Bayang-Bayang Kuasa dan Luka di Lae Saga, Dua Pengurus Apkasindo Aceh Terseret

ANTONI TINENDUNG

- Redaksi

Minggu, 26 April 2026 - 09:45 WIB

40349 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Subulussalam, teropongbarat.com — Di tengah riuh sengketa lahan yang tak kunjung reda di Lae Saga, satu ironi mencuat ke permukaan: mereka yang semestinya menjadi penopang petani, justru terseret dalam pusaran konflik melawan petani itu sendiri.

Nama dua oknum pengurus inti Apkasindo Aceh kini tak lagi sekadar disebut dalam struktur organisasi, tetapi juga dalam keluhan para petani transmigrasi—kelompok rentan yang selama ini menggantungkan hidup pada sebidang tanah yang mereka garap turun-temurun. Di ruang-ruang sempit permukiman Lae Saga, cerita tentang tekanan, klaim sepihak, hingga dugaan kekerasan, beredar dari mulut ke mulut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konflik ini bukan hanya soal batas tanah, melainkan soal posisi yang timpang.
Di satu sisi, ada petani kecil—transmigran yang datang dengan harapan sederhana: bertahan hidup dari lahan yang dijanjikan negara. Di sisi lain, muncul nama-nama yang memiliki akses, jaringan, dan pemahaman lebih atas mekanisme hukum. Ketika keduanya berhadapan, yang terjadi bukan sekadar sengketa, melainkan ketidakseimbangan yang nyata.

Situasi kian memprihatinkan setelah mencuat dugaan penganiayaan terhadap salah seorang petani. Peristiwa ini menambah lapisan luka dalam konflik yang semestinya bisa diselesaikan melalui jalur hukum yang adil dan berimbang.

Namun hingga kini, aparat penegak hukum di Polsek Longkib belum menetapkan tersangka. Proses hukum berjalan lambat, sementara ketegangan di lapangan terus mengeras.
Di titik ini, publik mulai bertanya: di mana letak keberpihakan?

Organisasi seperti Apkasindo, yang selama ini dikenal sebagai wadah perjuangan petani kelapa sawit, idealnya berdiri di garis depan melindungi anggotanya—terutama mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial. Ketika justru muncul kesan sebaliknya, kepercayaan itu pun tergerus.

Bertengkar dengan petani miskin bukan hanya soal citra yang tercoreng. Ia mencerminkan kegagalan moral: ketika kekuatan organisasi tidak digunakan untuk melindungi, melainkan—diduga—berhadapan dengan mereka yang paling membutuhkan perlindungan itu sendiri.

Lae Saga hari ini menjadi cermin. Bahwa konflik agraria bukan sekadar soal legalitas dokumen atau keabsahan surat kuasa, tetapi juga tentang keadilan sosial yang sering kali terabaikan.
Para petani transmigrasi tidak hanya membutuhkan kepastian hukum, tetapi juga perlindungan—dari negara, dari aparat, dan dari organisasi yang mengatasnamakan perjuangan mereka.

Sebab ketika yang kuat memilih berhadapan dengan yang lemah, yang lahir bukan penyelesaian. Melainkan ketidakadilan yang terus berulang.(*).

Berita Terkait

SMP NEGERI 1 SIMPANG KIRI: PABRRIK ATLET JUARA — Tarung Derajat dan Karate Sumbang Emas untuk Subulussalam
Serap Aspirasi di Kota Sada Kata, Haji Uma Siap Kawal Persoalan Transmigrasi Aceh hingga Senayan
Kepala Mukim Se-Kota Subulussalam Kecewa, Tuding BPKAD Beri Janji Palsu Soal Pencairan Honor dan Anggaran Mukim
4,2 Miliard Tunggakan Listrik, Kepala PLN Subulussalam Berharap Pemko Melunasinya
Kepala PLN ULP Subulussalam Berharap Pemko Segera Lunasi Tunggakan Listrik PJU dan SKPK
Advokat Muda Arianto, SH: Kasus Perdata Dinilai Dapat Memperkuat Pengungkapan Perkara Pidana di Lae Saga
Tagihan PLN Membengkak ,Pemko Subulussalam Belum Membayar
Atlet Wushu Berprestasi Asal Subulussalam Raih Medali PORA, Kini Resmi Diterima di SMA Keberbakatan Olahraga Negeri Aceh

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 22:58 WIB

Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

Jumat, 17 Juli 2026 - 22:35 WIB

Wamen ATR/Waka BPN: Kepala Daerah Berperan Strategis dalam Penyelesaian Persoalan Pertanahan dan Tata Ruang

Jumat, 17 Juli 2026 - 22:35 WIB

Kementerian ATR/BPN Hadirkan Pengukuran Terjadwal, Beri Kepastian Waktu Layanan untuk Masyarakat

Jumat, 17 Juli 2026 - 22:33 WIB

Sedang Mengurus Urusan Pertanahan? Cari Tahu Biayanya di Sini!

Jumat, 17 Juli 2026 - 22:33 WIB

Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

Jumat, 17 Juli 2026 - 07:49 WIB

Diduga Judi Tjap Jikie dan Dadu Beroperasi di Desa Klurak, Warga Pertanyakan Ketegasan Aparat Penegak Hukum

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:35 WIB

Peduli Kesehatan Masyarakat Perbatasan, Pos Mentari Satgas Pamtas Yonarmed 13/Nanggala Gelar Pelayanan Medis Door-to-Door di Desa Badau

Kamis, 16 Juli 2026 - 02:35 WIB

Eric Vr: “Menolong Publik di Era Digital Adalah Menyajikan Kebenaran, Bukan Sensasi Clickbait

Berita Terbaru