Jas Merah : Mengenang Perkebunan PT. Socfindo Dalam Balutan Waktu

REDAKSI ACEH SINGKIL

- Redaksi

Kamis, 2 April 2026 - 22:51 WIB

4069 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh.singkil.TROPONG.BARAT.
Oleh : Razaliardi Manik.
Penulis adalah Direktur Central Hukum & Keadilan Aceh Singkil, Tinggal di Kampung Baru, Singkil Utara.

Bung Karno, bapak proklamator Negeri ini dalam bukunya “ Di bawah Bendera Revolusi” menyebutkan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah. Empat suku kata ini mengingatkan kita pada kehadirin sebuah perusahaan bernama PT. Socfindo yang kala itu masih bergerak di bidang perkebunan karet.

Tulisan ini bukan bermaksud membantah sorotan tajam atas pandangan miring sebahagian orang terhadap dugaan pelanggaran regulasi yang mungkin saja terjadi di perusahaan PT. Socfindo yang kini telah beralih menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tulisan ini bukan pula bermaksud ‘mengangkat batang terendam’. Sama sekali tidak. Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan kita untuk tidak melawan lupa, betapa besarnya jasa perusahaan asal negeri Belanda ini terhadap masyarakat yang kala itu masih dalam naungan Aceh Selatan, atau tepatnya masih dalam wilayah Kemukiman Tanjung Mas, Kecamatan Simpang Kanan, kewedanaan Singkil.

Saya Razaliardi Manik bersaksi, selaku salah seorang putra asli Aceh Singkil yang lahir pada 02 Agustus 1962 di Rimo, tepatnya sekitar 200 meter dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Socfindo saat ini. Jujur saja, masa kanak-kanak dan masa remaja saya bisa dikatakan tidak seindah masa kanak-kanak saat ini. Hidup di awal-awal kemerdekaan bangsa kita ini memang begitu pahit. Setiap orang menjalani kehidupan penuh dengan kekurangan, hidup dengan kekumuhan dan kemiskinan.

Kala itu ada istilah ‘musim melehe’ yang artinya musim lapar. Musim dimana hasil panen padi di sawah masih menunggu berbuah. Hampir semua orang hidup dalam kesusahan, mata pencaharian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya hanya bergantung pada hasil sawah dan tangkapan ikan.

Salahkah jika saya bersaksi untuk mengatakan sebuah kebenaran? Kebenaran bahwa keberadaan PT. Socfindo adalah ibarat ‘malaikat’ pembawa kehidupan bagi masyarakat kala itu? Salahkah jika saya katakan jika perusahaan ini menjadi tulang punggung penompang kehidupan masyarakat, khususnya masarakat di Kecamatan Simpang Kanan (Gunung Meriah saat ini -Red). Rasanya terlalu naïf dan munafik jika kita tidak mengingat sejarah yang pernah menyertai perjalanan dalam kehidupan kita.

Saya tidak bisa menghitung dengan rumus ilmu matematika, berapa banyak masyarakat yang bekerja di PT. Socfindo, berapa banyak nyawa manusia yang nafkah hidupnya bergantung di perusahaan ini. Sebab, ketika itu saya masih seorang kanak-kanak yang berjalan tertatih dan terseok-seok. Apa yang saya sebutkan ini bukan merupakan sebuah pembenaran atau pembelaan terhadap perusahaan yang berdiri sekitar tahun 1938 itu.

Apa yang saya lihat dan rasakan pada masa itu barangkali sudah pasti juga dialami oleh kawan-kawan se-angkatan saya yang masih hidup seperti, Sarifuddin Hutabarat alias Hutabarat, H. Abuhanifah alias Idun, Roslem alias Dalem, Pukak Magodang, dan H. Darmudi pemilik Langgeng Jaya. Atau bisa juga ditanyakan kepada kawan-kawan yang usianya sedikit di bawah saya, seperti H. Tamiruddin alias gecik Tami.

Tanyakan betapa susahnya kehidupan kala itu. Dimana orang tua kami bekerja, darimana kami dapat makan. Apa itu yang disebut “Beras Catu” yang untuk zaman sekarang tidak layak dikonsumsi. Meski begitu, itu pulalah yang membesarkan kami, dan atas jasa perusahaan itu pulalah kami bisa sekolah.

Rasanya tidak salah jika tulisan ini saya beri judul “ Jas Merah: Perkebunan PT. Socfindo Dalam Balutan Waktu”, waktu dimana pemerintah tak bisa hadir di tengah-tengah rakyat, pemerintah di hampir seluruh negeri ini tak berdaya untuk membuka lapangan kerja bagi rakyatnya, dan tak mampu pula memikirkan nasib rakyat di tengah agresi dan pemberontakan di awal kemerdekaan republik Indonesia yang tercinta ini.

Zaman itu tidak ada bantuan dari pemerintah, tidak ada istilah yang namanya subsidi, tidak ada BPJS, tidak ada PKH, tidak ada BLT, tidak ada bantuan pert. (Bima Pohan)

Berita Terkait

Pulihkan Pelayanan Pascabanjir,PT MTT Serahkan Bantuan Mobiler untuk Kelurahan Kampung Lama
KBPP Polri Sumut Surati Kapolri Untuk Perpanjangan Waktu Calon Ketua Umum Pada Munas VI
Rumah Inspiratif Kelana dan Dinas Kelautan Perikanan Jajaki Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Dukung Swasembada Pangan, Babinsa Bonto Lebang Lakukan Pemantauan Lahan Sawah
Konflik APBK Aceh Singkil, Usai Di Mediasi, Oleh Wakil Gubernur Aceh
Dekat dengan Rakyat, Babinsa Bonto Lojong Sambangi Rumah Warga dalam Kegiatan Komsos
Semangat Kebersamaan, Babinsa dan Warga Kompak Perbaiki Jalan Tani
Wujudkan Generasi Qurani, Datuk Seri Muspidauan dan Panglima Muhammad Nasir Dukung Penuh Khatam Al-Quran Zuriat Marhum Pekan

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 19:08 WIB

Proyek Swakelola UPTD Wilayah VI Coreng Citra Gubernur Lampung Mirza 

Senin, 20 April 2026 - 17:25 WIB

Mencetak Karakter Generasi Penerus Bangsa

Senin, 20 April 2026 - 15:20 WIB

Hadir Untuk Negeri, Satgas Yonif 521/DY Berikan Pelayanan Kesehatan di Distrik Kelila

Senin, 20 April 2026 - 15:14 WIB

Kepala UPT Pengelolaan Sampah Wilayah Timur Dinas Lingkungan Hidup (DLH ) Kota

Senin, 20 April 2026 - 15:11 WIB

Seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik

Senin, 20 April 2026 - 00:14 WIB

Gema Davos, Ranny Fahd A Rafiq Kawal Langkah Berani Presiden Prabowo untuk Gaza lewat BoP

Senin, 20 April 2026 - 00:10 WIB

Fahd A Rafiq : Gebrakan dari ‘Papan Tengah’ Mengunci Kedaulatan Palestina lewat Board of Peace”, Dukung Penuh Langkah Presiden Prabowo Subianto

Minggu, 19 April 2026 - 19:44 WIB

Proyek Swakelola Jalan Penumangan–Pagar Dewa Disorot, Diduga Jadi Ajang “Bancakan” Korupsi

Berita Terbaru

NASIONAL

Mencetak Karakter Generasi Penerus Bangsa

Senin, 20 Apr 2026 - 17:25 WIB