Jejak Emas Ilegal di Kalbar, Dari Sungai Keruh hingga Kantong Pejabat

TEROPONG BARAT

- Redaksi

Kamis, 14 Agustus 2025 - 02:04 WIB

40559 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Emas sejak ribuan tahun lalu adalah simbol kemewahan, kekuasaan, dan kadang, kehancuran. Ia membuat kerajaan besar tumbuh, tapi juga memicu perang dan pengkhianatan. Di era modern, cerita itu tak banyak berubah, tapi hanya para pelakonnya yang berganti.

Kalimantan Barat hari ini adalah panggung drama lama yang diputar ulang. Berdasarkan data Dinas ESDM Kalbar, ada 600 usaha pertambangan emas di provinsi ini, mayoritas adalah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Fakta di lapangan lebih mengejutkan yakni 1 ton emas per hari diproduksi dari PETI, mengalir entah ke mana, tapi jelas bukan ke kas negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita sering menuding penambang rakyat sebagai biang kerok. Tapi kali ini, jari telunjuk justru harus diarahkan ke atas. Dugaan mengerucut pada dua perusahaan besar yang izinnya untuk bauksit, tapi disebut-sebut ikut menggaruk emas yakni PT Wester Alumina Indonesia dan PT Kalimantan Alumina Indonesia. Distribusinya? Diduga dikuasai oleh seorang tauke bernama Aseng, yang konon punya “payung hukum” dari pejabat daerah.

Inilah ironi yang memalukan, hukum yang seharusnya menegakkan keadilan, malah ditengarai ikut membekingi kejahatan. Dalam kondisi ini, rakyat bukan hanya menjadi korban kerusakan lingkungan, tapi juga korban pengkhianatan amanah negara.

Presiden Prabowo Subianto sudah menegaskan sikapnya bahwa tambang ilegal harus ditutup, negara tak boleh dirampok. Perintah pengambilalihan 300.000 hektare lahan tambang ilegal pada pertengahan 2025 adalah langkah awal. Tapi publik menunggu, apakah keberanian itu akan menyentuh “orang dalam” yang ikut bermain di Kalbar?

Karena jika hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, jika tambang ilegal dibiarkan menjadi sapi perah para tauke dan pejabatnya, maka kita sedang menyaksikan negara dikorup dari dalam, selapis demi selapis, hingga tak tersisa selain kerak kerakusan.

Pertanyaannya sederhana, Apakah negara ini berani melawan emas, atau emas yang akan terus membeli negara?

Berita Terkait

MASIH BERDIRI MESKI BELUM SELESAI
Serunya “Pilkada Mini” di MTs Swasta Sukaramai: Tiga Pasang Calon, 70 Pemilih, dan Drama Suara yang Bikin Deg-degan
SUKARAMAI URUK: WAJAH GERBANG YANG KEHAUSAN
Satu Senja, Dua Perayaan, dan Sejuta Harapan dari Napasengkut
Keran Tersumbat Itu Terbuka Lagi: Tahun 2026 Jadi Momentum Kebangkitan Musik Pakpak
4 Bukti Sejarah yang Menguatkan Hipotesis Asal-Usul Suku Pakpak dari India
Pakpak Bharat 23 Tahun: Saatnya Pemerintah Mendengar Suara Rakyat
Indonesia Sulit Maju Bukan Karena Miskin, Tetapi Karena Salah Mengelola Kekayaan

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:32 WIB

DPAC RANUYOSO GELAR MUSYAWARAH PENGURUS, USUNG TEMA MAJHENG DHEJEH SOLID, BERAKHLAK, DAN BERINTEGRITAS

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Tinjau Pelayanan dan Serahkan Sertipikat PTSL, Senator DPD RI Kunjungi Kantah Bitung

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Jangan Keliru! BPHTB dan PPh Bukan Kewenangan ATR/BPN dalam Peralihan Hak Tanah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Ikut PTSL, Warga Bangka Tengah Rasakan Mudahnya Urus Sertipikat Tanah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Kantah Jembrana Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda, Dorong Generasi Muda Berintegritas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:03 WIB

53.431 Tanah Wakaf Disertipikasi, ATR/BPN Percepat Legalitas Aset Keagamaan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Tanah Warga Tercatat sebagai Aset Negara, Bisa Dikembalikan? UU Reforma Agraria Buka Jalan Pemulihan Hak

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Kajari Tulang Bawang: Kantor Kejaksaan Milik Publik, Tapi Bijak Bermedsos Jangan Potong Rekaman

Berita Terbaru

SUBULUSSALAM

Dua Pelatih Subulussalam Kawal Keshia Solin Menuju Panggung Nasional

Selasa, 27 Okt 2026 - 22:43 WIB