Manajer PT Laot Bangko Diduga Berbohong Soal Paret Gajah dan HGU, Masyarakat Desak Audit Menyeluruh

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Kamis, 5 Juni 2025 - 00:55 WIB

40369 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam, teropongbarat.co — Konflik agraria antara masyarakat pekebun,masyarakat adat dan petani di tiga kecamatan Kota Subulussalam dengan PT Laot Bangko kembali memanas. Puncaknya, pimpinan LSM Suara Putra Aceh, Anton Tinendung, menyebut pernyataan manajer PT Laot Bangko terkait pembangunan paret gajah sebagai “isapan jempol belaka” dan sangat kental Aura kebohongan.

     “Apa yang disampaikan manajer PT Laot Bangko di media hanya ilusi. Kenyataannya, masyarakat sedang menghadapi tekanan—baik dari pembangunan paret yang semrawut hingga dugaan intimidasi aparat,” tegas Anton.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Paret besar yang dibangun perusahaan, disebut-sebut sebagai pembatas lahan, justru mengarah pada perluasan kawasan perkebunan sawit secara sepihak, melampaui batas Hak Guna Usaha (HGU) yang sah. Temuan lapangan bahkan menunjukkan indikasi penggunaan aparat untuk mengamankan proyek bermasalah tersebut. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa lahan masyarakat adat dan transmigrasi tersebut telah digarap perusahaan sawit PT Laot Bangko tanpa persetujuan masyarakat adat, tanpa prinsip FPIC (Persetujuan Bebas, Didahulukan, dan Diinformasikan).Tak ada sosialisasi pada masyarakat adat yang ada di Aceh. Termasuk saat proses dikeluarkannya HGU PT Laot Bangko.

Lebih dari itu, proyek plasma yang dijanjikan dalam SK Wali Kota Subulussalam tahun 2020 dinilai fiktif. Dari 438 Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), mayoritas tidak memiliki kejelasan status hukum atas lahan, bahkan beberapa nama disebut sebagai “plasma siluman” karena tidak dikenal masyarakat.

Tumpang Tindih dan Dugaan Invansi Lahan

PT Laot Bangko diduga melakukan invasi lahan secara tidak sah. Peta konsesi perusahaan disebut tumpang tindih dengan lahan transmigrasi, lahan Program PSR, dan tanah milik warga yang sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

“Kami menduga kuat perluasan dilakukan dengan cara menyusup ke lahan rakyat. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tapi bentuk perampasan hak,” tambah Anton.

 

Haji Uma: “Menutup Jalan Adalah Hak Masyarakat”

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma, ikut turun ke lapangan pada 3 Juni 2025. Dalam dialog terbuka di Kecamatan Penanggalan, Haji Uma menyatakan penutupan jalan menuju PT Laot Bangko adalah tindakan sah selama belum ada penyelesaian adil.

> “Jangan zalimi masyarakat. Mereka hanya menuntut keadilan atas tanah yang telah mereka garap puluhan tahun,” ujar Haji Uma di hadapan ratusan warga dan tokoh adat.

Ia mendesak agar dilakukan pengukuran ulang HGU PT Laot Bangko serta evaluasi penuh terhadap legalitas perizinannya.

BPN dan Dugaan Permainan HGU

Sorotan tajam juga mengarah ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Subulussalam yang diduga tidak berpihak pada masyarakat dalam proses legalisasi lahan. Sumber investigatif menyebut, beberapa anggota legislatif diduga dahulu “dibungkam” lewat fasilitas perjalanan luar negeri dalam proses perpanjangan HGU tempo dulu.

Ironisnya, almarhum Wali Kota sebelumnya, H. Merah Sakti, sempat menolak perpanjangan HGU tersebut. Namun kini, proses tersebut diduga kembali bergulir secara diam-diam.

Desakan Pencabutan HGU dan Audit Total

Usai pertemuan dengan Haji Uma, masyarakat, tokoh adat, dan LSM mendesak Wali Kota Subulussalam, H. Rasit Bancin, mencabut HGU PT Laot Bangko dan SK CPCL yang dianggap cacat hukum dan substansi.

Mereka juga menuntut pemerintah pusat dan Kementerian Agraria turun tangan melakukan audit menyeluruh terhadap penguasaan lahan perusahaan.

> “Kami tidak anti-investasi, tapi jangan injak hak kami. Ini tanah warisan leluhur kami, bukan tanah kosong yang bisa diambil seenaknya,” ujar salah satu tokoh adat yang juga korban tumpang tindih lahan.//Tim inv..

Berita Terkait

Plasma PT Laot Bangko: Dua Kali Seremonial, Sekali Lagi Ketidakpastian?
Plasma Disorot, Pembagian Dinilai Tak Proporsional: Dari 8 Koperasi di SK, Hanya 3 Terima Sertifikat
Warga Transmigrasi Diduga Diintimidasi, Kasus Lahan Longkib Kian Memanas
Batas Jabatan Kepsek SLTA Dilanggar, Pengawasan Cabdin Subulussalam Dipertanyakan
Batas Jabatan Kepsek SLTA Dilanggar, Pengawasan Cabdin Subulussalam Dipertanyakan
Mediasi yang Timpang di Longkib: Dari Forum Damai ke Desakan Evaluasi Camat dan Dugaan Keterlibatan Oknum Kades
Mediasi Lahan Longkib Kandas, Warga Soroti Ketidakprofesionalan Oknum Camat
Bupati Pakpak Bharat Tinjau Jalan Nasional Strategis di Perbatasan, Dorong Solusi Cepat dari Pemerintah Pusat

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 23:14 WIB

DPP KNPI Ajak Masyarakat Indonesia Doakan Presiden Prabowo, Berhasil Kerja Sama Minyak Dan Gas dengan Putin

Senin, 20 April 2026 - 22:00 WIB

Ngaji Sambil Ngopi, Tradisi Rutin Anjang Sana Majelis Ta’lim Raudhatul Jannah di Desa Kembiritan

Senin, 20 April 2026 - 17:25 WIB

Mencetak Karakter Generasi Penerus Bangsa

Senin, 20 April 2026 - 15:20 WIB

Hadir Untuk Negeri, Satgas Yonif 521/DY Berikan Pelayanan Kesehatan di Distrik Kelila

Senin, 20 April 2026 - 15:16 WIB

Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar Meresmikan Pengoperasian Gedung Baru RSUD, dr. P. P. Magretti Lauran Kecamatan Tanımbar Selatan

Senin, 20 April 2026 - 15:14 WIB

Kepala UPT Pengelolaan Sampah Wilayah Timur Dinas Lingkungan Hidup (DLH ) Kota

Senin, 20 April 2026 - 15:11 WIB

Seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik

Senin, 20 April 2026 - 00:14 WIB

Gema Davos, Ranny Fahd A Rafiq Kawal Langkah Berani Presiden Prabowo untuk Gaza lewat BoP

Berita Terbaru