Subulussalam, teropongbarat.com – Seorang petugas parkir di Kota Subulussalam, Patar Ferdinand Manurung, secara sukarela memeluk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Nurandiya Firdaus, Kota Subulussalam, Senin (27/7/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Prosesi pengislaman tersebut difasilitasi oleh Forum Dakwah Perbatasan (FDP) Kantor Wilayah Subulussalam/Singkil dan dituangkan dalam Surat Pernyataan Memeluk Agama Islam Nomor: 001/FDP-KWSS/VII/2026.
Berdasarkan surat pernyataan itu, Patar Ferdinand Manurung, pria kelahiran Sidikalang, 19 April 1993, yang sebelumnya beragama Kristen Protestan, resmi memeluk Islam dan menggunakan nama Al Fatih Patar Manurung.
Prosesi pembacaan syahadat dipandu oleh dai Forum Dakwah Perbatasan, Ustaz Alamsyah Edi Syaputra, serta disaksikan oleh Muchlis Pohan, Aris Munandar, dan Asmudin.
Di hadapan para saksi, Al Fatih Patar Manurung menegaskan bahwa keputusannya memeluk Islam lahir dari kesadaran sendiri tanpa adanya tekanan maupun paksaan dari pihak mana pun. Ia mengaku telah lama memperoleh motivasi, perhatian, dan penjelasan mengenai ajaran Islam dari Asmudin, hingga akhirnya hatinya mantap memilih Islam sebagai pedoman hidup.
“Semua ini saya lakukan atas kemauan dan kesadaran saya sendiri. Berkat motivasi dan penjelasan yang diberikan Pak Asmudin, saya semakin mengenal Islam dan akhirnya dengan ikhlas memutuskan mengucapkan syahadat,” ungkap Al Fatih.
Dalam surat pernyataan yang ditandatanganinya, Al Fatih juga menyatakan komitmennya untuk memegang teguh ajaran Islam, mempelajari serta mengamalkannya, membela agama Islam sesuai kemampuannya, dan tetap istiqamah hingga akhir hayat.
Forum Dakwah Perbatasan (FDP) menyampaikan rasa syukur atas bertambahnya saudara seiman. FDP berharap Al Fatih Patar Manurung mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan sehingga dapat memahami ajaran Islam secara utuh dan menjalankan ibadah dengan baik.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa hidayah sepenuhnya adalah milik Allah SWT, sedangkan manusia hanyalah perantara dalam menyampaikan kebenaran. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56).
Ayat ini menegaskan bahwa tidak seorang pun mampu membuka hati manusia kecuali Allah SWT. Karena itu, ketika seseorang menerima hidayah melalui dakwah, nasihat, maupun keteladanan seseorang, maka hal tersebut merupakan karunia Allah yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan besarnya keutamaan menjadi jalan datangnya hidayah. Beliau bersabda:
“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang yang menjadi sebab orang lain mengenal Islam dan istiqamah dalam beribadah akan terus memperoleh aliran pahala dari setiap amal kebaikan yang dilakukan oleh orang yang dibimbingnya, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.
Semoga Allah SWT menjadikan setiap langkah dakwah yang dilakukan dengan keikhlasan sebagai sebab datangnya hidayah bagi banyak manusia. Sebab, tidak ada kemuliaan yang lebih indah selain menjadi perantara yang Allah pilih untuk mengantarkan seseorang menuju cahaya Islam, sementara keyakinan tetap teguh bahwa pemberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)


















































