Warga Lae Saga Bantah Jual Lahan Transmigrasi, Polemik Longkib Memasuki Babak Baru

ANTONI TINENDUNG

- Redaksi

Rabu, 22 April 2026 - 16:15 WIB

40715 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Subulussalam, teropongbarat.com. Polemik lahan transmigrasi di Kampong Lae Saga dan Kampong Bangun Sari, Kecamatan Longkib, kian menguat. Sejumlah warga Dusun IV Lae Saga menyatakan tidak pernah menjual lahan yang selama ini mereka garap, meski muncul klaim sebaliknya dalam sengketa yang kini berkembang.

Dalam penelusuran di lapangan pada 20 April, beberapa warga mengaku hanya pernah diminta menandatangani dokumen dalam kegiatan pembukaan lahan pertanian secara gotong royong. Mereka tidak memahami bahwa tanda tangan tersebut diduga kemudian dikaitkan dengan proses jual beli lahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami tidak pernah menjual lahan. Waktu itu hanya disuruh tanda tangan untuk kegiatan kerja bersama membuka lahan,” ujar Jumirun, salah satu warga yang ditemui di kediamannya di Dusun IV.

Menurut keterangan warga, kegiatan tersebut juga melibatkan sistem” upah bagi” sebagian pekerja. Mereka menerima “upah tumbang imas” sekitar Rp1,2 juta, yang dibayarkan dalam dua tahap. Selain itu, warga yang tidak ikut dalam kegiatan gotong royong disebut diwajibkan memberikan kontribusi harian sebesar Rp50 ribu untuk kebutuhan konsumsi pekerja.

Situasi ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Sebagian warga mengaku tidak memahami konsekuensi administratif dari tanda tangan yang mereka berikan saat itu. Mereka baru menyadari adanya persoalan setelah muncul klaim bahwa lahan transmigrasi telah diperjualbelikan.

Kepala Dusun IV Lae Saga, Arwani, saat dikonfirmasi, menyatakan tidak mengetahui adanya praktik jual beli lahan di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung saat itu murni gotong royong pembukaan lahan, bukan transaksi kepemilikan.

“Saya tidak tahu kalau ada jual beli lahan. Setahu saya itu hanya kegiatan bersama membuka lahan. Warga yang tidak ikut memang diminta membantu konsumsi,” ujarnya.

Terkait tudingan intimidasi terhadap warga dalam proses sengketa lahan, Arwani juga membantah. Ia menegaskan bahwa perannya sebatas mengajak warga untuk menemui pihak kecamatan guna mencari solusi atas persoalan yang berkembang.

“Saya hanya mengajak warga untuk menemui camat. Tidak ada intimidasi,” katanya.

Meski demikian, sejumlah warga mengaku merasakan adanya tekanan, terutama ketika polemik ini mulai mencuat ke ruang publik. Mereka berharap ada kejelasan dari pemerintah terkait status lahan transmigrasi yang selama ini mereka tempati.

Pengamat lokal menilai, kasus ini menunjukkan lemahnya pemahaman masyarakat terhadap aspek hukum agraria, sekaligus membuka celah bagi potensi penyalahgunaan dokumen. Dalam konteks wilayah transmigrasi, pengalihan hak atas lahan sejatinya memiliki aturan ketat dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Di tengah situasi yang semakin kompleks, warga Lae Saga diharapkan tetap menjaga persatuan dan tidak terpecah oleh konflik yang belum jelas ujungnya. Kejelasan hukum dan keterbukaan informasi dinilai menjadi kunci untuk meredakan ketegangan yang kini mulai meluas.

Polemik ini pun menjadi ujian bagi pemerintah daerah dan aparat terkait untuk hadir secara objektif, memastikan tidak ada pihak yang dirugikan, serta menegakkan aturan sesuai ketentuan yang berlaku.(*).

Berita Terkait

Dua Pelatih Subulussalam Kawal Keshia Solin Menuju Panggung Nasional
Kantor Pertanahan Subulussalam Serahkan 90 Sertipikat PTSL kepada Warga Desa Pegayo
PT Asdal Prima Lestari Disomasi Ketiga, PPP TPA Bawan Ultimatum Penyelesaian Hak Guru Ngaji
89 Sertipikat PTSL Diserahkan di Desa Bawan, Kantah Subulussalam Dorong Kepastian Hukum Hak Atas Tanah
90 Sertipikat PTSL Diserahkan di Desa Pegayo, Kantor Pertanahan Subulussalam Tegaskan Pentingnya Kepastian Hak Atas Tanah
Revitalisasi SD Kuta Cepu Disorot, Spesifikasi Material dan Pekerjaan Diduga Tak Sesuai RAB
Revitalisasi SD Negeri UPT XV Buluh Carak Disorot, Pagu Rp1,18 Miliar Diduga Tak Transparan
TK Syaifullah Sultan Daulat Disorot, Kepala Sekolah Tidak Mengenal Siapa Ketua P2SP Di kegiatan Revitalisasi Dia

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:50 WIB

Lapas Labuhan Ruku Gelar Tausyiah Kerohanian Islam bagi Warga Binaan Wanita

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:16 WIB

Belajar dari Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Susun Strategi Percepatan Energi Terbarukan RI

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:27 WIB

Evaluasi Program Prioritas Kapolri, Wakapolda NTB Tekankan Peningkatan Kinerja dan Harkamtibmas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:13 WIB

Sambut Hari Listrik Nasional, PLN Berikan Kemudahan Tambah Daya Listrik bagi Pelanggan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Peningkatan SDM Masyarakat dan Masadepan Indonesia berada ditangan Presiden RI

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:19 WIB

Wakil Bupati Batu Bara Ajak Guru Bersatu Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Perangi Narkoba*

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Wali Kota Tanjungbalai Dukung Kegiatan ANANDA BERSINAR Goes To School, Wujudkan Generasi Emas Tanjungbalai Yang Sehat, Cerdas dan Bersih Dari Narkoba

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:59 WIB

Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Pemusnahan Bersama Barang Menjadi Milik Negara (BMMN) dan Barang Bukti Yang Berkekuatan Hukum Tetap oleh Bea dan Cukai serta Kejari Tanjungbalai

Berita Terbaru