Bayang-Bayang Kuasa dan Luka di Lae Saga, Dua Pengurus Apkasindo Aceh Terseret

ANTONI TINENDUNG

- Redaksi

Minggu, 26 April 2026 - 09:45 WIB

40422 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Subulussalam, teropongbarat.com — Di tengah riuh sengketa lahan yang tak kunjung reda di Lae Saga, satu ironi mencuat ke permukaan: mereka yang semestinya menjadi penopang petani, justru terseret dalam pusaran konflik melawan petani itu sendiri.

Nama dua oknum pengurus inti Apkasindo Aceh kini tak lagi sekadar disebut dalam struktur organisasi, tetapi juga dalam keluhan para petani transmigrasi—kelompok rentan yang selama ini menggantungkan hidup pada sebidang tanah yang mereka garap turun-temurun. Di ruang-ruang sempit permukiman Lae Saga, cerita tentang tekanan, klaim sepihak, hingga dugaan kekerasan, beredar dari mulut ke mulut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konflik ini bukan hanya soal batas tanah, melainkan soal posisi yang timpang.
Di satu sisi, ada petani kecil—transmigran yang datang dengan harapan sederhana: bertahan hidup dari lahan yang dijanjikan negara. Di sisi lain, muncul nama-nama yang memiliki akses, jaringan, dan pemahaman lebih atas mekanisme hukum. Ketika keduanya berhadapan, yang terjadi bukan sekadar sengketa, melainkan ketidakseimbangan yang nyata.

Situasi kian memprihatinkan setelah mencuat dugaan penganiayaan terhadap salah seorang petani. Peristiwa ini menambah lapisan luka dalam konflik yang semestinya bisa diselesaikan melalui jalur hukum yang adil dan berimbang.

Namun hingga kini, aparat penegak hukum di Polsek Longkib belum menetapkan tersangka. Proses hukum berjalan lambat, sementara ketegangan di lapangan terus mengeras.
Di titik ini, publik mulai bertanya: di mana letak keberpihakan?

Organisasi seperti Apkasindo, yang selama ini dikenal sebagai wadah perjuangan petani kelapa sawit, idealnya berdiri di garis depan melindungi anggotanya—terutama mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial. Ketika justru muncul kesan sebaliknya, kepercayaan itu pun tergerus.

Bertengkar dengan petani miskin bukan hanya soal citra yang tercoreng. Ia mencerminkan kegagalan moral: ketika kekuatan organisasi tidak digunakan untuk melindungi, melainkan—diduga—berhadapan dengan mereka yang paling membutuhkan perlindungan itu sendiri.

Lae Saga hari ini menjadi cermin. Bahwa konflik agraria bukan sekadar soal legalitas dokumen atau keabsahan surat kuasa, tetapi juga tentang keadilan sosial yang sering kali terabaikan.
Para petani transmigrasi tidak hanya membutuhkan kepastian hukum, tetapi juga perlindungan—dari negara, dari aparat, dan dari organisasi yang mengatasnamakan perjuangan mereka.

Sebab ketika yang kuat memilih berhadapan dengan yang lemah, yang lahir bukan penyelesaian. Melainkan ketidakadilan yang terus berulang.(*).

Berita Terkait

Dua Pelatih Subulussalam Kawal Keshia Solin Menuju Panggung Nasional
Kantor Pertanahan Subulussalam Serahkan 90 Sertipikat PTSL kepada Warga Desa Pegayo
PT Asdal Prima Lestari Disomasi Ketiga, PPP TPA Bawan Ultimatum Penyelesaian Hak Guru Ngaji
89 Sertipikat PTSL Diserahkan di Desa Bawan, Kantah Subulussalam Dorong Kepastian Hukum Hak Atas Tanah
90 Sertipikat PTSL Diserahkan di Desa Pegayo, Kantor Pertanahan Subulussalam Tegaskan Pentingnya Kepastian Hak Atas Tanah
Revitalisasi SD Kuta Cepu Disorot, Spesifikasi Material dan Pekerjaan Diduga Tak Sesuai RAB
Revitalisasi SD Negeri UPT XV Buluh Carak Disorot, Pagu Rp1,18 Miliar Diduga Tak Transparan
TK Syaifullah Sultan Daulat Disorot, Kepala Sekolah Tidak Mengenal Siapa Ketua P2SP Di kegiatan Revitalisasi Dia

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Haul Agung Mbah Sayyid Imam Nawawi Digelar di Desa Mbetek, Mojoagung  

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Tinjau Pelayanan dan Serahkan Sertipikat PTSL, Senator DPD RI Kunjungi Kantah Bitung

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Jangan Keliru! BPHTB dan PPh Bukan Kewenangan ATR/BPN dalam Peralihan Hak Tanah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Ikut PTSL, Warga Bangka Tengah Rasakan Mudahnya Urus Sertipikat Tanah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Kantah Jembrana Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda, Dorong Generasi Muda Berintegritas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:03 WIB

53.431 Tanah Wakaf Disertipikasi, ATR/BPN Percepat Legalitas Aset Keagamaan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Tanah Warga Tercatat sebagai Aset Negara, Bisa Dikembalikan? UU Reforma Agraria Buka Jalan Pemulihan Hak

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Kajari Tulang Bawang: Kantor Kejaksaan Milik Publik, Tapi Bijak Bermedsos Jangan Potong Rekaman

Berita Terbaru

SUBULUSSALAM

Dua Pelatih Subulussalam Kawal Keshia Solin Menuju Panggung Nasional

Selasa, 27 Okt 2026 - 22:43 WIB