Calon Geuchik Nomor Urut 2, Agus Suryadi Fokus pada Program Sosial dan Pelayanan Kesehatan Warga

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Senin, 28 Juli 2025 - 22:48 WIB

40503 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Timur – Dari sebuah desa di hulu Kecamatan Simpang Jernih, suara perubahan perlahan-lahan mulai terdengar. Desa Batu Sumbang, yang selama ini nyaris luput dari perhatian media dan kebijakan besar kabupaten, kini tengah bersiap menyambut momentum enam tahunan: pemilihan Geuchik. Dalam hiruk pikuk pesta demokrasi lokal itu, satu nama mengemuka—Agus Suryadi. Bukan sekadar kandidat, tetapi pembawa gagasan yang mencoba mendefinisikan ulang peran seorang kepala desa di tengah realitas sosial yang kompleks.

Agus bukan figur asing bagi masyarakat Batu Sumbang. Ia tumbuh bersama denyut kehidupan desa yang masih kerap bergulat dengan keterbatasan infrastruktur, akses pelayanan publik, dan dinamika ekonomi yang stagnan. Namun perjalanan hidup membawanya pada profesi yang mempertemukannya dengan banyak wajah ketimpangan dan harapan: jurnalis. Bertahun-tahun ia menyusuri daerah-daerah pedalaman sebagai pekerja pers, menuliskan kisah-kisah kecil yang sering tak tersentuh kebijakan besar.

Kini, dengan pengalaman itu, ia kembali ke desa, membawa pandangan baru tentang apa yang semestinya menjadi prioritas. Bukan janji, katanya, tapi strategi. Bukan pembangunan yang elitis, tapi pelayanan yang menyentuh kehidupan warga dari dekat—dan dari dalam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari 14 program yang ia susun, sembilan di antaranya adalah program yang langsung menyentuh kebutuhan harian masyarakat. “Saya tidak bicara proyek besar. Saya bicara tentang ibu yang ingin melahirkan tapi khawatir tidak ada biaya. Tentang bapak yang meninggal dan keluarga tak tahu bagaimana urus jenazah. Tentang anak yang pintar tapi tidak tahu ke mana harus cari biaya kuliah,” ujarnya dalam sebuah pertemuan terbuka bersama warga di meunasah desa.

Program-program Agus dirancang menyasar titik-titik vital: pengadaan ambulans desa, beasiswa bagi pelajar dari keluarga kurang mampu, fasilitasi pengurusan administrasi kependudukan (Adminduk), santunan untuk warga yang mengalami musibah atau wafat, bantuan bagi ibu hamil yang akan melahirkan, serta akses pengobatan gratis dalam kondisi darurat.

Di luar itu, ia juga menggarisbawahi persoalan yang selama ini tabu disinggung dalam forum resmi desa: narkoba. “Batu Sumbang tidak boleh menjadi koridor gelap peredaran narkotika. Ini bukan isu kota, ini juga soal desa. Kita tidak akan kompromi,” tegasnya. Salah satu visinya adalah menjadikan Batu Sumbang sebagai Gampong Bebas Narkoba, bukan hanya sebagai slogan, tapi dengan mekanisme deteksi, pendampingan, dan edukasi lintas usia.

Yang menarik, Agus tidak bicara sendirian. Ia mengajak warga membedah setiap programnya, membuka diskusi soal anggaran, skema gotong royong, dan koneksi eksternal yang bisa digunakan. Ia mengklaim memiliki akses ke jejaring sosial yang lebih luas, mulai dari organisasi sosial, media, hingga lembaga pemerintah. “Kita tidak bisa hanya menunggu dana desa. Kepala desa hari ini harus mampu membawa program ke desa, bukan menunggu program datang,” ucapnya.

Salah satu proposalnya yang menjadi sorotan adalah pengadaan mesin RO mini—sebuah teknologi penyaring air yang akan digunakan untuk menjamin ketersediaan air bersih. Di desa yang airnya sering keruh dan tidak layak konsumsi, usulan ini mendapat banyak sambutan. Namun di sisi lain, tantangan teknis dan pembiayaan masih menjadi pertanyaan.

Para pendukung Agus melihatnya sebagai pemimpin baru yang tidak sekadar hadir karena garis keturunan atau popularitas keluarga. Ia membawa ruang dialog dalam politik desa yang selama ini sering dibungkam oleh kompromi-konpromi tertutup. Ia datang dengan catatan, bukan catatan prestise, tapi catatan masalah dan solusi yang dikumpulkannya sendiri dari cerita warga.

Namun jalan menuju perubahan tidak selalu mudah. Lawannya dalam kontestasi juga memiliki pendukung loyal. Ada suara-suara yang menyangsikan kemampuan Agus dalam mengelola birokrasi desa, karena latar belakangnya yang bukan dari pemerintahan. Tapi Agus menjawab dengan sederhana: “Saya tidak ingin menjadi birokrat. Saya ingin menjadi pelayan.”

Apa yang diperjuangkan Agus bukan sekadar kemenangan di kotak suara. Tapi semacam mandat moral untuk memulihkan kepercayaan warga pada pemimpin desa. Ia menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi dalam pemerintahan lokal: pengelolaan terbuka, aspiratif, dan responsif terhadap kebutuhan nyata.

Masyarakat Batu Sumbang kini berada di persimpangan penting. Apakah mereka akan tetap berjalan pada jalur lama yang penuh kompromi, atau memilih untuk mengambil risiko dengan memberi kepercayaan pada wajah baru—yang datang dengan semangat, rencana, dan keberanian untuk menantang kemapanan desa.

Dalam dinamika yang sunyi namun bergelora itu, suara perubahan sedang mengalir. Bukan dari megafon partai atau baliho besar. Tapi dari percakapan kecil di warung kopi, dari obrolan di meunasah, dari kekhawatiran para ibu, dari semangat anak-anak muda yang ingin pulang ke desa dengan bangga.

Dan dari sana, nama Agus Suryadi mulai dikenal. Bukan karena janjinya, tapi karena niatnya. Bukan karena gelarnya, tapi karena keberaniannya untuk mencoba merobek diam yang terlalu lama menyelimuti Batu Sumbang. (RED)

Berita Terkait

Proyek Rp7,25 Miliar Jalan Kuta Binjei–Alue Ie Mirah Disorot: Baru Diresmikan, Saluran 200 Meter Retak
Pohon Lapuk Lintas Medan-Banda Aceh Ancam Keselamatan Warga, Aktivis BAI Kecam Sikap Acuh Plt Kadis BPBD Aceh Timur
Keterangan Kadis PUPR Berubah, Haris Nduru Tuntut Permintaan Maaf Terbuka dan Audit Proyek Rp7,25 Miliar
BNPB, Bangun Huntara Diduga Tak Layak Huni, Korban Banjir Simpang Jernih Mengeluh
Desakan Penyelidikan Dana Sapi Meugang Rp7,5 Miliar Menguat, Kaperwil Mitrapolisi Aceh Minta APH Bertindak
Kapolres Aceh Timur Tinjau Pengobatan Gratis dan Trauma Healing bagi Korban Banjir di Julok
Julok Putra Legend FC Raih Gelar Juara Di Piala Silaturahmi U-40 Block A 2025
Bea Cukai Langsa Tegaskan Komitmen Berantas Rokok Ilegal, 14.100 Batang Disita di Aceh Timur

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 16:52 WIB

FAME Indonesia dan 24 Universitas Indonesia Bangun Jembatan Akademik dengan Vietnam

Selasa, 22 September 2026 - 11:52 WIB

Polres Sergai Evakuasi Anak Terlantar, Diserahkan ke Dinsos untuk Penanganan

Selasa, 22 September 2026 - 11:24 WIB

Gerak Cepat Polres Sergai, Gubuk Diduga Sarang Sabu Dibakar

Senin, 21 September 2026 - 19:49 WIB

Kapolres Sergai Hadiri Peninjauan Operasionalisasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1

Minggu, 20 September 2026 - 19:37 WIB

MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) DPC Pasuruan Raya Hadir dalam Baksos Pembangunan Masjid Baitul Falah di Puspo

Minggu, 20 September 2026 - 17:05 WIB

Jembatan Modular di Desa Sihare’o III Nias Capai 64,5 Persen

Minggu, 20 September 2026 - 15:34 WIB

Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Bersama Puskesmas Elelim Gelar Yankes Gratis Bagi Masyarakat Distrik Elelim

Minggu, 20 September 2026 - 12:36 WIB

Uroe Lahe Pidie ke-515 Digelar Meriah, Alue Pigoe Justru Dilanda Kebakaran

Berita Terbaru