Babinsa Serda syafrizal Jalin Komsos Bersama warga desa binaa Babah dua di Nagan Raya

Jumat, 4 September 2026 - 07:46 WIB

Babinsa Koramil 03/Seunagan Timur Laksanakan Patroli Karhutla Di Wilayah Binaan.

Jumat, 4 September 2026 - 07:44 WIB

BABINSA KORAMIL 05/DM SOSIALISASIKAN PENCEGAHAN KARHUTLA KEPADA WARGA

Jumat, 4 September 2026 - 07:42 WIB

PEMERINTAH DESA LANGKAK DAN POSRAMIL KUALA PESISIR HIMBAU WARGA CEGAH KARHUTLA DI MUSIM KEMARAU

Berita Terbaru